Seorang gadis bersurai pink tengah duduk termenung di tempat tidurnya, ekspresinya terlihat sedih dan sayu. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. seorang pria berjalan mendekat sambil memegang nampan berisi makanan, lalu meletakkan di nakas dan menatap gadis yang duduk termenung itu.
"Kau harus makan. Kau akan semakin lemah jika tidak makan," kata pria itu dengan khawatir.perempuan itu memandang sang pria dengan senyum lembutnya walau wajahnya saat ini tertutup kain putih. Tujuannya agar sang pria tidak terlalu khawatir terhadapnya.
"Aku baik-baik saja Gio, nanti aku akan makan. Justru yang harus dikhawatirkan adalah keadaan Marc," tatapan sedih dari perempuan itu kembali lagi. "Dia sepertinya sedang tertekan, aku takut dia akan semakin tertekan jika khawatir dengan keadaanku," lanjutnya.
pria yang dipanggil 'Gio' itu menghela napas, pikirannya tengah bingung sekarang. Lalu Gio duduk di sisi tempat tidur milik perempuan tersebut.
"Dia tertekan karena tidak bisa melihat keadaanmu Aria. Kenapa kau tidak memperbolehkannya masuk saja?"
'Aria' nama sang perempuan itu. Dia terdiam beberapa saat, tengah menunduk sambil mengingat kenangan masa lalunya.
"Aku sudah merawatnya sejak dia kecil sampai dia tumbuh remaja seperti sekarang. Dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri, aku tidak ingin dia melihat keadaanku yang semakin menua ini," jawab Aria dengan pelan.
"Hah, dasar nenek lampir padahal seingatku kau ini penyihir dan seharusnya kau abadi dan tidak menua," komentar Gio sambil mengusap dagunya dengan pose berpikir.
Aria menatap tajam Gio dengan perkataan sarkatisnya. "ini semua gara-gara kau juga, Gio! Aku sudah menolongmu saat kau sekarat dan kau tidak berterima kasih padaku dan malah mengatakanku nenek lampir!?"
Gio terlonjak kaget mendengar perkataan Aria, pria itu menggaruk tekuknya yang tidak gatal. Bingung harus merespon perkataan Aria. "Kekuatanku juga terkuras saat ini, kemungkinan besar kita berdua harus pergi jauh dari kota ini dan bersembunyi di tempat yang aman selagi kita memulihkan kekuatan kita masing-masing,"
Aria menunduk menimbangkan ucapan Gio. "Kau benar Gio, sepertinya aku harus terpaksa melepaskan Marc. Aku tidak mau dia sendirian disini selama kita pergi. Tolong panggilkan Cam agar aku bisa memberi pesan pada Marc," pintanya.
Gio terdiam agak ragu dengan perkataan Aria, masalahnya Gio pun sudah bicara dengan Marc beberapa hari yang lalu tapi Marc tetap bersikeras untuk tinggal dirumah ini meski ia dan Aria akan pergi jauh ke suatu tempat.
Tapi tanpa berkata apa pun lagi, Gio pergi memenuhi permintaan Aria. Dia akan sekali lagi berbicara pada Marc meski ia tahu kalau Marc saat ini sedang mengurung diri di kamar dengan perasaan sedih.
[Grey Hospital 5 P.M]
suara beberapa langkah kaki yang berlalu lalang di sebuah lorong rumah sakit terdengar sangat jelas, beberapa suster,pasien, maupun dokter tampak hilir mudik disana.Seorang gadis bersurai hitam gelap sepunggung tengah berjalan santai sambil memegangi beberapa laporan rumah sakit, matanya beberapa kali melirik pintu kamar pasien yang dilewatinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Seven Deadly Sins
FantasiaSejak kecil Eva Scarlett selalu diajarkan untuk tidak percaya dengan yang namanya takhayul atau hal-hal yang supernatural seperti dengan keradaan vampir, werewolf, penyihir, maupun demon. Tapi sejak adiknya menemukan seekor Hellhound di sekitar ruma...