Setelah mengetahui Tami sedang sakit, Tama selalu ada di samping wanita itu. Bahkan Tama rela tidur di ruang tamu yang berada di depan kamar Derby demi menjaga Tami. Perhatian yang Tama berikan membuat Derby tersenyum. Ia bahagia pada akhirnya Tama bisa merasakan perasaan cinta. Iya, cinta. Tidak mungkin pria yang biasanya alergi terhadap wanita itu mau berkorban seperti ini jika bukan karena cinta.
Derby pun memilih mengalah dan memberikan tugas menjaga Tami pada Tama. Mungkin dengan begini kedua sahabatnya itu bisa menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Pikirnya kala itu.
Selepas mandi, Tama sudah kembali duduk di ruang tamu sambil membaca bukunya. Melihat hal itu, Derby yang sedang sarapan di ruang makan hanya geleng-geleng kepala. Gak segitunya juga kali jagain Tami. Tuh cewek kan masih bisa ke mana-mana juga, batinnya. Tetapi Derby memilih untuk mendiamkan saja kelakuan Tama itu.
Baru beberapa beberapa menit Tama membaca, suara pintu terbuka terdengar. Pandangan Tama otomatis langsung terarah pada pintu kamar Derby. Tami keluar dari dalam kamar dengan dandanan rapi yang menegaskan jika wanita itu akan oergi ke suatu tempat.
"Mau ke mana?" tanya Tama sambil memperhatikan penampilan Tami pagi itu.
"Mau ke dokter, Tam." Mendengar jawaban Tami seketika membuat Tama panik. Ia langsung berdiri dan memegang bahu Tami dan memperhatikannya dengan seksama.
"Bukannya besok? Ada yang sakit yah? Tuh kan, gue udah bilang kalau kemarin langsung ke dokter aja. Ayo, gue antar." Baru saja Tama akan melangkah ke atas untuk mengambil tasnya dan bersiap-siap, tetapi tangan Tami sudah terlebih dahulu menahannya.
"Gak, Tam. Gak ada yang sakit karena kejadian kemarin sore." Tami berusaha menenangkan Tama dan berusaha. Membuat pria itu tidak khawatir. Walaupun ia tidak tahu mengapa Tama bisa terlihat sekhawatir itu.
"Terus kenapa mau ke dokter? Yah, udah gue antar." Tama masih tetap memaksa ingin mengantar Tami. Ia pikir Tami akan berangkat sendirian kala itu.
"Gak usah, Tam. Gue pergi sama Mas Tristan. Dia juga yang maksa buat anatr gue ke dokter hari ini." Tami menatap Tama yang masih terlihat khawatir. Tetapi tanpa Tami sadari raut wajah pria itu sudah berubah menjadi kesal. Siapa sih Maa Tristan ini? Kok Tami segitu nurutnya.
Penasaran sama kelanjutan ceritanya, cuss ke aplikasi Fizzo, di sana lebih lengkap dengan ekstra part. Search aja "When We Meet"

KAMU SEDANG MEMBACA
When We Meet (Complete) Move To Fizzo
ChickLitMenjadi seorang pria tampan, berpendidikan tinggi dan memiliki konsultan hukum miliknya sendiri, memiliki itu semua tidak serta merta membuat seorang Pratama Aprilio mudah mendapatkan pasangan. Walaupun banyak wanita yang rela melakukan apapun demi...