“Apa cita-cita terbesar lo saat ini, Ra?” tanya Aulia ketika mereka sudah berada di dalam sebuah mobil grab yang mereka pesan, dan tujuan keduanya saat ini adalah.
Rumah Aira.
Gak tahu kenapa Aulia ingin menginap di rumahnya.
“Menyingkirkan Ryano dari muka bumi ini!” Ucap Aira yakin dan mantap.
“Buset, itu keinginan lo psikopat bener!” celetuk Aulia tak percaya dengan cita-cita orang di sampingnya. “Jangan benci gitu elah, ntar suka ribet! Benci sama cinta beda tipis, mba!” Aulia menasehati Aira walau membuat Aira mendengus memutar bola matanya.
“Mirror! Lo juga gak jauh beda yah benci sama Kak Mark!”
“Stop! Benci gue sama elo beda konsep!” Aulia mengangkat kedua tangannya berbentuk silang tidak setuju dengan opini Aira.
Sedangkan Aira hanya mencibir kecil tak peduli. Ia juga heran kenapa bisa sebenci itu dengan Ryano, padahal ia pernah menyukai Ryano.
“Awal mula si Ryano jadi tengil ke elu gimana sih, Ra?” tanya Aulia penasaran, soalnya dia anak baru jadi wajar aja nanya begitu.
Aira tampak berfikir mengingat potongan momen-momen kampret ia dengan Ryano, dan mengapa ia jadi terjebak oleh terror Ryano.
“Ntah, gue juga gak ingat! yang gue ingat Ryano pernah dihukum bareng sama gue.” Aira mengingat awal sejarah ia berkenalan dengan Ryano.
“And then?” tanya Aulia masih penasaran.
“I’m sorry, gue gak ingat! intinya itu awal mulanya!” Jawab Aira walau tersentak ketika ia ingat satu moment yang hampir pernah ia lewatkan.
“Li!”
“Hm?”
Aira seketika menoleh dengan raut wajah serius kepada sahabatnya itu. “Lo gak bisa minum es kenapa?” tanya Aira seketika merasa penasaran.
“Gue ada sakit Amandel, Cuma gak parah-parah amat sih!” jawab Aulia bingung.
“Kalau ada orang tiba-tiba kesakitan megang perutnya sampe pucat gara-gara gak bisa makan pedas itu kenapa?”
“Mencret kali!” jawab Aulia spontan, walau heran dengan ekspresi Aira yang berubah sangat serius.
“Bukan, ish! Masalahnya gak kaya begitu Li! Orang ini pucatnya bukan karna mencret, karna dia bisa aja pingsan tiba-tiba—”
“Lo bahas penyakit siapa sih?” tanya Aulia tak tahan melihat ekspresi cemas dari Aira.
“Ah— gak ada! Gue lagi halu!” jawab Aira cepat cengengesan hampir aja keceplosan nyebut nama Ryano.
*
Ryano berjalan membuka pintu kayu bercat putih rumahnya yang seketika disuguhi pemandangan Mamahnya yang sedang nonton sinetron adzab yang sangat-sangat membuat Ryano heran.Sepertinya Drama korea lebih menarik dan mendidik dibandikan sinetron yang sedang dilihat Ibunya.
“Assalammualaikum, Mah!”
“Waalaikumsalam!” jawab si Mamah tanpa mengalihkan atensinya pada televise.
“Mah, kata temanku Drama Korea lebih enak loh Mah, Mamah coba deh nonton Snowdrop yang main Mba Jisoo, buseet cakep bener Mah! Filmnya keren lagi!” Ryano mulai mencuci otak sang Mamah agar mencoba hobi baru sepertinya yang diam-diam nonton drakor.
“Gak, mamah gak mau nonton plastik!”
Sumpah, Ryano refleks hampir mengumpat kalau tidak sadar yang ngomong itu adalah Mamahnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Is Still Just?
Teen Fiction"Kenapa cewek-cewek suka cowok Bad boy?" Tanya Aira menatap cowok di sampingnya yang sudah babak belur berkelahi dengan anak sekolah depan. "Karna cowok Bad Boy itu ganteng!" jawab Ryan cepat buat Aira menggeleng tidak setuju. "Kalau cowoknya penyak...