Tubuh kurus Minghao ia bawa ke lingkungan penduduk dengan rumah rumah khas keluarga bahagia, tersusun rapi bersama halaman halam luas nan asri. Lelaki berambut mullet itu berjalan santai. Senang bukan main kala ia sadar dompet yang ia curi kemarin siang ternyata punya banyak cash bernominal besar."Huuum, Ku dengar ada kedai sarapan khas rumahan disekitar sini?" Gumamnya masih berjalan riang.
Minghao melihat sekitar, tiba tiba Ia tertarik dengan sebuah mobil klasik tua yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Melihat dari mobil antik yang di gunakannya, Pasti pemilik mobil itu punya banyak uang. Diam diam lelaki itu memikirkan berapa banyak harta yang bisa ia ambil dari dalam mobil coklat disana.
Beberapa saat kemudian, saat Minghao baru berniat melangkah mendekat, Seorang Pria jangkung dengan tali dan kamera menggantung di leher masuk kedalamnya. Minghao kecewa kala mobil itu berlalu, Niat jahatnya tak terealisasikan.
Namun ia sudah sampai di tempat mobil itu tadi terparkir, Dan secara tak sengaja melihat tetesan cairan berwarna merah yang mulai mengering mengarah kesalah satu halaman rumah warga.
"Darah."
Ia sadar tetesan darah ini menuju kesuatu tempat yang mungkin akan memberi tahunya apa yang telah terjadi.
Namun apa urusan Minghao? Apa jika terjadi pembunuhan disana ia bisa jadi superhero? Melaporkan polisi lalu ia di beri pengharagaan sebagai pahlawan kesiangan?
Tentu saja tidak! Minghao tak punya alasan apapun untuk ingin tahu apalagi membantu.
Tapi lihat siapa yang sedang melangkah sekarang, Minghao perlahan berjalan ke halaman belakang rumah itu dan berjinjit kecil saat tiba. Lelaki mullet itu tiba tiba meringis, ngilu ia rasakan kala sadar halaman itu memajangkan seekor anjing yang sedang memakan daging besar, Bau darah dan amis yang... ugh, tak perlu di jelaskan, tercium ke hidung mancung si manis.
Minghao tak mau menghilangkan selera makannya. Jujur ia menyesal mengikuti kata hatinya untuk datang.
Si manis kini memilih berlari kabur meninggalkan penampakan menjijikan disana. Yang kembali ia lihat, Satu jam setelah acara makan paginya.
"Ugh, Apa itu?" Tanya nya berteriak tak suka saat ikut berkerumun di tengah komplek perumahan bersama beberapa warga.
"Kucing, Sepertinya tertabrak."
"Apa? Bi, jika Kucing tertabrak ia tak akan mati sampai isi perutnya keluar begitu," Minghao memberi opininya, "Seseorang pasti membunuhnya."
Suara warga terdengar serempak mengangguk setuju.
"Sudah telefon polisi?"
"Ah ya. Tadi kami telefon polisi tapi para polisi malah mengeluh ini terlalu pagi untuk laporan kucing mati, dan kemudian yang datang malah seorang pria, tak melakukan apa apa selain banyak bertanya," Salah satu wanita tua melapor, "Memang ya, Orang orang di kota ini tak ada yang benar!"
"Ya! Ya", "oh Polisi tak tau diri!", "Mereka semua tak bekerja dengan baik!"
Minghao hanya mendengarkan obrolan berisik warga disana. Ia menatap kucing yang mati di tengah jalan itu jijik. Rasanya sarapannya akan keluar kembali.
"Pria yang datang tadi seorang polisi?"
"Entahlah."
Obrolan antar warga masih terdengar Minghao mulai bosan. Ia melihat sekitar.
Sudah 2 kejadian yang sama ia lihat pagi ini. Apa jangan jangan kucing ini di makan oleh anjing tadi? Pikir Minghao kurang ajar.Mana mungkin! Anjing tadi jelas jelas makan daging besar, tak sekecil kucing ini yang—
"Daging nya besar sekali," komentar Minghao pada isi pikirannya sendiri, "Besar sekali untuk ukuran daging hewan seperti kucing maupun ayam."

KAMU SEDANG MEMBACA
Dream Apocalypse | svt
FanfictionChan sebenarnya punya pilihan, namun ia malah memilih kematian. Walau Seungcheol sadar orang yang seharusnya ia tangkap ada dihadapan, Jeonghan ia biarkan berlindung di belakang punggungnya. Tak pernah punya waktu selain untuk uang, Jun kini malah...