"Ingin tertawa rasanya kala mengingat kebersamaan kita. Aku yang dipeluk cinta hingga jadi buta, tak melihat jika kau menyulur api dengannya."
___@@@____
Tawa riang anak-anak memenuhi koridor rumah sakit, tetapi tak cukup keras untuk mengalahkan derap langkah tim medis yang berusaha secepat mungkin memindahkan Varsha ke Unit Gawat Darurat. Sontak semua orang menyingkir, coba memberi jalan.
Nanar tatapan gadis berambut hitam tersebut, bibirnya yang lebam tak mampu mengucap kata. Meski begitu, jari-jari lemahnya masih menggenggam sesuatu dengan sisa tenaga yang ada. Namun, tepat begitu berada tiga langkah dari ruang UGD, ia menjatuhkannya, kesadaran Varsha lenyap.
"Tolong tunggu di sini," pinta seorang suster dengan nada lembut, sesaat sebelum pintu ruangan kembali tertutup dan lampu di atasnya berubah merah.
Alex sangat kebingungan. Ia menjabak rambut sendiri sembari mondar-mandir. Berusaha mengintip dari cela pintu, tetapi gagal. Saat hendak duduk, tak sengaja menginjak sebuah benda. Tanpa pikir panjang, pria tersebut memunggutnya, sebuah kalung dengan berlumur darah.
Dihiasi liontin berbentuk hati, sudah pasti itu pemberian sang mantan yang baru saja mematahkan tulang Varsha. Alex tak ingin lancang, tetapi entah bagaimana dirinya refleks membuka liontin tersebut. Di masing-masing sisi, tampak sebuah foto: Varsha bersama keluarganya dan satu lagi berisi potret Adam.
Netra Alex terpaku, ia merasa tak asing dengan salah satu orang di foto. Dan benar saja, ayah Varsha merupakan wakil direktur dari J Nature, salah satu perusahaan ternama yang sedang naik daun. Kerap muncul di televisi dan surat kabar, wajah itu terlalu unik untuk dilupakan.
Langsung saja Alex menghubungi polisi, meminta mereka menyampaikan berita kritisnya Varsha pada pihak perusahaan tempat ayah Varsha bekerja. Sayangnya, polisi hanya menganggap ini sebagai modus penipuan untuk memeras keluarga kaya.
Tak kehabisan akal, Alex menuju meja resepsionis dan meminta pekerja tersebut untuk menjelaskan segalanya. Barulah pihak kepolisian percaya, mereka tancap gas menuju rumah sakit, tentu setelah meminta pihak J Nature untuk menghubungkannya dengan sang wakil direktur.
Selama menunggu, waktu berjalan teramat lambat. Alex tetap kukuh menanti, sekalipun seorang perawat memintanya untuk beristirahat. Sepuluh menit kemudian, pihak polisi tiba dan langsung mencatat keterangan terkait kronologi peristiwa. Dengan sedikit gugup dan bingung, Alex menjelaskan situasi.
Tiga puluh menit setelahnya, operasi selesai. Pria berkaos penuh noda merah itu curi pandang kala pintu dibuka. Walau hanya sekilas, ia dapat melihat sang pasien terlentang dengan netra tertutup, lengkap dengan alat bantu pernapasan dan selang yang mengalirkan darah dari kantong yang tergantung di penopang besi.
"Dokter, bagaimana kondisi wanita itu?" Buru-buru Alex menghampiri.
Pria berjas putih pun menyahut, "Tiga jam ke depan adalah masa kritis, banyak-banyaklah berdoa, kami sudah berusaha yang terbaik. Anda juga sebaiknya diperiksa."
"Tidak, aku baik-baik saja." Cepat dirinya menggeleng.
Mendadak tertengar teriakan yang memanggil nama Varsha. Dari ujung lorong, seorang wanita paruh baya tampak tergesa-gesa melangkah dengan sepatu hak tinggi hingga nyaris terjungkal, napasnya mulai kacau. Ia meletakkan tas di kursi dan menyambangi sang dokter yang masih berdiri di tempat tadi.
"Bagaimana kondisi putriku?" tanya Anita, ibunda Varsha.
Penuh sabar, dokter tersebut kembali menjawab sembari tersenyum tipis. "Banyak luka memar dan tangan kanannya retak. Kami sudah mengoprasinya. Saat ini putri Anda sedang melewati masa kritis, jadi kita doakan saja yang terbaik."
"Oh, iya, berterima kasihlah pada pemuda ini, dia yang membantu putri Anda," imbuh sang dokter sebelum undur diri.
Seketika hening melanda untuk beberapa saat. Anita terlalu sedih sampai bingung harus bagaimana. Mulanya ia terduduk dengan menyangga kepala, lalu bercakap-cakap dengan polisi yang berjaga.
Wanita beranak satu itu menutup mulut kala mendengar cerita yang disampaikan. Air mata menetes deras, begitu tak mampu membayangkan penderitaan macam apa yang telah diterima buah hati hingga harus terbaring di ranjang.
"Nak, terima kasih banyak, aku tak tahu harus berkata apa." Anita tertunduk menghadap mitra bicara.
Alex yang sungkan langsung berlutut dan menjawab, "Saya tidak berbuat banyak, andai bisa lebih cepat, mungkin ini tidak akan terjadi."
"Tidak ... tidak, jangan bilang begitu. Kamu sudah banyak membantu, tapi kalau bisa, tolong jangan katakan masalah ini pada siapa pun." Ia merosok tas dan mengeluarkan selembar cek. "Berapa pun nominalnya, anggap saja ini sebagai imbalan atas jerih payahmu."
"Sa--saya tidak butuh ini, Tante." Sigap Alex menolak. "Tidak usah begini pun, saya diam tentang hal ini."
Anita tersenyum. Ia mengusap rambut Alex, kemudian menelepon sang sopir agar datang dan mengantar pria tampan itu pulang. Tak lupa meminta nomor Alex, ia berniat meminta bantuannya sekali lagi guna menjadi saksi di pengadilan nanti.

KAMU SEDANG MEMBACA
Melodi Varsha: Hujan Terpikat Senyummu
RomanceSiapa bilang manusia itu mudah lupa? Ratusan kali Varsha berdoa, bahkan melebihi jumlah hari dalam setahun. Tetap saja memori buruk tentang pengkhianatan Adam, sang tunangan, masih melekat kuat dalam ingatan. Di malam terdingin pada bulan Desember...