33

356 36 11
                                    

Jiaqi mengobrak-abrik tumpukan jubah yang ada di gudang gedung training. Jubah lamanya tak dibuang begitu saja, kan?

Namun sudah hampir 10 menit sendiri ia di sana, jubahnya tak juga ketemu.

"Jiaqi ge."

Ia menoleh. Seorang prajurit tersenyum ke arahnya.

"Xida..."

"Ini jubahmu." seru prajurit tadi sambil mengulurkan jubah berwarna hitam-emas dengan rumbai emas di kedua sisinya. "Kami masih menyimpannya."

Jiaqi terkejut.

"Kenapa kalian yang menyimpannya?"

"Kalau bukan kami, lalu siapa lagi?"

Ah, benar juga.

Siapa yang mau menyimpan jubah bekas seorang pengkhianat?

"Makasih." serunya, lalu tersenyum.

"Ngomong-ngomong, apa kau tau seberapa kagetnya kami semua saat tau tentang kasusmu? Apa yang sebenarnya kau lakukan, huh?" sambung Xida sambil memukul pelan bahu Jiaqi.

Jiaqi sontak tersenyum miris, menatap jubahnya.

"Maaf..." lirihnya kemudian. "Kalian sekarang juga lebih baik jangan berdekatan denganku lagi. Aku khawatir kalau kalian malah ikut dikata pengkhianat...-"

"Oleh siapa? Pria sok imut dan nyonya tua itu?"

Jiaqi menganga, lalu menepuk lengan Xida.

"Hush!" tegurnya.

Bisa gawat kalau sampai ada yang lewat dan mendengar ucapan sembrono tersebut. Tapi Xida malah menatapnya malas.

"Ayolah~" rengeknya. "Meski kami juga takut dengan mereka, tapi sejak awal kaulah ketua kami."

Ia menatap Jiaqi dengan mulut yang mengerucut serius.

"Kami kan sudah bersumpah sehidup semati saat pelantikan dulu...- Kaulah orang yang kami sumpahi, bagaimana kami lupa? Prajurit macam apa yang melupakan jasa ketua dan kawannya sendiri?"

Jika boleh jujur, Jiaqi merasa begitu tersentuh mendengarnya. Tapi sekarang bukan saatnya untuk sesi-sesi seperti itu. Ia menatap Xida serius, lalu berkata.

"Tapi sekarang kasusnya berbeda. Pakai rasionalitas dulu, kesampingkan perasaan, oke?"

Xida memejamkan mata dan menggeleng, seolah tak ingin mendengar alasan apapun yang keluar dari mulut Jiaqi.

"Ssssttttt.... Sudah, ketua tenang saja. Kami akan membantumu dari belakang...-"

"Tapi...-"

"Tenangkan dirimu, Jiaqi."

Junkai berjalan menghampirinya. Ia tak sendiri, di belakangnya ada segerombolan prajurit yang mengikutinya.

"Junkai ge...-"

"Kau punya permintaan, kan?"

Jiaqi menelengkan kepalanya, heran.

"Hah?... eummm...- Itu.. apa emblem pangkat ku sudah dikembalikan?"

Junkai melongo.

"Kau...-"

Ia mendengus kasar, merasa tak habis pikir.

"Bukan itu!"

"Hah?!"

Red Organdy 2 | QiXin ft. XiangLin ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang