"Kemarin, semua masalahku terasa sangat jauh." ~ Yesterday, The Beatles.
¤¤¤
Suara dentuman itu terjadi beberapa kali dan semakin mendekat setiap detiknya. Saat suara itu berdentum pada plavon ruangan, atap ruangan hancur dan seseorang jatuh ke lantai.
Sesaat kemudian, pria itu bangun sambil memegangi kepalanya. Dirinya bergeleng beberapa kali, kemudian menghela nafas setelah dapat kembali fokus.
"Ya ampun, aku sepertinya sudah terlalu lama pensiun," ucap pria itu.
"K–kau?!" Shaon menuding pria itu, sedang karyawatinya bersembunyi di belakangnya karena ketakutan.
Menyadari Shaon dan si perempuan bertelinga agak runcing bereaksi seperti itu, pria yang jatuh tadi meminta maaf.
"Aduh, aku sebenarnya tidak mau datang seperti ini. Tapi, berhubung tidak ada pegawai gilda yang mengizinkanku masuk jadi aku berinisiatif menemuimu lewat atas. Tapi, aku malah lupa caranya menyelinap. Maaf, maaf, ya?"
"Yang benar saja. Furash Andreado, ini adalah bentuk pelanggaran yang sangat berat!"
"Aku tahu ... tapi, tolong dengarkan aku sebentar. Aku tidak bermaksud untuk—"
Shaon enggan memberi Furash kesempatan bicara, dia langsung berteriak meminta pertolongan siapapun di luar. Beberapa orang pun mulai berdatangan. Namun, saat mereka berusaha masuk sebuah medan energi memagari pintu ruangan.
"Apa itu?" Shaon bingung.
"Itu hanya sigilku," ucap Furash bertolak pinggang.
Di tangan Furash, tampak beberapa buah kertas sigil berisikan mantra penyegelan. Sigil yang sama telah terpasang di pintu masuk ruangan Shaon.
Shaon tidak tahu sejak kapan Furash memasang sigil tersebut. Padahal, dia selalu melihat ke arah pria itu semenjak jatuh tadi.
"Apa yang kau inginkan dengan menerobos ke dalam sini? Jangan berharap bisa memerasku!" Shaon menduga kalau kedatangan Furash ada hubungannya dengan kasus yang menerpanya.
"Daripada memeras, aku lebih suka mengajukan tawaran untukmu. Kau pasti sudah menduga kenapa."
Mengetahuinya membuat Shaon mendecih dan langsung memberi penolakan. Dia kemudian memberi ceramah pada Furash atas tindakan serta sanksi-sanksi apa yang akan diterimanya nanti tapi Furash sama sekali tidak menggubris itu dan hanya diam.
Setelah beberapa menit Shaon berceloteh, dirinya merasa kelelahan menjabarkan semua hal tentang hukum dan peraturan gilda. Furash langsung mengambil kesempatan ini untuk bicara.
"Pembelajaran yang bagus, Tuan Shaon. Tapi aku tidak peduli pada itu semua."
"A–apa?!" Shaon naik pitam. Perkataannya yang panjang lebar itu diabaikan membuatnya merasa seperti diludahi tepat di wajah.
"Sekarang giliranku bicara, jadi kumohon kau untuk mendengarkan. Percayalah padaku, kesepakatan yang kuajukan akan menguntungkan kita berdua. Aku kesini untuk menawarkan jasaku padamu."
"Jasa dari kriminal sepertimu? Jangan bercanda." Tatapan Shaon berubah tajam.
Furash menyeringai, dia membusungkan dada dan menyisir rambutnya ke sisi kanan. Sepintas, ada seberkas cahaya lewat di giginya yang seputih salju. Aura ketampanan menguar dari wajah berjambangnya itu. Matanya yang tegas mengulik rasa suka secara instan dalam hati karyawati Shaon.
"Sebenarnya, namaku adalah Sanabodor Alintakor. Kau pasti sudah sering mendengar nama itu."
Shaon tertohok, dia tersedak lidah sendiri karena saking kagetnya saat hendak membalas.

KAMU SEDANG MEMBACA
ARC OF THE HEIR: TALE OF STRIVE
FantasyKisah ini sudah ada dari zaman dahulu sekali, hingga tidak diketahui secara pasti kapan kemunculan pertamanya. Kisah ini, diceritakan melalui lisan ke lisan, lalu menjadi sebuah legenda, kemudian menjadi mitos, dan pada akhirnya menjadi sebuah cerit...