8.

5 2 0
                                    

Jerit malam yang terjadi rupanya berbeda dari yang ku bayangkan. Jerit malam kali inimemiliki hubungan yang sama, penuh dengan jeritan hanya saja adapanggilan MAMA dimana-mana. Ada jeritan, ada tangisan, memanggil Mama, Mama.Hu hu hu, Aku mau pulang. Mendengar lengkingan itu membuatku memijat kening. " sebenarnyasiapa yang mengusul ide ini??? " gumam ku kesal.

Mereka membuat sebuah orasi tentang Mama dengan bantuan musik latar yang sesuai, membuat pesan dari orasi yang disampaikan semakin mudah di terima. Aku sempat menitikkan air di ujung mata.

Awalnya hanya terdengar sebuah isakan, namun isakan yang bukan dari satu orang itu berubah jadi tangisan. Yang paling heboh terdengar dari sudut ruangan, perempuan yang menangis histeris sambil berteriak memanggil mencari mama nya. Suasana sedu berubah jadi menjengkelkan. Memalukannya dari malam ini, ada lebih dari 5 perempuan yang di gotong oleh panitia sedang aku baik-baik saja. Hari itu, pertama kalinya aku bermalam di kelas – tidur bersama.

" Langsung tidur, jangan ada yang mengobrol lagi! " perintah panitia – mendikte. " Besok bangun pagi – seperti biasa. Yang susah bangun, terima konsekuensinya! " pesan mereka selalu akan sarat ancaman. Dibalik kegelapan, dia tidak akan melihat, aku yang berpaling dengan delikan kesal.

Pemandangan malam dengan ruang gelap tanpa lampu, sinar rembulan menembus jendela. Walaupun, pintu sudah ditutup rapat, anginnya tetap masuk melalui celah ventilasi dan transparannya kaca. Menjelang tidurku hanya berguling gelisah, tidak biasa tidur beralaskan papan kaku nan keras. Ku biarkan pada sisi kiri, kemudian terasa kebas. Berpindah pada sisi kanan, begitu lagi yang ku rasa. Hampir 2 jam, gelisah seperti itu.


" BANGUN! BANGUN! BANGUN!! AYAM UDAH BERSINAR! MATAHARI JUGA UDAH BERKOKOK! BANGUN!!! JAM SEGINI MASIH PULES AJA!!!! BANGUN WOYYY!!!!! "

Teriakan + Pukulan keras di pintu ampuh membangunkan ku beserta jantung ku. Perasaan baru pejamin mata deh??? Kok udah pagi aja?!

Ku pijat pelipis sembari mengumpulkan nyawa. Sampai terdengar ke dua kalinya pintu di dorong kuat lalu menabrak dinding. " BANGUN, CEPETAN! YANG SIGEP DONG!!! "

Disana aku langsung turun, menatap tajam panitia super menyebalkan itu, emosi ku meledak saat mendengar kalimat paling menyebalkan. " NGGA ADA YANG MANJA YA DISINI! " berikutnya aku keluar dengan meniru cara mereka, apalagi selain membanting pintu itu ke dinding.

Mereka sama seperti yang lain. Saat ada yang melawan mereka, mereka hanya bisa menatap tanpa berbuat apa-apa. Pengecut. Selain kegiatan running mengelilingi sekolah, tambahan kegiatan hari ini adalah menonton anggota paskibra dalam baris berbaris. Tinggi badan setiap anggotanya memang luar biasa, kalaupun ada yang standar, dengan bantuan seragam yang mereka pakai diimbangi posture mereka yang tegap. Pendek bukanlah masalah.

Mataku tidak bisa berpaling dari Kak Bima, warna kulit yang eksotis, posture tegap sedikit berisi, tinggi yang semampai. Hanya memakai seragam dinas pun, terlihat mewah di tubuhnya. Kalau aku berdiri tepat disampingnya, sepertinya tidak akan muncul kata serasi untuk kami. Mungkin akan terlihat .. seperti .. si bungsu dan si sulung.

" Eyy, apa kamu masih berharap ke Kak Bima??? " sebuah suara berbisik, mungkin posisinya tepat dibelakang ku, volume kecil mereka masih bisa ku dengar. Dan . . . seperti biasa, akan ada anak bandel dimanapun berada.

" . . . karna ku dengar dia bukan seorang Lajang. Lihat wanita dipojok paling kanan? "

Temannya menimpal, " Ya. Yang berkerudung, dia paling cantik dan paling tinggi dan paling putih diantara semua wanita. "

" Ingat namanya? "


" Ghea, bukan sih?? Tapi ga inget nama belakangnya. "

" Ga penting. Satu-satunya yang pakai nama Ghea cuma dia. Itu dia si pencuri hati Kak Bima. " teman disampingnya menyeruakan kekaguman dengan pelan. " ..serasi bukan? Perbedaan tinggi mereka mungkin selisih 1,2 inci. Dia sudah pernah terpilih bergabung dibarisan pengiring bendera merah putih di HUT Kemerdekaan tahun lalu. Kalau ga salah, taun ini dia terpilih lagi. "

Gratitude Journal (The Landlord Of Tightly Stored Memories)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang