7. 'Jaehyuk dengar gak?'

2.2K 404 58
                                    

Terhitung sudah dua minggu ini Jaehyuk sibuk. Persiapan ujian kelulusan, ah jangan lupakan kelas tambahan dan antek-anteknya.

Banyak banget. Sampai pusing kepala Jaehyuk.

Hari ini ia pulang lebih larut. Dari sekolah ia pulang sampai sore dan di lanjut les tambahan. Padahal otak dia sudah encer, tapi mamahnya tetap kekeuh buat dia ngambil les tambahan.

Sebelum masuk ke kamar, ia menyempatkan diri ke kamar yang sebelumnya milik sang kakak. Ia mengetuknya pelan dan langsung di buka oleh Asahi.

Asahi tersenyum manis. "Jaehyuk sudah selesai belajarnya?"

Jaehyuk mengangguk, ikut tersenyum mana kala senyuman Asahi semakin mengembang. Ah obat lelahnya selama dua minggu ini adalah senyuman khas pemuda manis ini.

"Jaehyuk sudah makan?"

Kali ini gelengan yang menjadi jawaban putra kedua mamah Yoon tersebut. "Belum, Jaehyuk gak sempat makan di tempat les."

Asahi hanya mengangguk paham, selama dua minggu ini ia banyak sekali belajar. Itu pun berkat mamah Yoon yang begitu sabar mengajarkan banyak hal padanya.

Memang karena dasarnya Asahi yang cepat tanggap, dia jadi hampir seimbang dengan otak encernya Jaehyuk. Yang membedakan hanya cara pergaulan, ya karena mau bagaimanapun Asahi tetap jelmaan manekin yang sangat polos.

"Mamah Yoon bilang, kalau Jaehyuk lapar, Jaehyuk bisa buat makanan intan."

Jaehyuk tertawa pelan, manekinnya masih belum terbiasa dengan bahasa asing dan juga sering sekali mulut Asahi typo. "Instant sahi." Ralatnya.

"Hehehe itu maksud sahi!" Asahi menampilkan cengiran lucunya, malu juga karena salah pengucapan.

"Hari ini belajar apa sama mamah?"

"Eummm..." Asahi bergumam panjang, dia lupa nama pelajaran yang di pelajarinya hari ini. Menggunakan bahasa asing jadi Asahi sedikit ragu menyebutkannya. "Cookang?"

Jaehyuk kembali tertawa, astaga dia sampai terbatuk-batuk karena Asahi yang lagi-lagi salah dalam pengucapan. "Bukan cookang sahi, tapi cooking. Sahi tau kan arti cooking?"

"Memasak!" Balas Asahi dengan semangat.

"Pinter," Jaehyuk mengusap pucuk kepala pemuda manis di depannya dengan gemas. Seperti jadi sebuah kebiasaan setiap bangga dan gemas pada tingkah sang manekin. "Berarti sahi bisa dong masakin Jaehyuk?"

"Bisa!"

"Masak apa?"

"Emm sebentar," Asahi kembali memprogress ingatannya, ugh menyulitkan sekali jika harus menyebutkan kata asing yang jelas tak pernah ia dengar atau ia pahami.

Asahi yang tengah berfikir membuat Jaehyuk semakin gemas, pasalnya pemuda manis itu jika tengah berfikir selalu menatap ke atas dan kadang sampai tak sadar jika tengah memajukan bibirnya.

"Ah! Namanya omnet!"

Jaehyuk sudah tak tahan, dia kembali menyemburkan tawanya. Sedangkan Asahi sendiri kini tengah merengut kesal, kan dia masih belajar wajar dong jika salah.

Jaehyuk pun menghentikan tawanya, ia mengusak gemas pucuk kepala Asahi lagi. "Omlette sayang, bukan omnet." Kata Jaehyuk dengan suara yang sangat lembut.

•••

Paginya, Asahi sama Jaehyuk sudah berada di meja makan. Tengah sarapan dengan nasi dan lauk pauk yang sudah di sediakan oleh ART.

Mamah Yoon belum pulang dari Australia, jadilah mereka hanya berdua.

"Sahi, mau ikut ke sekolah gak?" Tanya Jaehyuk, dia sudah selesai dengan sarapannya.

Asahi yang masih mengunyah perlahan menelannya, ia menatap pemuda tampan itu dengan kerutan bingung. "Sekolah? Bukannya sahi gak sekolah di sana? Jadi sahi gak bisa ke sana." Tuturnya.

Memang dari sebelum-sebelumnya, Asahi pernah merengek ingin ikut Jaehyuk sekolah, karena dia juga bosan di rumah terus. Tapi, mamah Yoon bilang 'gak bisa karena Asahi tidak bersekolah di sana, takutnya Asahi di tendang keluar, emangnya mau?'

