∶∶ 17 : THUNDERSTORM ∶∶

189 41 1
                                    

Seorang pemuda berjalan ke tepi air terjun dan duduk di sana. Airnya begitu jernih dan tenang, bayangan laki-laki itu pun terbias dengan jelas. Suasana sejuk ini sangat disukainya karena ia bisa menenangkan pikirannya ketika sedang kacau.

Tak lama, kedua tangannya menyatu dan menutup mata. Kemudian, ia pun mulai berdoa, "Dewa, tolong kuatkan hatiku dan hati teman-temanku. Aku tidak bisa tenang akhir-akhir ini karena ramalan tersebut. Dan, aku selalu berharap bahwa ada hal baik yang akan menghampiri kami bertujuh pada suatu waktu. Temanku juga belum bangun dari tidur panjangnya. Ku harap ia baik-baik saja dan segera bangun. Jadi, aku berdoa untuk kesehatan, perlindungan, dan kekuatan kami agar menjadi lebih baik pada hari-hari seterusnya."

"Doamu terdengar sangat tulus. Dewa pasti mendengarkanmu, Faine."

Suara itu tidak asing di telinga Faine. Ia menoleh ke arah pohon di belakangnya dan melihat sosok Allard di situ yang sedang bersandar pada batang pohon seraya bersedekap dada.

Masih ada rasa tidak suka di lubuk hati Faine dengan kehadiran roh tersebut. Tatapan tajam ia berikan kepada Allard dan berkata, "pergilah. Aku sedang ingin sendiri," usirnya dengan nada ketus.

Bukannya pergi, Allard malah menatap pemuda bermata rubah tersebut dengan pandangan kebingungan. Sebegitunya Faine tidak menyukai keberadaannya?

"Kenapa kau masih di sini? Ku bilang pergi!" Bentak Faine cukup keras.

Namun, Allard hanya tersenyum tipis. Tidak ada aura mengintimidasi yang dipancarkan olehnya. Lalu, ia pun berkata, "baiklah, aku akan pergi. Tetapi, aku ingin meminta maaf padamu sebelumnya."

"Untuk apa?"

"Karena, aku telah membuatmu tidak menyukai keberadaanku. Maaf jika aku memang membuatmu terganggu. Dan, semoga doamu didengar oleh Dewa."

"Sampai jumpa, calon penyelamat."

Setelah itu, Allard pun menghilang dari pandangan Faine dalam sekejap. Meninggalkan laki-laki bermarga Olsen itu yang tengah keheranan.

Apakah sosok roh jahat bisa mengatakan beberapa kalimat tulus seperti tadi? Faine jadi bingung sendiri.

"Kenapa aku jadi ragu kalau ia adalah roh jahat?"








































































































































































࿇࿇࿇

"Kau habis dari mana, Faine? Kenapa pulang-pulang sudah masam begitu mukanya?"

Elan bertanya tatkala anak remaja itu pulang ke rumah Nathan dengan air muka tak enak dipandang. Saat ini, ia sedang menuangkan air panas dari teko milik sang tuan rumah ke secangkir berisi daun teh kering yang ia bawa sedikit dari rumahnya.

SEI ISLAND (DISCONTINUED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang