Kalopsia : (n) the delusion of things being more beautiful than they are.
4 orang, 3 rasa cinta, 2 rasa kasih sesungguhnya dalam 1 cerita yang rumit tentang empat orang yang terlibat dalam toxic relationship yang saling meracuni dan saling menyembuh...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Juna menenggak cocktailnya, menatap kosong hamparan laut biru tanpa batas. Dia memutuskan untuk menunggu jam makan malam di deckbar. Ia memakai kacamata hitamnya, silau dengan semburat jingga matahari sore. Teringat pesan Elysian untuknya agar tidak minum terlalu banyak, tetapi dengan begitu banyaknya orang di atas kapal pesiar ini dan semua mengenalinya, sulit bagi Juna untuk tidak menenggak minuman beralkohol agar bisa bersosialisasi.
Jadi sore ini dia kabur ke deck bar yang sepi, berharap sore harinya tentram sebelum menghabiskan energinya bertemu dengan banyak orang lagi.
"Boleh duduk disini?"
Sebuah suara sehalus sutera menyapa telinganya. Juna mendongak, mendapati Mina menundukkan tubuh ke arahnya sambil tersenyum. Belum sempat ia menjawab, perempuan itu sudah duduk di sampingnya, menyulangkan gelas cocktail mereka berdua lalu menatap kosong lautan, seperti Juna. Angin lautan menyapu rambutnya lembut.
"I didn't say you can sit here," ucap Juna dingin. Mina tersenyum simpul.
"Apa aku butuh izin dari polisi untuk duduk disini?" balasnya. Juna mendengus. Sore harinya yang seharusnya damai dan jauh dari siapapun malah terganggu dengan kehadiran perempuan berambut panjang ini.
Keduanya saling terdiam menatap horizon. Tak ada suara maupun interaksi di antara mereka. Hanya suara burung camar sesekali memekik melintas di atas kepala mereka, menandakan kapal masih belum jauh dari daratan.
Mina memanggil waiter dan meminta dua gelas sparkling water dengan tortilla chips lalu menyodorkannya ke arah Juna yang menatapnya bingung.
"Gausah dimakan kalo kamu ga mau," celetuk Mina. Juna memasukkan tortilla chips itu ke mulutnya lalu menenggak sparkling water. Mina tersenyum.
"I want to say thank you."
"You already said it."
"I'll say it as much as I want." ujarnya tak peduli. Juna terperangah. Biasanya orang akan menyerah berbicara padanya karena reaksinya yang ketus namun tidak dengan perempuan ini. Mina bisa mendobrak tembok dingin yang dibangun Juna, yang bahkan Elysian pun tak mampu mendobraknya.
"Thank you for trusting me with the project. Maybe without you, I'd be nothing."
"No, you were amazing. You inspired me," sahut Juna jujur. Ucapannya melembut, menatap Mina tepat di matanya. Karena memang benar adanya, saat melihat foto Mina, Juna begitu terinspirasi saat melihatnya dan membuatnya memilih Mina. Ia mati-matian mempertahankan Mina di hadapan rekan kerjanya dan meyakinkan mereka bahwa Mina bisa melakukannya dan ucapannya benar.
"Nanti aku tulis di portofolioku. "Mina Brenner, inspirasi bagi Arjuna Leonardian"." Ucapan Mina memancing gelak tawa lepas Juna.
"Aku kira kamu ga pernah tertawa. Soalnya di set, kamu selalu terlihat serius," kata Mina pelan. Juna terkekeh.