"Hari ini gapapa, sahi bisa ke sekolah Jaehyuk. Ada banyak makanan yang di jual loh, yakin sahi gak mau ikut?"

Hari ini memang ada acara ulang tahun sekolah, kegiatan belajar di liburkan selama seharian penuh, digantikan dengan kegiatan menyenangkan lainnya dan tentu akan banyak stan makanan dari setiap kelas. Yang paling penting ini di buka untuk umum, ya kan siapa tahu saja ada yang minat buat masuk sekolah Jaehyuk.

Asahi yang mendengar ada kata 'makanan' matanya langsung berbinar. "Makanan banyak?"

Jaehyuk mengangguk. "Iya, sahi mau ikut?"

"Mau!" Asahi berseru dengan semangat, ah makanan sahi bakal datang nanti. Tunggu ya nanti sahi yang bakal habiskan.

Karena Asahi juga sudah mandi dan memakai pakaian yang rapi, Jaehyuk pun langsung mengamit tangan manekinnya, berdiri dan langsung keluar dari ruang makan.

Saat sudah di depan garasi, Jaehyuk terdiam. Ini motornya pergi ke mana? Hanya tersisa mobil miliknya yang bahkan jarang sekali ia gunakan.

Lalu tiba-tiba ia melirik secarik kertas yang berada di depan kaca mobil sport miliknya. Ia pun mengambilnya. "Pinjem motor dulu, nanti kakak balikin kalo inget,"

Tanpa tahu nama pun, Jaehyuk sudah tau siapa yang mengambil motornya, tapi sejak kapan coba di ambilnya. Ia pun menoleh ke arah Asahi yang terlihat sangat excited.

Jaehyuk tertawa, "Gak sabar ya ke sekolahan Jaehyuk?"

"He'em! Sahi mau makanan yang banyak hehehe."

Lagi, Jaehyuk kembali tertawa. Ia pun segera menuntun Asahi untuk masuk ke mobil. Setelah Asahi masuk, Jaehyuk langsung berlari kecil untuk masuk ke sisi pengemudi.

Karena tak pernah digunakan, kunci mobilnya saja sudah berada di tempatnya. Lagian kalau ada yang mau ngambil silahkan saja, dia saja jarang menggunakannya. Lebih tepatnya tidak tertarik.

Jaehyuk belum memakai sabuk pengamannya, ia menoleh dulu ke manekinnya. Lalu tanpa aba-aba dia langsung mendekatkan diri ke Asahi.

Menarik sabuk pengaman di sisi Asahi, tangannya yang bekerja, tapi tatapannya tak bisa lepas dari pahatan indah di depannya.

Asahi benar-benar definisi cantik tanpa celah sedikitpun.

Keduanya saling memandang cukup lama, padahal Jaehyuk sudah berhasil memasangkan sabuk pengaman Asahi, namun dia belum mau memundurkan wajahnya sama sekali.

Jaehyuk melihat ke arah bibir Asahi yang terlihat berwarna merah muda cerah. Entah dorongan dari mana ia mencoba semakin mendekatkan dirinya ke Asahi. Bahkan Asahi secara alami menutup kedua kelopak matanya.

Ting! Notif ponsel Jaehyuk berbunyi secara berulang-ulang. Membuatnya mau tak mau menjauhkan dirinya dari Asahi, ia berdecak kesal setelah tahu siapa yang mengirimi spam chat padanya. Junkyu, ya memang siapa lagi.

Jaehyuk menoleh ke arah manekinnya yang masih menutup matanya, Asahi terlihat menggemaskan ketika wajahnya total memerah hingga telinganya.

"Jaehyuk." Panggil Asahi pelan, masih dengan menutup matanya.

"Kenapa sahi?"

Asahi perlahan membuka kelopak matanya, melihat ke arah pemuda tampan yang sudah menjauh darinya kemudian menunduk malu, sambil memainkan ujung kemeja yang ia kenakan. "Jantung sahi berisik, Jaehyuk dengar gak?"

Lantas Jaehyuk mengusak pucuk kepala si manis dengan gemas. Ia tertawa pelan mendengar penuturan manekinnya.

Bukan hanya Asahi yang merasa jantungnya berisik, Jaehyuk juga kok.

•••

EKHEM! Maaf kemaren gak update, huhuhu aku butuh jeda sehari-dua hari kayaknya, biar kalian gak gumoh hehehe

Ayo vote sama komen biar aku lanjut nih ceritanya!













Salam Gami!

Manequin | JaesahiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang