Angan Itu Melayang

9 3 1
                                    

"Mereka yang hatinya benar-benar hancur, tak akan lagi mampu merasakan luka fisik."

___@@@___

Nyaris saja air mata menetes. Rasa sakit menyengkal tenggorokan Varsha. Wanita malang itu tak pernah bermimpi kalau pria yang telah bolak-balik bertemu orang tuanya akan berkhianat. Baru saja hendak keluar saking muaknya, ia terdiam setelah mendengar sesuatu yang membuat telinganya berdengung.

"Sayang, bukannya hari ini kamu ada jadwal sama pacarmu, ya?" tanya sang wanita tanpa rasa berdosa.

Adam pun tersenyum. "Emang kenapa kalau ada, kan aku pengennya main sama kamu."

Entah apa yang pria jahat itu lakukan sampai selingkuhannya tertawa geli dan memintanya untuk berhenti. Di sisi lain, Varsha hanya dapat mengatur napas agar dadanya tak makin nyeri.

"Tapi, yah ... kamu tahu. Aku nggak bisa ninggalin dia karena Papa maksa agar kami segera nikah. Padahal aku udah bosan ngejar dia empat tahun. Emang dia pikir dia itu Cinderella? Sok jual mahal banget, duh jadi pengen muntah," ungkap Adam yang membuat netra Varsha terbelalak.

"Ahahah, kalau gitu kamu nikah aja sama aku," jawab sang wanita.

Pria berambut hitam itu lantas menyahut, "Pastinya dong, Manis. Kalau hujannya reda, kita ke rumahku dulu, yuk. Gak ada orang ...."

Kini Varsha menghela napas. Ia akhirnya tahu kebusukan sang tunangan yang ditutupi dengan rapat. Bagi Varsha, pengkhianatan bukanlah sesuatu yang bisa dimaafkan. Bahkan ia sangat benci ketika dua orang yang pernah bahagia bersama, justru mengungkap keburukan satu sama lain ketika telah berpisah.

Sayangnya mereka belum berpisah. Varsha yang telah sepenuhnya membuka hati, sekarang nyaris hilang kendali. Segera ia menyambar gelas dan menumpahkan isinya tepat di pangkuan Adam.

"Aaa ... kau gila, ya?!" teriak kekasih sang pria yang langsung bangkit dan melotot pada Varsha.

Bukannya menjawab, Varsha hanya melepas cincin polos yang menghiasi jari manisnya, lalu dilemparkan ke lantai. Lanjut dirinya mengambil tas dan keluar dari kedai. Hatinya amat sakit kala tahu diduakan, terlebih pasangan mesum itu pasti telah melakukan tindak asusila. Cinta redup yang selama ini dijaga, hilang sekejap mata.

Adam, tunangan yang bersumpah akan selalu setia, rupanya membuat Varsha menjadi orang bodoh. Mungkin karena mereka berjanji akan kencan di mal, jadi tak memperkirakan jika si wanita akan menunggu di kedai langganan yang berada jauh dari mal. Begitu menyadari apa yang teejadi, Adam buru-buru ngejar. Ia meninggalkan begitu saja orang yang tadi dipayungi dengan jaketnya.

"Honey, tunggu!" katanya sambil menerjang hujan.

"Mana mungkin kutunggu, Sialan!" Varsha bergumam lirih sambil terus berjalan cepat. Ia sigap menepis saat tangan kirinya dicengkeram. "Enyah kau kalau masih ingin hidup!"

Ancam kosong tersebut membuat Adam tersentak. Ia sibuk meluncurkan rayuan manis agar sang tunangan luluh kembali. Ia bahkan berdalih jika wanita tadi adalah kerabat jauh yang datang berkunjung ke kota. Tentu saja Varsha bertambah marah. Ia semakin jijik mengingat bagaimana mesranya kedua manusia tak tahu adat yang sudah membuat lehernya serasa tercekik.

"Percaya sama aku, Honey. Dia itu cewek gila yang suka padaku, padahal sudah jelas kalau kami ini saudara." Adam menempatkan kedua tangannya ke pundak Varsha. "Kamu percaya sama aku, 'kan? Dia itu bukan siapa-siapa. Kamu nggak perlu cemburu gitu."

"Kenapa handphone-mu mati?" tanya wanita yang hanya mampu tertunduk.

"Oh, itu. Anu, hm ... batreku habis, jadi mati. Aku mau cas, tapi nggak bawa charger."

"Begitu?" Varsha merosok saku dan mengeluarkan ponsel. Dengan wajah datar, ia menekan tombol panggilan hingga membuat mitra bicara kelagapan mematikan dering ponselnya sendiri yang diakuinya telah mati.

"Beri aku satu kesempatan lagi, Sayang. Aku janji, ini kali pertama dan terakhir. Aku nggak akan main-main lagi. Plis, ya ...." Pria berkaos hitam itu mulai merengek. "Kita kan sudah tunangan, aku nggak tahu harus bilang apa ke Papa. Kalau sampai putus denganmu, bisa-bisa uang jajanku di-stop. Kalau begitu, aku nggak bisa nabung untuk pernikahan kita."

