07

147 29 7
                                    

Seorang pria yang mengenakan baju prajurit kerajaan darat menghela nafas panjang setelah ia menangkap tubuh putri Seulgi yang lagi-lagi berusaha bunuh diri. Ia menurunkan putri Seulgi dengan tatapan khawatir.

"Tuan Putri." Pria itu berjongkok memberi hormat. "Tolong jangan melakukan hal berbahaya lagi, Anda adalah harta istana darat." Prajurit itu tak berani mengangkat kepalanya.

Kaki putri Seulgi menendang prajurit itu hingga tersungkur. Tak ada yang berani menolongnya. Dengan langkah lebar-lebar Putri Seulgi mengambil salah satu pedagang milik prajurit yang menjaga bawah balkon kamarnya, ia mengacungkan pedang itu ke arah prajurit yang tersungkur tadi.

"Lawan aku. Aku butuh hiburan malam ini." Putri Seulgi tersenyum miring.

Suara daun pintu yang diketuk membuat Renjun berdiri dan membukanya. Segera setelah daun pintu itu terbuka, pria bungsu itu mendapatkan pelukan hangat dari kakak lelakinya. Beberapa permintaan maaf atas naga yang digunakan untuk mengangkut mutiara danau hitam terucap dari bibir Chanyeol.

"Kita punya tamu." Renjun tersenyum ke arah Jaemin.

Mata Chanyeol dan Wendy sedikit terbuka lebih lebar saat melihat Jaemin yang kini sudah tumbuh besar setelah bertahun-tahun mereka tidak pernah bertemu. Dulu, ada peraturan raja yang memutuskan ikatan antara keturunan raja pertama dan para manusia terbang yang merupakan para kesatria pelindung raja pertama secara turun-temurun. Ikatan istimewa itu dihapuskan kemudian para manusia terbang membuat desa-desa di pegunungan atau perbukitan.

Jaemin adalah anak manusia terbang yang sempat dititipkan oleh ayah ibunya pada keluarga Tuan Black saat perang saudara antara manusia terbang pecah pada kepemimpinan raja terakhir kerajaan darat hingga situasi aman setelah pemenggalan kepala raja yang dilakukan oleh manusia terbang. Perang saudara itu dipicu ketidakadilan yang terjadi kepada manusia terbang dan terbentuknya dua kubu yang berbeda karena surat kiriman dari raja.

Ketidakadilan yang terjadi pada manusia terbang adalah mereka diperlakukan berbeda dari manusia darat spesies lain bahkan saat itu ada peraturan raja yang mengharuskan mereka berdiam diri di rumah saat malam telah tiba, tidak boleh berhubungan dengan keturunan raja pertama, tidak boleh datang ke tempat jual beli, tidak boleh datang ke perayaan hari-hari besar, tidak boleh datang ke acara-acara di Istana Darat yang diadakan untuk rakyat umum, dan tidak boleh bersekolah. Peraturan itu membuat mereka kesulitan untuk mencari makan, terasing di negeri sendiri, dan kesulitan dalam pendidikan anak-anak mereka. Hal-hal itu telah mencapai puncaknya ketika seorang remaja dari spesies mereka secara sembunyi-sembunyi mendatangi sekolah karena ingin belajar dan berteman dengan salah seorang murid di sana. Informasi tentang remaja itu bocor ke pihak istana karena ada mata-mata yang berasal dari spesies mereka sendiri.

Suatu malam, mata-mata spesies manusia terbang yang menjadi agen ganda sebagai petinggi di kelompok spesies itu dan menjadi mata-mata istana telah tertangkap. Akhir hidup dari mata-mata itu telah ditentukan setelah melewati persidangan panjang.

Hari eksekusi telah tiba. Puncak gunung bersalju dengan sebuah pohon besar yang memiliki batang melengkung bak bulan sabit adalah tempat eksekusi itu dilaksanakan. Para manusia terbang berdiri di sekitar pohon itu. Sayap-sayap hitam putih, berpasang-pasang mata tajam, salju, udara dingin, isakan tangis, permohonan maaf, suara tali yang mengikat leher, suara gesekan tali dan cabang pohon, serta rintihan kesakitan sebelum ajal menjemput. Hari itu, si mata-mata telah dihukum gantung, mayatnya dibiarkan begitu saja tergantung di sana. Tak beberapa lama puncak gunung itu kembali sunyi setelah para manusia terbang mengepakkan sayapnya untuk pulang.

Beberapa hari dari pelaksanaan hukuman mati si mata-mata, spesies manusia terbang terbagi menjadi dua kubu setelah beberapa prajurit utusan dari Istana Darat memberikan sebuah surat yang berisi penghapusan peraturan Raja yang sebelumnya membuat para manusia terbang kesulitan namun dengan syarat mereka bersedia menjadi kesatria pelindung raja. Dua kubu itu sering berselisih dan akhirnya memutuskan hidup terpisah selama beberapa bulan sebelum perang saudara di antara mereka terjadi.

Tak seperti yang diharapkan raja yang memang ingin memecah belah para manusia terbang, perang saudara itu berujung pada kesepakatan damai dan bersatu kembali sehingga para manusia terbang menjadi lebih kuat. Hari dimana kepala raja dipenggal oleh seorang manusia terbang serba putih adalah hari dimana hujan deras sedang turun. Saat itu langit menjadi gelap karena semua manusia terbang dewasa merentangkan sayap mereka menutupi langit. Hujan yang begitu deras sore itu bahkan hanya beberapa tetes saja yang berhasil sampai ke permukaan tanah.

Seolah malam telah tiba lebih cepat dari biasanya, suasana berubah menjadi mencekam dan hening. Para manusia terbang itu mengikuti arahan dari seorang manusia terbang yang memiliki tampilan serba putih, berperawakan tinggi besar dengan mata nyalang berteriak memekakkan telinga sambil mengacungkan pedangnya ke arah istana es, ke arah istana darat.

Ditengah suasana mencekam itu banyak orang yang bersembunyi ketakutan. Mereka menyembunyikan anak-anak mereka di bawah tanah tak terkecuali Wendy, Renjun, dan Jaemin yang menangis tanpa suara saat Chanyeol yang saat itu masih remaja berkata bahwa ia harus menjaga rumah yang berada di atas ruangan bawah tanah karena itu adalah pesan ayah mereka. Wendy yang baru berumur belasan tahun saat itu begitu ketakutan, ia berkali-kali berkata bahwa ia takut Chanyeol maupun ayah mereka menyusul ibu mereka sambil menangis.

"Wen. Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Tolong mengertilah, tolong jaga adik-adik kita." Ucap Chanyeol sebelum ia menutup pintu rahasia menuju ruang bawah tanah.

Ingatan mencekam itu membuat mereka terdiam beberapa saat sambil memandangi Jaemin yang duduk di samping manusia terbang serba putih, benar-benar mengingatkan akan pemimpin manusia terbang saat itu namun gadis di samping Jaemin itu sama sekali tak terlihat garang justru terlihat sangat rapuh. Chanyeol dan Wendy bergantian bersalaman dengan gadis serba putih dan Jaemin.

"Apa yang terjadi?" Tanya Wendy.

Jaemin lalu menjelaskan pertemuannya dengan gadis serba putih yang kini dengan takut-takut melihat Wendy yang sedang tersenyum kepadanya. Gadis itu beberapa kali melirik jam dinding yang terpasang di samping perapian.

"Kamu ingin pulang?" Jaemin berusaha membuat suaranya selembut mungkin agar gadis itu tak ketakutan.

Gadis itu mengangguk ragu-ragu. "Aku tinggal di desa pengungsian perang antara manusia terbang dan raja Darat. Aku murid sekolah menengah 01, namaku Winter. Tuan-tuan, bisakah aku meminta tolong diantar pulang? Aku takut pulang sendirian." Gadis itu membungkukkan badannya.

"Aku akan menemanimu pulang bersama Jaemin. Sekarang sudah sangat larut, lebih baik kalian berdua menginap di sini. Besok aku akan mengantar kalian pulang sebelum aku pergi ke istana Darat." Chanyeol tersenyum pada Jaemin namun pria itu seperti risih.

Wendy menyenggol lengan kakaknya. "Jaemin sudah menjadi pria yang gagah berani, dia bukan adik kecilmu lagi Kak." Gadis itu mengerti arti tatapan risih Jaemin.

Malam yang damai mengantarkan Wendy pada beberapa penggal kisah mimpi. Seorang pria bermata tajam yang sedang melukis peperangan dan ia memamerkan lukisannya di tengah alun-alun kerajaan. Wendy hadir pada pameran itu, ia berdiri di garis depan. Ia merasa ada air yang terjatuh di atas pipinya sehingga ia mendongakkan kepalanya namun ternyata itu adalah tetesan darah dari seseorang yang memiliki sayap putih, leher orang itu disayat oleh sebuah pisau yang dipegang oleh seorang bersayap hitam. Dari kejauhan, seorang bersayap hitam yang lain terbang melesat menghunuskan pedangnya tepat pada jantung orang yang membawa pisau tadi namun Wendy tak mengerti, akhirnya kedua orang bersayap hitam itu berpelukan. Seseorang bersayap putih dengan leher berdarah terjatuh dari langit, Wendy menangkapnya dan ia jatuh terduduk di sebuah tanah luas dengan lembaran emas persis seperti lantai kamar ayahnya. Wendy mengambil beberapa emas itu kemudian melihatnya dengan seksama. Sepasang kaki tanpa alas berhenti di hadapannya, itu ibunya. Wendy tak bisa berkata apapun saat ibunya membantunya untuk berdiri. Mereka berdua berjalan di atas jalan berwarna putih, dingin, ini salju. Sebuah gerbang terbuka menampakkan sebuah singgasana. Ibu Wendy meminta putrinya duduk di sana dan ia memasangkan sebuah mahkota berwarna perak dengan hiasan batu-batu mulia di atas kepala putrinya.

"Putriku, jadilah orang yang tegar." Ucap sang Ibu.

The Blood Of First KingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang