| ON GOING |
"Aku kepengen bisa jadi Arjuna buat kamu, Irta." Dibawah adiwarna gunung Bromo pukul 5 pagi, Nakula memegang tangan kanan Irta
"Kamu cukup jadi Nakula aja. Gak perlu jadi Arjuna biar aku mau sama kamu." Kedua ujung bibir Irta tertarik m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Mau dimsum atau sate cumi?" Sudah hampir 15 menit mereka mengitari jalanan Suhat, namun belum satu pun jajanan dibeli oleh mereka. Jam menunjukkan pukul 19.00. kian malam, kian ramai manusia yang memenuhi tempat tersebut. Aroma dari jajanan yang dijajakan oleh para penjual kaki lima yang berjajar di tepi jalan seakan merayu para pejalan kaki yang lewat untuk berhenti kemudian membeli salah satu jajanan tersebut
"Mau batagor aja." Sahut Gavi.
"Lo tuh ditawarin apa, jawabannya malah mlenceng." Dengan tampang super sewot Nakula protes ke Gavi yang cuma cengar-cengir.
Nakulantara Rajasakara dan dua temannya alias Gating si Gavi sinting dan Kaledan Kale edan sudah 15 menit mengitari keriuhan jalanan Suhat untuk sekedar cari angin. Nakula sebenarnya hanya ingin sendirian. Namun ternyata ekspektasi yang sudah ditata rapi di angan Nakula manakala berjalan jalan sendiri alias metime kalo bahasa kerennya untuk mengitari jalanan Suhat secara praktis pupus karena ternyata Gavi Hamizan dan Chandrakale Luigi turut serta. Gavi dan Kale ini kawan Nakula Bukannya tidak suka, Nakula itu malas kalau Gavi dan Kale ini ikut. Kenapa malas? Soalnya duo itu berisiknya modelan mau menandingi ibu-ibu pentolan di kampung yang suka berisik kalau lagi ghibahin orang. Bahkan tadi Gavi dan Kale sempat-sempatnya berdebat mengenai penampilan orang lain yang kata Kale seperti jamet alias Jawa metal. Namun oleh Gavi dibantah karena menurutnya sepatu yang dipakai oleh orang tersebut kelihatan keren.
"Kelakuan lo manusia dikit napa Le." Untuk ke sekian kalinya Nakula protes karena lihat tingkah laku Kale yang bikin elus dada. Garit alias garuk silit mulu daritadi. Kale nggak seburuk itu sih sebenarnya. Cuma gatau kenapa daritadi gatel terus. Sama seperti Gavi, Kale ya cengar-cengir aja pas disewotin sama Nakula.
"Gue beli Chatime dulu ya." Kale melangkahkan kakinya menuju penjual siomay anget meninggalkan Nakula yang mukanya masih kusut seperti serbet dan Gavi yang diem aja sih dia abis disemprot Nakula.
"Gue mau mainan kamera dulu ya Gav. Lo nunggu kale sendiri gapapa?" Nakula melontarkan satu pertanyaan kepada Gavi yang dibalas dengan anggukan singkat disertai rambut Gavi yang kelihatan tuing-tuing.
"Santai aja."
Bersama kamera yang ditentengnya, Nakula melangkahkan kedua kakinya guna memotret apa pun momen yang kini tengah terjadi di tempat itu. Apa pun yang dirasanya perlu untuk diabadikan dalam satu chip memori, ia potret dengan kameranya. Mulai dari pengamen yang tengah asyik berkutat dengan gitarnya, hingga jembatan Suhat yang tampak gemerlapan oleh cahaya lampu yang terpasang di sepanjang jembatan. Indah memang. Malang selalu indah bagi Nakula.
Nakula memang mempunyai ketertarikan pada dunia fotografi semenjak dia kecil. Dimulai pada usianya saat menginjak delapan tahun, ia diberikan sebuah kamera kecil seharga tiga ratus ribuan oleh ayahnya. Semenjak itu, dia mulai memotret apa pun yang dirasanya menarik untuk diabadikannya dalam satu jepretan. Mulai dari sukulen kecil milik bunda, jam tangan yang melingkar di tangan ayah, hingga ayam tetangga ia kemas dalam kamera pertamanya.