Bab 1 : Aku

13 1 0
                                    

Haii Aku adalah ibu rumah tangga dengan segudang aktivitasku. Hampir setiap hari aku habiskan waktuku hingga larut malam untuk menyelesaikan projectku. Dua puluh empat jam waktu yang sangat singkat dengan segala tuntutan client. Andai saja Tuhan mau mengabulkan doaku untuk menambah waktu. He he he

Namun dengan begitu banyak aktivitas aku tidak lupa dengan tanggungjawabku sebagai ibu rumah tangga. Pekerjaan -pekerjaan aku selesaikan, pekerjaan rumah tangga pun aku tuntaskan seperti biasa. Tanpa asisten rumah tangga. Yaa... Semuanya ku kerjakan sendirian. Melayani suami dan anakku.

Aku memiliki satu putri, Adinda namanya. Gadis belia kini sudah mulai beranjak dewasa. Ia sering membantu pekerjaan rumah tangga di kala ia bebas dari tugas sekolah. Aku tak ingin sekolahnya terganggu karena membantuku namun itulah Adinda ia memang anak yang baik sekali dan pandai tentunya.

Aku bekerja di Event Organizer, pekerjaan ini sudah aku cintai layaknya mencintai diriku sendiri. Pekerjaan yang lebih dulu kukenal sebelum mengenal mas Adrean. Ia adalah suamiku, suami yang kalem dan penyabar. Ia bekerja di salah satu perusahan besar di kota metropolitan. Mungkin itu juga alasanya mengapa ia tidak banyak komplain atas pekerjaanku karena dia juga sudah terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

Pagi aku membuatkan sarapan untuk suami dan anakku. Membuatkan bekal untuk dibawa ke sekolah dan kantor mas Andrean. Iya nama suamiku Andrean.

Sempurna sekali... Tidak  !

Kehidupan kami tidak semulus apa yang dibayangkan banyak orang. Termasuk kedua orang tuaku. Kami sangat menjaga agar keluarga kami terlihat harmonis dan adem seperti keluarga pada umumnya.

Ekonomi yang terjamin, kebahagian dengan anak. Penghasilan kami lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekunder. Apalagi kami juga bukan tipikal manusia genar bergaya dan foya - foya. Pekerjaan adalah sebagian dari ibadah kami, kami lebih sepakat untuk kami tabung dari pada untuk memenuhi hasrat media sosial yang sedang digandrungi banyak orang akhir-akhir ini. Kelihatan kaya raya, makan enak, life style yang wah.

Ketika cerita ini kuawali, aku sedang duduk di meja kerjaku. Bercerita dengan riang nampaknya. Namun hatiku sedang berkecamuk karena problem yang sedang melanda keluarga kami.

"Alena  ! "

Pintu tempat kerjaku terbuka, seorang pria berdiri di samping pintu kamar kerja. Ia perlahan mendekat, melepas kemejanya dan menarik dasi dari lehernya. Dia perlahan menghampiriku dan mengambil kursi di dekat rak buku.

Ia kemudian mendekat lalu duduk di sampingku. Ia tahu kebiasaanku di tengah malam, melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Ia baru saja pulang dari kantornya. Entahlah ia sering sekali pulang larut malam. Awalnya aku biasa saja dengan kondisi itu tapi akhir - akhir ini aku mulai terganggu dengan jam pulang yang tak biasa itu.

"Apa kamu sudah tenang? "

Aku terdiam. Aku baru saja menceritakan sisi baik rumah tempat ternyamanku. Yang harusnya aku berat menceritakannya di sini. Pria ini adalah suamiku. Seperti yang kuceritakan di awal dia sangat baik dan penyabar. Tidak pernah sedikitpun ia membentak ku dan memperlakukanku dengan kasar. Iya... Semenjak awal pernikahan kami. Pembawaannya yang lembut dan santun juga salah satu faktor yang membuat Adinda anak kami memiliki kepribadian yang baik mirip ayahnya.

Aku masih duduk di kursiku. Memegang kepalaku dan jari kananku memegang bulpen yang baru saja kugunakan menggambar konsep event mendatang. Walaupun di tengah pikiran yang sedang kacau balau.

Aku berpikir kehidupan ini akan berjalan sesuai apa yang aku rencanakan. Seperti semula perjalanan yang diawali dengan konsep yang sangat matang. Tak meleset sedikitpun. Indah sesuai alur yang aku tentukan. Namun ternyata tak begitu adanya. Semuanya yang indah mendadak gelap. Mendung petang menyelimuti rumah tangga kami.

Bunda, Jangan BerceraiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang