{JANGAN JADI SILENT-READER! FOLLOW - READ - LIKE - COMENT. TOLONG HORMATI PENCIPTA KARYA. TERIMA KASIH.} Apa jadinya jika Seseorang yang sudah tidak pernah di temui selama 8 tahun, secara tak terduga muncul tepat dihadapan???
Bayangkan, posisi kali...
Selesai makan, semua diarahkan untuk mandi bersama. Dimulailah pelatihan ala Kemiliteran yang khas sarat kekerasan mental dan fisik. Mereka mulai berakting dengan kami semua, memasang wajah masam, berteriak serta memaksa. Kukira, aku sudah berhasil menghindari kegiatan yang seperti t'lah mandarah daging disetiap memulai tingkat sekolah, Masa Orientasi Siswa (MOS). Tapi aku mengalaminya pada kegiatan lain. Rasanya . . seperti melakukan hal yang percuma tapi aku masih beruntung dari pada mereka yang mengeluhkan menjalani MOS dua kali.
Kami mengantri untuk menggunakan kamar mandi. Setiap giliran, masuk ke dalam bersama 4 orang lainnya. Aku gak menyangka akan menggunakan kamar mandi bersama seperti sekelompok sapi. Jadi, begitu mendapat giliran, tidak satu dari kami yang melucuti semua pakaian. Masing-masing dari kami hanya menyisakan pakaian dalam lalu menggosok bagian tubuh yang bisa dibersikan. Kami tidak mandi dengan nyaman, karna belum satu menit dan setiap detiknya seorang panitia akan menggedor pintu, berteriak agar kami mempercepat waktu. Padahal janji mereka adalah waktu mandi kami sebanyak 3 menit.
Karna tidak tahan dengan desakkan yang panitia lakukan, aku sengaja melewatkan dari membersihkan gigi ku. Tepat di depan ku melintas ada panitia Wanita, aku sangat mengenali wajahnya . . karna aku tidak suka padanya! Ku julurkan kaki, dan ia tersandung. Kerumunan orang-orang yang membantunya berdiri adalah sebuah keuntungan bagiku. Menutup kalau aku pelakunya.
Kutatap sinis dari balik punggung, lalu pergi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kami semua berlari marathon – pada akhirnya. Pikirkan, bagaimana logikanya setelah mandi, bersih-bersih, kita semua mandi keringat lagi dengan mengelilingi sekolah yang luasnya hampir 3 M2. Padahal disekolah itu ada lapangan. Mereka punya lapangan bola, lapangan untuk basket dan voli yang secara terpisah. Tapi, kita justru diperintahkan berlari mengelili sekolah itu.Saat itu pukul 5 sore. Aku berhenti dan hanya berjalan karna nafas ku sudah mulai memendek. Parahnya, seorang panitia wanita berteriak, " SIAPA YANG SURUH BOLEH BERHENTI LARI?! AYO LARI LAGI! DISINI NGGA ADA YANG MALES-MALESAN YA! " sindirnya.Beberapa anak lainnya yang melintasiku, menoleh – menatapku. Karna sindiran itu memang tertuju padaku.
Tapi aku tidak memedulikan itu, dan tetap memilih jalan santai. Sampai seseorang mendorong kasar dari belakang bahu ku. Tubuh ku oleng, kehilangan kestabilan pada pijakan tapi tidak sampai membuat ku terperosok jatuh. Begitu aku menguasai diri, aku berbalik lalu balas mendorong dan dia yang terperosok jatuh. " SAYA CAPEK! MAU APA, HAH?!! " aku balas menantang. " ..KALAU SAYA MATI KECAPEKAN, KAMU MAU TANGGUNG JAWAB?!!! "
Dia berdiri, menatap angkuh. " BERANI SAMA PANITIA! "
" KENAPA HARUS TAKUT?? MEMANGNYA KAMU SETAN, HARUS SAYA TAKUTI?!! " aku tidak ada takutnya, yang ku pedulikan hanya soal Kesehatan ku sendiri saat ini. Sampai dia dan beberapa orang datang melerai kami. Aku dan panitia resek berhasil dipisahkan.
Dia menyarani ku untuk duduk dimanapun. " Are you okay? " tanyanya.
Sebetulnya kepala ku mulai merasa pening. Namun ku jawab, aku baik-baik saja. Tubuh ku merasa masih sanggup. Ku harap, setelah ini, kegiatannya tidak akan terlalu berat. " Kita jalan ke tempat istirahat, aku akan jelaskan pada mereka, nanti. Kamu ga usah meneruskan lari lagi. "