Yang kembali padamu, sayang, bukan itu. Bukan yang kau berikan dari hasil menjual kasih sayang. Bukan pula imbalan dari air mata yang berbutir-butir kau buang. Tapi jalan panjang yang mengikis alas kaki di tempat kau sempat tersesat-sesaat sebelum sore mengajarimu untuk mengingat apa yang begitu saja kau biarkan terlewat.
Membunuh bukan seperti itu. Perlu senyum di wajah yang kau bagikan seperti seorang dermawan dulu. Menenangkan, melekas kerelaan, menghunus tanpa tagu, lalu melambaikan tangan pada kematian di depanmu. Rayakan perpisahan dengan bagaimana kau merayakan pertemuan.
Mungkin bukan di sini, bukan juga di antara pembenci, bukan pula di antara puing-puing yang kau kantungi sendiri. Tidak ada suaka di matamu, hanya ada sengketa berparas lugu yang minta kau tenggelam berkali-kali. Lekas menjauh dari parade yang menginjak-injak harga diri.
Esok pagi, sayang, lihat wajah sembab itu. Terima lah sekantung air matamu seperti setelahnya hanya ada kemarau—hidup lah dengannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
PULAU PUISI
PoetryMasuk ke dalam puisiku, sebetulnya salah kamar. Tak perlu buru-buru keluar, kau tersesat di tempat yang benar. Kumpulan puisi-puisi yang kutulis 2 tahun yang lalu hingga sekarang. Akan update waktu suka-suka.