Varsha mulai cekikikan. Ia sampai lupa jika saat itu tubuhnya kedinginan setengah mati. "Nabung? Nggak salah tuh? Bukannya selama ini cuma aku yang selalu ngasih uang buat deposito rumah dan mobil?"

"Tapi kan, Sayang ...."

Enggan mendengarkan lebih jauh, ia menyela, "Kirim buku rekeningnya ke rumahku besok, kalau nggak mau kontrak bisnis dengan papamu dibatalkan."

"Apa?" Adam menarik lagi tangan Varsha. "Aku kan sudah minta maaf, kenapa kamu egois sih? Aku cuma khilaf sebentar, emang nggak boleh?"

Mata Varsha terbelalak. Sulit baginya untuk memahami isi kepala dari pria yang tiga menit lalu baru saja bersentuhan bibir dengan wanita lain. Saking kalutnya, tanpa sadar ia melayangkan sebuah tamparan keras. Malam itu, untuk pertama kalinya, wanita lembut itu memaki dengan lantang. Suaranya tak kalah oleh deru hujan. Semua kalimat kasar yang melintas, diteriakkan begitu saja.

"Wah, cewek jalang," ucap Adam lirih sambil memegangi pipi yang memerah. "Akhirnya keluar juga sifat aslimu. Aku nggak begitu kaget. Cewek bodoh sepertimu, yang memohon supaya aku beri sedikit waktu buat ketemu, berani-beraninya memukulku?!"

Kini pria itu hilang kendali. Ia mencengkeram lengan tunangannya dengan teramat kencang. Mengguncang tubuh ringkih itu hingga lutut Varsha lemas. Begitu terjatuh, rambutnya langsung ditarik. Adam menyeret Varsha menuju sebuah gang yang tak jauh dari kedai. Jalanan yang sepi, tak adanya orang membuat Varsha hanya bisa meronta. Tentu saja tenaganya yang tak seberapa, kalah jauh oleh pria yang rajin mengunjungi gym setiap minggu.

"Lepaskan aku!" Gadis yang menahan rasa sakit di kepala itu pun berusaha mencakar tangan lancang yang berani menarik mahkotanya.

"Lepas? Biar aku tunjukkan apa hukuman yang pantas untuk wanita sepertimu!" Seulas senyum muncul. "Akan kubuat kau tak berani lagi menampakkan wajah cantikmu itu di depan umum."

Amarah yang bercampur nafsu membuat Adam gelap mata. Ia memanfaat gaduhnya petir untuk menyamarkan isakan pilu dari tunangannya. Semakin meronta, semakin keras tinju yang Varsha terima. Darah pun mulai menyelinap dari sudut bibirnya yang tak lagi ingat untuk gemetar. Ironis, Adam makin menggila. Ia mengambil sepotong kayu panjang dan memukulkannya ke tubuh wanita mungil itu. Dengan semangat membara, tak berhenti, meski tahu beberapa tulang korbannya telah retak. Derita yang dirasa membuat Varsha kehabisan tenaga, tak lagi bisa memohon pertolongan. Saat herapannya nyaris padam, sebuah cahaya kecil muncul dari ujung gang. Cahaya putih yang teramat kecil, berasal dari sorot ponsel.

"Kalau kuunggah video ini ke internet, kau akan tamat," ancam Alex yang sebenarnya takut. Ia melangkah pelan mendekati pelanggan yang mendadak pergi setelah membuat kegaduhan di tempat kerjanya.

"Mau main pahlawan-pahlawanan?" Adam menyeret kayu di tangan kanannya dan berjalan ke arah Alex.

"Polisi datang dua menit lagi. Kalau jadi kau, aku akan kabur sebelum ditembak."

"Kau pikir aku takut?" Adam mempercepat langkah, siap mengayunkan senjata.

Tepat sebelum menyerang, fokusnya pecah kala mendengar sirine. Pria psikopat itu segera merampas ponsel Alex dan lari kalang kabut, meninggalkan gang yang penuh dengan air bercampur darah. Sementara itu, secepat mungkin Alex menghampiri Varsha yang tadi mentraktirnya kopi. Miris amat dirasa, belum pernah dirinya melihat darah sebanyak itu.

Alex pun kebingungan, harus diapakan wanita yang tergeletak di aspal tersebut. Hendak mencari bantuan, tetapi nihil. Hujan badai membuat penghuni kota tak kelihatan. Ia lantas berhenti sejenak, lalu melepas kemeja cokelat yang dipakai, dijadikan penutup untuk rok Varsha yang telah robek hingga ke atas pinggul, sebelum memberanikan diri untuk menggendongnya.

Melodi Varsha: Hujan Terpikat SenyummuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang