Berkuda bersama Jean perlu [Name] katakan adalah suatu kegiatan yang menguji ketahanan jantungnya. Bukan sebab pemuda itu melakukan atraksi atau hal berbahaya lainnya. Hanya saja, kala berada di dekat Jean, memeluk pemuda itu, mengikis jarak dan menghirup aroma kayu manis adalah hal yang membuat jantungnya tidak baik.
Jantungnya memang selalu susah untuk diajak berkompromi. Bahkan rona di wajahnya pun begitu, tidak bisa dikontrol dengan baik. Seharusnya mengendalikan dirinya adalah hal yang mudah, tetapi sejak Jean mengungkapkan kalimat perminta maafannya tiga bulan yang lalu saat [Name] dirawat di rumah sakit, dirinya terasa susah untuk dikendalikan.
[Name] benar-benar mendapatkan akses bendera hijau untuk kembali masuk ke dalam hidup Jean.
"Apa dokter Rose jadi merekrut dokter baru?" Di tengah-tengah perjalanan mereka berdua tiba-tiba Jean bertanya.
"Iya, dia jadi menambah dokter di klinik. Ada apa memangnya?"
Jean bergeleng. "Bukan apa-apa. Hanya saja, kuharap dokter baru itu tidak bermasalah denganmu."
Kening [Name] berkerut. Kalimat Jean terdengar seperti sebuah sindiran dari pada sebuah harapan. "Apa maksudmu, Jean?" tanya [Name] tak suka.
Jean terkekeh. "Bukan apa-apa."
Tak lama mereka kembali menutup mulut masing-masing sepanjang perjalanan. Perlakuan Jean padanya jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia benar-benar berubah padanya dan [Name] sangat bersyukur untuk hal tersebut.
Terlebih saat dua bulan yang lalu, ketika Jean berpamitan untuk pergi ke dunia luar bersama teman-temannya karena kepentingan misi, pemuda itu memberikan [Name] sebuah kecupan di pipi sebagai tanda perpisahan.
Karena kecupan singkat itu pula, Jean berhasil membuat [Name] uring-uringan. Ia senang dengan kecupan singkat Jean, tetapi khawatir dengan pemuda itu yang berada di dunia luar. Namun, kekhawatirannya itu terbayarkan dengan Jean yang pulang dengan selamat.
Hanya saja, Jean pulang dengan jumlah anggota yang tidak lengkap. Eren tidak pulang bersama mereka. Jean bilang, awalnya Eren bersama mereka, lalu ketika hendak kembali ke Paradise, pemuda itu menghilang.
Hingga tak berselang lama, Eren mengirimi mereka surat jika ia berada di Liberio dan sedang menyusup. Eren berjuang sendirian diantara jutaan musuh di luar sana. [Name] tidak tahu apakah yang Eren lakukan adalah hal yang baik atau tidak. Hanya saja, [Name] lebih mengkhawatirkan Mikasa.
Gadis itu benar-benar khawatir tanpa Eren di sisinya. Bahkan Jean sempat mengatakan jika Mikasa ingin mencari Eren sendirian ke Marley. Namun, komandan Hange berhasil mencegah aksi gegabah itu.
Konflik negerinya saat ini benar-benar runyam sekali untuk diikuti. Mereka yang sudah terlibat konflik sejak awal pasti lelah bukan main.
"Jean, apa tak lama lagi akan ada perang?" [Name] bertanya. Tidak menutup kemungkinan perang akan terjadi.
"Eren sudah bergerak sendirian dan perang pasti akan terjadi, cepat atau lambat," jawab Jean. Pemuda itu menarik nafas sejenak lalu mendongak memperhatikan langit malam yang indah. "Jika peperangan terjadi, kau harus mencari tempat yang aman, [Name]."
"Aku akan aman bersamamu," sahutnya.
Jean terdiam. Tidak, gadis ini tidak akan aman bersamanya. Karena bagi Jean, kematian selalu bersamanya. Namun, karena tak ingin timbul perdebatan yang merusak perjalanan, Jean lebih memilih menutup mulutnya.
Tak lama mereka berdua sampai di tempat yang Jean tuju. Sebuah tebing yang berhadapan langsung dengan danau luas di area dinding Rose. Beranjak turun dari kudanya, [Name] dibantu Jean turun dengan hati-hati.

KAMU SEDANG MEMBACA
𝐏𝐑𝐎𝐌𝐈𝐒𝐄 || Jean Kirstein || FAP ✔︎
FanficRasa ini terhubung. Terhubung oleh janji masa kecil yang masih melekat indah dalam benak. [Name] takkan pernah melupakan janji itu dan justru menggunakan janji mereka sebagai sebuah rekonsiliasi antara dirinya dan Jean. Namun, bagi Jean semua janji...