༺𝐻𝒶𝓅𝓅𝓎 ❆ 𝑅𝑒𝒶𝒹𝒾𝓃𝑔༻
Pagi hari tiba, cahaya sang surya menyilaukan mata Solar. Hal itu reflek membuatnya terbangun. Mengingat matanya semakin sensitif dengan cahaya sekarang. "Akh!" Lampu kamarnya menyala. Namun, bukan ia yang menekan saklar, tapi itu adalah kakaknya.
"Pagi Solar," sapa Thorn. Pandangan Solar masih buram, karena ia tidak memakai kacamata dan matanya baru saja terkena cahaya. Solar meraba-raba meja dimana ia meletakkan kacamata miliknya.
Thorn yang gemas karena sedari tadi Solar tak bisa menggapai kacamatanya, akhirnya ia mengambilkan kacamata milik sang adik. "Diam, jangan bergerak aku yang pakaikan."
"Sudah, kelihatan kan sekarang?" tanya Thorn. Solar menerjap. "Lho, kakak? Aku kira Ice?" Thorn menatap datar adiknya. "Responmu lama juga yah ternyata? Jelas jelas dari tadi suaranya kakak juga."
"Mirip sih suaranya." Solar beralasan. "Mirip darimana coba hmm?"
"Sudahlah."
"Oh iya, kenapa kakak sudah ada dirumah? Bukannya kemarin kakak berkemah ya?"
"Oh itu, kemarin malam aku dan Blaze memutuskan untuk pulang karena uji nyali anak-anak lain semakin menjadi-jadi. Ada yang mau panggil setan, ada yang mau apalah."
"Jadi aku dan Blaze nggak mau cari resiko akhirnya pulang. Berhubung juga Blaze dihubungi bahwa ibunya ke luar kota dan lupa menitipkan kunci cadangan, jadi kami kemari." Thorn menjelaskan secara ringkas kejadian kemarin malam.
"Begitu." Solar mengangguk paham. Biasanya kegiatan tersebut malah membawa petaka, jadi alangkah lebih baiknya menghindar. "Lalu dimana sekarang Ice?" Ia menyadari Ice tidak ada disampingnya dan ia juga telah dipindahkan.
"Dikamar tamu, kalian berdua kemarin tertidur di depan televisi. Jadi kami pindahkan saja," jelas Thorn. Cengiran jahil muncul diwajah Solar. "Kakak yang memindahkan Ice?"
"Tentu saja tidak! Aneh-aneh aku dibunuh Blaze nanti!" sargah Thorn. Ingin tahu mengapa Solar bertanya demikian? Itu karena kemarin Ice hanya menggunakan dress pendek yang panjangnya hanya sampai paha dan ia hanya menggunakan celana pendek. Kan mumpung nggak ada cowo, jadi Ice berani pakai pakaian begitu.
Thorn rasa adiknya ini sudah kebanyakan lihat drama, karena pikirannya sudah banyak yang mengarah ke romansa. Akan ia adukan kepada ibunya agar laptop Solar disita sementara waktu. Solar masih cekikikan sendiri karena pertanyaan. Awas Solar kau nanti dikutuk sama kakak mu karena jadi adik durhaka.
"Pukul adik sendiri dosa nggak sih?" geram Thorn. "Ampun, Kak. Solar insaf." Solar menyatukan kedua tangannya dan menunduk. "Insafmu sementara doang."
"Hehe."
༺❆༻
Berdirinya ia disebuah ruangan serba putih. Anehnya tidak apapun disana. ia dapat menapak walau tak ada pijakan disana. Seperti melayang tapi ia bisa berjalan.
Ia benar-benar sendirian disana, bahkan bayangan yang selalu berada didekatnya juga tidak ada sekarang. Tak lama kemudian ada sebuah angka yang diatas kepalanya. Angka itu bergerak dengan sendirinya.
Dentuman kecil tercipta, hal itu terjadi karena sistem angka diatas kepala Ice eror. Dan sekarang digantikan oleh sistem huruf. Sistem itu seolah olah membentuk kalimat namun tak dapat dibaca oleh Ice karena tiap ia mendongak tulisan itu juga semakin menjauh.
Ice mendecak kesal, tapi tunggu mengapa ia malah tertarik untuk memperhatikan ini?
Setelahnya ada sebuah cermin yang melayang kearah Ice. Ada secarik kertas didekat cermin tersebut. 'I Know you need help right?' Begitulah tulisan yang tertera di secarik kertas tersebut.

KAMU SEDANG MEMBACA
❄✧.*𝔇𝔯𝔢𝔞𝔪 .*✧❄
Fanfiction*ੈ✩‧₊˚Dream Dalam kehidupan yang harmonis, kakak beradik Blaze dan Ice saling mendukung satu sama lain. Blaze adalah sosok yang enerjik, berbakat dalam olahraga, dan memiliki kemampuan sosial yang baik, sementara Ice adalah sosok rapuh yang tak diin...