꒰⚘݄꒱Untuk hidupku, hanya untukmu

1.3K 177 54
                                    

Pertama kali bertemu [Name] adalah sewaktu Jean sedang menikmati hujan turun dengan deras. Sewaktu kecil, bermain hujan adalah hal yang Jean sukai. Sekali pun sang ibu sudah melarangnya dengan alasan ia bisa sakit, Jean tetap bermain hujan.

Berlarian disekitaran jalan Trots dengan beberapa temannya. Saat dipersimpang jalan, Jean tidak sengaja bertemu dengan seorang bocah perempuan yang berteduh di kedai yang tengah tutup. Kening Jean berkerut ketika melihatnya. Dia tampak ketakutan dengan wajah cemas ketaranya.

Lantas kedua kaki mungil Jean berlari menghampiri bocah perempuan itu dan ikut berteduh. "Kau sedang apa?" tanya Jean sembari memeras pakaian basahnya sehingga rentetan air turun membasahi lantai kedai.

Bocah perempuan itu menoleh dan menatap [Name]. "Aku mau pulang, tapi lupa jalannya," jawabnya.

Untuk bocah berusia 6 tahun, adalah hal yang wajar jika wajah ketakutan terpajang jelas. Untung saja bocah perempuan tidak menangis.

"Rumahmu dimana?" tanya Jean. "Mungkin aku bisa mengantarmu."

"Aku lupa."

Jean bergeming. Sekarang apa yang harus ia lakukan pada gadis ini? Apa sebaiknya Jean membawa dia ke rumahnya saja? Mungkin itu lebih baik.

"Bagaimana sekarang kau ke rumahku saja?" tawar Jean.

"Tapi, sedang hujan."

Jean terkekeh dan tersenyum lebar. "Kita mandi hujan!" imbuhnya dengan girang.

Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain bermain hujan di usia kecilnya. Lantas Jean menarik tangan bocah perempuan itu dan membawa berlari membelah keramaian rinai hujan.

Mereka berlari menyusuri jalanan Trots yang diguyur hujan lebat.

"Namamu siapa?" Bocah perempuan itu bertanya.

"Jean, kalau kau?"

"Aku [Name]."

Kehilangan [Name] adalah hal yang tidak pernah Jean inginkan. Kehilang [Name] adalah mimpi buruk yang tidak ingin Jean alami. Kehilangan [Name] adalah bagian takdir yang ingin Jean singkirkan dari hidupnya.

Namun, itu semua tidak bisa ia lakukan. Pada akhirnya Jean kembali dipaksa untuk menerima kematian orang yang ia cintai. Gadis tercinta dan terkasihnya telah tiada.

Tiga tahun yang lalu, Jean menyaksikan bagaiman pucatnya wajah [Name] saat menahan sakit tembakan. Bagaimana suaranya terdengar serak dan ditambah nada yang terdengar lemah.

Jean ingat itu semua dengan baik sekali pun waktu sudah berlalu tiga tahun lamanya. Saat ini, ditengah kehidupan damai yang berhasil Jean raih dengan segala pengorbanannya, seharusnya Jean bisa menikmati ini semua bersama [Name].

Namun, gadis itu kini telah tiada. Dia telah pergi. Meninggalkan Jean seorang diri di dunia yang penuh dengan cerita suram ini.

Ah, janji masa kecil ....

Kisah lama mereka ....

Hubungan kasih sayang ....

Sekali pun gadis itu telah tiada, Jean pastikan semuanya tidak akan berakhir begitu saja. Meski [Name] telah tiada, Jean akan melanjutkan semuanya sendirian.

Dirinya akan tetap sendiri dengan hatinya untuk gadisnya.

Walaupun raga tak bersama, tetapi rasa hati tetap bersama. Bahkan hingga kini pun, Jean masih terbayang jika [Name] masih berada di sampingnya.

Terkadang dirinya sering mengingat, bagaimana dulu mereka bertemu untuk pertama kalinya. Lalu menanam bunga bersama, bermain bersama, tertawa bersama bahkan menangis bersama. Tak lupa pula saat hubungan merenggang lalu [Name] yang kembali muncul untuk memperbaiki hubungan mereka.

Seluruh perjuangan gadis itu tidak akan pernah Jean lupakan hingga dirinya tua nanti.

Menarik nafas panjang, Jean memejamkan kedua matanya sejenak. Ia menikmati semilir angin laut yang membelai wajahnya. Berdiri di luar kapal di siang hari dapat meringankan pikiran Jean sejenak. Saat ini dirinya sedang dalam perjalanan menuju Paradis untuk melakukan kunjungan.

Saat ini, Jean sudah bukan lagi seorang prajurit. Dirinya bekerja sebagai duta dunia. Pergi ke penjuru dunia, menyerahkan ajakan damai dan membentuk dunia damai seperti apa yang diinginkan teman-temannya.

Lain dari itu pun, sudah tiga tahun lamanya Jean tidak ke Paradis. Ia meninggalkan tanah kelahirannya karena Eldia membenci mereka yang menghentikan Eren.

"Setelah tiga tahun lamanya, apa yang harus kubicarakan pada ibumu?" Jean bergumam, bingung dengan apa yang harus ia lakukan nantinya.

Jasad [Name] tidak dimakamkan di Paradis. Saat itu, Jean tetap membawa tubuh [Name] dan mengantarkan gadis itu pada peristirahatan terakhirnya. [Name] dimakamkan di kampung halaman Onyakopon yang saat itu masih aman dari Rumbling.

Terdiam, pemuda itu kembali membuka kedua matanya dan menunduk. Tangannya bergerak, menyentuh bandulan kalungnya dan tersenyum tipis. Kalung dengan permata merah indah ini seharusnya berada apik di leher [Name]. Namun, gadis itu telah tiada dan Jean memakainya.

Jika begini, Jean merasa dirinya semakin dekat dengan [Name].

Menarik nafasnya dalam-dalam, pemuda itu kembali mendongak dan memperhatikan lautan luas yang menghampar. "Kuharap, kita bisa bertemu di kehidupan selanjutnya. Di mana kau dan aku bisa selalu bersama."

Kalimatnya terdengar menyakitkan, tetapi Jean ingin melontarkannya. Gadisnya itu, meski pergi sejauh apa pun, Jean menyakini jika kelak mereka akan tetap kembali bertemu dan bersama.

Karena bagi Jean. "Untuk hidupku, hanya untukmu. Aku sangat mencintaimu [Name]."

Kini, ada dinding lain yang menjadi penghalang antara dirinya dan [Name]. Namun, hal tersebut tidak akan pernah bisa membuat kisah lama berhenti terukir dengan janji masa kecil yang menjembatani.

Rasa ini akan tetap terhubung dengan janji masa kecil mereka yang takkan pernah luruh.

Raga memang terpisah, tetapi tidak dengan rasa. Hingga nafas berhenti dihembuskan, rasa akan tetap sama. Sama-sama mencinta tanpa adanya kekurangan.

Jean Kirstein akan selalu mencintai [Surname] [Name]. Begitu pula sebaliknya. Selamanya, rasa cinta akan terukir tanpa jeda sedikit pun.

Hingga nafas dipenghujung usia, rasa ini tidak akan berubah. Jean akan selalu berjanji, menjaga rasa hatinya hanya untuk gadisnya sekali pun raga tidak bersama.

"Terimakasih sudah selalu ada untukku." Jean berucap kecil lalu tersenyum tipis. "Selamat beristirahat dengan tenang, Sayangku."

• E N D •

𝐏𝐑𝐎𝐌𝐈𝐒𝐄 || Jean Kirstein || FAP ✔︎Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang