Chapter 8

1.5K 128 12
                                    

Silahkan klik bintang di pojok kiri bawah ya, biar semangat hihi^^

⚠🍴🍴️⚠️


Sejak sore tadi memang cuaca sudah mendung gelap sekali. Walau belum turun hujan tetapi angin kencang terus saja bertiup.

Di sebuah ruang makan yang sedikit gelap itu, hanya tersorot lampu cadangan. Dua orang sedang duduk berhadapan dengan masing-masing piring di depan mereka, berisi spaghetti carbonara yang tersaji cantik dan masih hangat. Asap yang masih mengepul menyebarkan aroma sedap yang mengisyaratkan untuk segera melahapnya habis. Sangat menggiurkan!

"Apa yang kau rencanakan?" Justin meletakkan sendok yang baru saja berjasa menyuapi secarik spaghetti itu ke dalam mulutnya. Ia menatap datar Ray dan seketika itu pula terpancar senyum yang agak ambigu. Ray bergidik ngeri.

"Aku tidak mengerti, Ray. Kau bicara apa?" tanya Justin sok tidak tau dengan wajah tanpa rasa bersalah. Tentu saja karena memang kita belum tau apa kesalahan yang diperbuat olehnya.

"Jangan pura-pura tidak tau!! Pesan yang kau kirim tadi sore, apa maksudnya?!" tanya Ray penuh selidik. Memang selama tiga hari penuh ini Ray tidak bisa berbuat apa-apa karena kehadiran Justin ternyata begitu sangat mengganggu. Apalagi sekarang ini segala sikap dan perilaku Ray dibatasi olehnya. Mungkin itu masih bisa Ray maklumi. Tetapi membaca pesan tadi sore, benar-benar membuat Ray marah. Justin boleh-boleh saja melarang Ray melakukan aktivitasnya sehari-hari, tetapi tidak dengan rencana yang dimiliki.

"Pesan? Aku mengirim pesan apa?"

"Sial!! Jangan mengelak. Apa perlu ku kasih lihat buktinya?"

"Hahaha! Aku hanya bercanda, Ray. Jangan marah." Justin terkekeh dan mengambil segelas air putih. Ia meneguknya pelan-pelan, membuat jakun di lehernya bergerak naik-turun mengikuti irama air yang mengalir. Ray yang melihat itu memalingkan wajahnya dengan alis mata berkerut. "Menjijikkan!!"

"Apa?" tanya Justin mendengar gumaman Ray.

"Tidak!"

Justin tersenyum dan meletakkan gelas itu. Tiga detik setelahnya tiba-tiba Ray merasakan tekanan yang begitu besar sampai-sampai tubuhnya merinding. Ia menatap Justin dan benar saja. Justin sedang menatap penuh intimidasi. "Apa... yang kau rencanakan, Ray?"

"...apa?" kernyit Ray tidak mengerti maksud Justin.

"Kau menolak pulang bersama, kau juga mengatakan ada sesuatu yang harus dilakukan. Apa itu?" tanya Justin.

Ray mengeratkan giginya. "Kenapa kau ingin tau?" tanya Ray balik, tidak mau kalah.

"Sekarang kau adalah tanggung jawabku. Aku harus tau semua yang kau lakukan. Jadi beritahu aku, apa rencanamu?"

"Apa maksudnya dengan tanggung jawab? Kau datang begitu saja tanpa bilang padaku, bahkan sebelumnya aku juga tidak pernah sekalipun memberitahukan di mana tempat aku tinggal. Bagaimana kau bisa tau? Atau... ada seseorang yang menyuruhmu melakukan ini?" tebak Ray tepat sasaran. Justin yang merasa tertohok hanya bisa mengangguk. "memang benar ada seseorang di belakangku, tapi setelah melihatmu langsung, membuat aku ingin mengurusmu sendiri, terlepas dari perintah orang itu." Justin melanjutkan makannya.

"Siapa orang itu?" tanya Ray.

"Nanti kalau sudah tiba waktunya, kau akan tau sendiri." Ray terdiam karena hanya dengan jawaban itu saja, sudah bisa dipastikan kalau Justin sudah tidak ingin melanjutkan pembicaraan. Karena pihak sanalah yang kuat dan kokoh, terpaksa Ray mengalah dan mengakhirinya juga.

"Tua sial!!"

***

Ray duduk termenung di kamarnya. Kamar dengan sedikit kenangan karena dia tinggal di villa itu belum lama ini. Baru sekitar delapan atau sembilan tahun setelah ia melarikan diri dari rumah mendiang kakeknya. Lebih tepatnya setelah seminggu sang kakek wafat, dia pergi meninggalkan rumah sang kakek karena rumah itu hanya berisi orang-orang bodoh yang tamak, serakah, dan suka menindas. Tapi tetap tidak bisa dipungkiri bahwa satu keluarga tau kalau Ray adalah pembunuh.

PSYCHOPATH || BL18+⚠Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang