Tolong dibaca! Jangan cuma scroll
(╯ರ ~ ರ)╯︵ ┻━┻⚠️☹️⚠️
Cuaca hari ini sangat mendung. Awan gelap yang membawa hawa dingin menusuk sampai ke tulang. Ray yang sedang duduk di kursi makan merasa tak berselera. Semua makanan yang tersaji di meja terlihat begitu memuakkan.
"Ada apa Ray?" tanya Bryan cemas.
Ray menggeleng. "Aku kenyang." Ia pun beranjak dan pergi ke kamarnya.
Ketiga manusia yang melihat itu hanya diam saja dengan helaan berat. Tak ada yang mengejar ataupun bertanya lebih lanjut. Mereka melanjutkan sarapan sebelum melakukan aktivitas mereka masing-masing.
Halley terdiam. Sejak kemarin Ray tidak mau diajak bicara bahkan sekedar mengangguk atau menggeleng saja. Dia sedikit merasa frustasi dan bingung. Apa yang Ray mau? Apa yang membuat Ray seperti itu? Kenapa Ray sampai tak mau bicara sama sekali dengannya? Otak Halley rasanya penuh dengan pertanyaan seperti itu.
"Apa Ray... merasa bersalah?" celetuk Halley membuka percakapan.
"Soal apa?" tanya Bianca sambil mengunyah sepotong steak sapi yang lezat.
"Soal... Nicki yang terluka sampai dibawa ke rumah sakit."
Bryan dan Justin lantas menatap Halley penuh jenaka. Mereka tertawa sampai ngik-ngik—tak habis pikir, bagaimana bisa Halley mempunyai pikiran konyol seperti itu. Seorang Ray yang terkenal sadis dan kejam dalam menghilangkan nyawa seseorang, mana mungkin merasa bersalah hanya karena kejadian sepele itu. Justru Ray merasa kurang karena belum sepenuhnya menghabisi Nicki.
"Hahaha! Aku sampai ingin menangis." Justin menyeka air matanya.
"Kau sepertinya belum mengenal Ray lebih jauh, Hall." Bryan juga berusaha menenangkan tawanya.
"Apa maksud kalian?" kernyit Halley bingung.
"Ray tidak pernah merasa bersalah," jawab Justin. "Bahkan meski dia salah sekalipun, dia tak pernah minta maaf dan bertingkah biasa saja."
Bryan mengangguk membenarkan. Tetapi agak sedikit heran juga karena Justin bisa paham betul dengan sifat Ray. Walau dulu pernah tinggal bersama, tidak mungkin Justin masih ingat dengan semua hal tentang Ray. Tetapi rasa heran dan penasaran itu akan ia kubur dahulu.
"Ray tidak pernah meminta maaf?" tanya Halley lagi memastikan.
Kini Bianca yang menjawab. Sejak tadi hanya diam saja sambil makan, rasanya tidak begitu menyenangkan. "Kau Halley, kan?" tanya Bianca. Halley hanya mengangguk. "Aku memang sudah lama tidak bertemu Ray sejak kabar kecelakaannya saat kecil dan kunjungan terakhir Ray saat ulang tahun kakek. Tetapi aku sangat tau bagaimana sifat bocah sombong itu!" Bianca menghela berat. "Dia itu sombong. Selalu merasa benar dan egois. Bahkan dia suka playing victim. Aku heran bagaimana bisa dia begitu, padahal dulu dia masih sangat kecil. Dan aku sangat yakin sifat menyebalkan dia itu tidak berubah sampai sekarang. Aku jamin!"
Justin mengangguk sambil mengelus tangan Bianca lembut. Bryan yang menyadari hal itu lantas mengerutkan dahinya. "Ahhh! Ini benar-benar gila." Bryan mendengus. "Bianca. Kau dengan bapak tua ini...?"
"Siapa yang kau sebut bapak tua, ha?" Justin melirik Bryan tajam.
"Usiamu sekarang berapa?" pekik Bryan.
"Aku baru 41 tahun. Belum terlalu tua untuknya," jawab Justin tegas.
Bianca terkekeh. "Kau ini tua sekali!" katanya.
"Kau juga menganggap ku tua?" Justin mendelik tak terima.
"Hei. Itu memang benar, kan?" ucap Bianca sambil tertawa pelan sampai memperlihatkan barisan gigi rapinya. "Tapi aku tak masalah."

KAMU SEDANG MEMBACA
PSYCHOPATH || BL18+⚠
Mystery / Thriller[SELAMAT DATANG DI DUNIA RAY] Berawal dari kebosanan hidup yang terus bersiklus. Ray Regan, seorang pembunuh yang masih amatiran namun sudah berhasil mencetak rekor sebagai pembunuh paling banyak hanya dalam tiga tahun saja. Setiap ada waktu, dia me...