꒰⚘݄꒱Carlie?

945 192 70
                                    

Hingga detik ini, Jean selalu menolak permintaan [Name] untuk membawa dirinya ke restoran yang mempekerjakan tentara Marley. Namun, Sasha datang bak seorang pahlawan. Menawarkan [Name] tumpangan ke restoran tersebut lantaran gadis itu rindu masakan seorang koki hebat di sana.

Tak memperdulikan dengan siapa ia akan pergi, [Name] menerima tawaran gadis kentang itu dengan senang hati; bahkan ia mengabaikan segala tingkah Aster yang begitu berusaha mencuri perhatian Jean yang selalu membuat [Name] risih. Terserah wanita itu mau berbuat apa, toh ujung-ujungnya [Name] lah yang akan menang kelak.

Perlu kalian garis bawahi, ketika gadis ini sudah percaya diri, rasa percaya dirinya akan tinggi sekali. Bahkan tingginya rasa percaya [Name] bisa melebihi tinggi dinding Maria yang mengurung penduduk Paradis, atau justru lebih tinggi lagi?

"Dokter [Name], apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Sasha memecah keheningan di dalam perjalanan santai mereka.

Jadwal [Name] sedang tak padat karena dokter Rose sudah kembali begitu pun sebaliknya dengan Sasha. Gadis itu mendapatkan jadwal cutinya.

"Silahkan, dan tolong panggil aku [Name] saja. Rasanya canggung sekali jika kau mengikut sertakan profesiku," koreksi [Name].

Kepala gadis mahoni itu mengangguk. "Baiklah!"

Kuda masih berpacu dan Sasha berdehem.

"Kau dan Jean, apa Jean bersikap aneh padamu?" tanyanya.

Pertanyaan Sasha sontak membuat [Name] menghela nafas. Membahas mengenai sikap Jean, ya? Ah, pemuda itu tak ada baik-baiknya pada [Name] meski ia sudah mendapatkan maaf darinya.

"Dia anak yang nakal," ujarnya penuh konotasi bercanda.

Kedua mata Sasha mengerjap memperhatikan padang rumput luas yang akan mereka lalui. "Apa kau bisa membuat dia berhenti merokok? Saat berkumpul bersamaku dan Connie, dia selalu bersama tembakaunya. Aku bahkan pernah menamparnya karena kami berdebat perihal rokoknya itu dan akh! Dia tetap merokok." Sasha terdengar begitu frustasi.

Bingung, [Name] terkejut dengan cerita Sasha. "Jika boleh tahu, sejak kapan dia merokok?"

Sasha berpikir, mencoba mengingat-ngingat seluruh hal yang pernah ia lalui bersama Jean. "Mungkin sejak Carlie meninggal. Jean tampak terpukul dengan kematian Carlie."

"Carlie itu ... siapa?" tanyanya.

Mendongak, Sasha memperhatikan langit biru Paradise yang sangat indah. Di atas sana, awan begitu cerah dengan matahari yang bersembunyi di balik awan untuk sesaat. Kembali menunduk, pandangan Sasha menyendu. "Jean sempat dekat dengan Carlie dulunya. Namun, gadis itu mengalami insiden mengerikan yang membuatnya merenggang nyawa," jelas Sasha.

[Name] mengerutkan keningnya. "Apa yang dia alami dan kapan dia meninggal?"

"Dia diculik dan dibunuh karena konflik keluarganya. Carlie meninggal satu tahun yang lalu."

Terdiam, [Name] membelakkan kedua matanya. Jean ... sebenarnya ada berapa banyak orang baru di dalam hidupnya? Mikasa, Carlie, apa tak ada namanya yang bisa tersemat di dalam hidup pemuda itu? Ada, tetapi tidak terlalu mencolok dan selalu terkesan diabaikan. Seperti:

"Kau hanya teman masa kecilnya."

"Dia hanya teman masa kecil kapten Jean."

Sialan sekali.

Baiklah, sepertinya [Name] harus berbicara banyak dengan Jean setelah ini.

"Apa Jean menyukai Carlie?" Sasha tertohok mendengar pertanyaan [Name]. "Ceritakan saja, Sasha."

𝐏𝐑𝐎𝐌𝐈𝐒𝐄 || Jean Kirstein || FAP ✔︎Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang