Semburat Senyuman

3 3 2
                                    

"Kita memang dua raga yang berharap dapat menyatu dalam tiap doa. Namun, jika semesta dengan lantang berkata tidak, lantas kita bisa apa?"

___@@@____

Varsha turun dari bus sambil berpegangan pada Adam. Pria itu sedikit kesulitan untuk menemukan tempat bicara yang aman. Waswas selalu ada, seolah pepohonan ikut menjadi mata-mata yang akan mengungkap keberadaannya. Sembari menengeng koper dan jaket, ia menggiring sang tunangan untuk berjalan mengikuti firasat.

Di sisi lain, putri Anita menghirup napas dalam. Udara yang dingin dan lembab, sangat berbeda dengan kota di mana ia bertumbuh. Begitu minim polusi, bahkan pemandangan hijau terkapar sejauh mata memandang. Hatinya bergembira, entah kapan terakhir kali dirinya bepergian sejauh ini.

"Apa masih jauh?" Ia penasaran karena belum dapat menerka tujuan.

"Sabarlah, Cantik. Aku juga baru pertama kali ke sini."

Varsha berhenti. "Apa? Tadi kamu bilang sudah mengecek semuanya dan membawaku ke sini."

"Eh, itu ... em, iya."

Gadis berambut panjang itu balik ragu. Gelagat mitra bicaranya sungguh kacau. Siapa pun akan tahu jika Adam menyembunyikan sesuatu. Namun, Varsha masih menganggap itu wajar dan mengikuti permainan kekasihnya. Ia beranggapan jika menyiapkan kejutan berarti harus sedikit melakukan kebohongan.

***

Tiga puluh menit berselang, mereka tiba di sebuah vila. Varsha terlelap karena terlalu lelah berjalan. Belum lagi bekas operasi di samping perut yang begitu kaku nan nyeri, membuatnya menggeliat di kasur dengan eraman kesakitan.

Semantara itu, Adam yang berada di kamar terpisah pun sibuk menelepon. Ia berkomunikasi dengan keluarga yang turut membantunya melarikan diri. Awalnya sang ayah melarang Adam untuk membawa Varsha. Ia tak mau ambil risiko dengan menyandra putri dari wakil direktur perusahaan besar.

Anggota J.K Nature mungkin bisa tutup mata ketika Adam hilang, bahkan seiring berjalannya waktu, mereka akan lupa jika pria itu pernah ada. Namun, beda cerita jika Varsha yang lenyap. Malik beserta para bawahannya yang lebih setia daripada hewan peliharaan, pasti mati-matian melacak keberadaan gadis tersebut.

Maka dari itu, Adam meyakinkan orang tuanya jika tak ada hal buruk yang akan terjadi. Dengan begitu licik, ia memanfaatkan kondisi Varsha dan berniat menginggalkan gadis tersebut ketika sudah tak dibutuhkan lagi. Sayang, di tengah berbincang asyik itu, terdengar suara ketukan.  Adam lantas mengakhiri komunikasi dan berjalan menuju pintu.

"Sayang, kau sudah bangun. Kau baru tidur sepuluh menit, tidurlah lagi," pintanya pada Varsha sambil mempersilakan ia masuk.

"Ini sudah sore, kapan Bunda akan ke sini?"

Pria licik itu tak lagi cemas. Kemampuan aktingnya meningkat secara drastis dalam sekejap. Ia pun meraih tangan mitra bicara dan menjawab, "Besok mereka akan ke sini. Malam ini, kita akan bersenang-senang. Kau belum pernah jalan-jalan di taman kota, 'kan?"

"Benarkah kamu akan mengajakku ke sana? Bukankah kamu bilang ada yang sedang mengikutimu, jadi kamu berusaha menghindari tempat ramai?"

"Ah, jangan pikirkan mereka." Adam tersenyum. "Sekarang tak ada yang mengikutiku. Kita berada di tempat yang jauh."

Gadis itu kembali bertanya, "Sejujurnya karena jauh, aku sedikit takut."

"Kenapa?"

"Vila ini aneh, tidak ada WI-FI, aku tidak bisa menelepon orang tuaku. Setidaknya aku harus bilang kalau sudah sampai."

Pria bertato itu tertawa, bagaimana mungkin ada akses internet, ia bahkan telah memutuskan sinyal di kamar tunangannya. Selain ponselnya, tak ada alat komunikasi lain yang berfungi. Vila yang mereka tempati ini telah dipersiapkan minggu sebelumnya, sebagai tempat pelarian Adam.

Hunian yang memiliki delapan kamar ini pun dikelola oleh saudara jauhnya, bukan masalah besar untuk menghalau tamu lain yang ikut menginap. Mereka semua hanya wisawatan biasa yang datang untuk berlibur.

Di waktu bersamaan, Anita meletakkan tas jinjingnya ke sofa beludru. Ia meregangkan tangan, meminta dibawakan segelas jus, lalu membuka ponsel. Matanya dengan jeli memilah belasan pesan yang belum sempat terbalas. Untung hari ini dia bisa keluar untuk membereskan beberapa pekerjaan, jadi tak begitu menumpuk.

Akan tetapi, ia merasa kalau rumah terlalu sepi. Ketika bertanya pada pelayan, istri Malik baru tahu jika sang putri keluar dan tak juga kembali. Sontak dirinya panik, memerintah sopir untuk segera mengeluarkan mobil dari garasi.

Suasana di kota tersebut masih mendung. Anita menatap sendu dari balik kaca mobil. Ia bersama beberapa ajudan, memeriksa setiap toko dan gang kecil, berharap bisa menemukan buah hati yang belum pulih sepenuhnya.

Dua jam berputar-putar, kini kepala Anita ikut pusing. Pas sekali sang suami tak bisa dihubungi. Ia pun makin kehilangan harapan. Mobil silver itu berhenti di depan kedai langganan Varsha. Karena malam kian larut, jalanan itu turut sepi.

Namun, di tengah kesepian yang membuatnya melamun, getar ponsel mengubah fokus. Dengan cekatan, Anita membuka pesan yang dikirim salah satu temannya. Belum pernah ia merasa begitu kecewa. Undangan arisan elit yang dulu menghadirkan gairah, kini menjadi hampa. Wanita beranak satu itu hanya ingin mengetahui kondisi Varsha.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 09, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Melodi Varsha: Hujan Terpikat SenyummuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang