"Jadi kesimpulannya, yang bisa jadi pendonor untuk pasien Rasya hanya Mas Rakha."
"Alhamdulillah."
Aku bersyukur mendengar kabar dari dokter. Hari ini Tuhan sedang baik padaku. Dua berita bahagia membuatku sadar akan satu hal. Mungkin ini adalah caraku untuk menebus kesalahanku pada Nia.
Aku menoleh pada Nia, kenapa dia menangis? Apakah dia juga terharu karena aku bisa jadi pendonor?
"Sayang, kamu kenapa?"
Nia buru-buru mengusap air mata.
"Nggak apa-apa."
Aku yakin Nia sedang tidak baik-baik saja. Baiklah, mungkin dia sedang tak mau diganggu. Aku kembali fokus pada dokter.
"Jadi kapan saya bisa donor dok?"
"Mas Rakha sudah siap?"
"Siap, dok, sangat siap. Hari ini pun saya siap," jawabku mantap. Lebih cepat, akan lebih baik untuk kondisi Rasya.
"Baik, nanti saya koordinasi sama bagian lab dulu ya. Nanti Mas Rakha dihubungi pihak rumah sakit kalau semua sudah siap."
"Siap, dok."
"Untuk sementara sambil menunggu, Mas Rakha harus tetap jaga kesehatan, makan yang bergizi dan cukup istirahat."
"Baik, dok."
Setelah mendengar sedikit penjelasan dokter tentang prosedur donor sumsum tulang, aku dan Nia kembali berjalan ke kamar Rasya.
"Aku mau ke toilet, bisa tolong lepas?"
"Aku anterin."
"Nggak usah!"
"Ya udah, pakai toilet di kamar Rasya aja."
"Aku butuhnya sekarang!"
Buset, ini cewek kesurupan apa sih? Perasaan jutek terus. Oke, baiklah kalau Nia minta dilepaskan. Tapi aku tetap mengekornya.
Lama menunggu Nia, aku memilih menunggu di lorong dan tak sengaja melihat seseorang yang pernah kukenal.
"Beb--Doni? Ngapain dia di sini?"
"Doni!"
Dia menoleh dan terkejut melihatku. Bagus! Ini saatnya aku memberi pelajaran.
"Hai, Don, apa kabar?"
Dia kelihatan gelagapan melihatku.
"Ngapain di sini? Ada yang lagi sakit?"
Dia masih membisu dan sibuk menoleh kanan kiri, seperti mencari cara untuk kabur.
"Mana Om bulenya? Nggak nganterin? Atau udah balik ke Jerman?"
Aku terus mengintimidasi.
"Nomor rekening gue masih ada 'kan di bukti transfer?" Aku melipat tangan di dada. Doni mundur satu langkah.
"Yah, kali aja lo mau transfer ke gue. Gue masih tunggu dengan sabar."
Matanya terbelalak dan panik. Gotcha! Claudia benar, cowok metroseksual di depanku ini memang sengaja "menjual" kenyaman untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah dari laki-laki kesepian. Hei, tunggu! Jadi aku adalah laki-laki kesepian? Haish!
"Gue tahu, lo cuma manfaatin gue, lo cuma morotin gue biar bisa penuhin hidup hedon lo itu. Iya, kan?"
Doni semakin mundur dan mentok ke tembok. Mulutnya seperti dikunci rapat. Aku mulai mendekat dan mencengkram kuat kerah kemejanya.
"Gue kasih waktu tiga bulan dari sekarang, balikin semua duit gue! Atau lo tahu akibatnya!"
Cowok kemayu di depanku ketar-ketir.

KAMU SEDANG MEMBACA
RAINBOW CAKE ✔️
RomansaRakha dan Raynia sepakat untuk menikah demi kepentingannya masing-masing. Namun, pernikahan pura-pura yang mereka jalani nyatanya tak semudah yang mereka tulis dalam perjanjian.