Setelah menempuh perjalanan yang panjang, serta cukup menguras energi. Gema dan Chayara akhirnya sampai ke tanah kelahiran mereka. Tempat yang telah menjadi saksi pertumbuhan mereka, perjuangan, dan juga kenakalan yang telah mereka perbuat.Kota Jepara, kota yang terkenal sebagai kota Kartini. Sosok pahlawan wanita, yang telah memperjuangkan emansipasi dan hak wanita Indonesia untuk menerima pendidikan.
Mobil yang mereka tumpangi berbelok menuju salah satu rumah yang masih terlihat terang, ini menunjukkan bahwa penghuni rumah tersebut masih terjaga. Pukul 21:30 WIB suasana perumahan tempat mereka tinggal sudah sepi, hanya segelintir orang yang berada di luar.
Pintu utama langsung terbuka lebar, begitu mobil memasuki halaman rumah. Terlihat sepasang parubaya, keluar untuk menyambut kedatangan mereka.
"Dasar bocah nakal ditanya pulang apa nggak, ra njawab⁴. Pulang juga nggak ngomong, yang telpon malah masmu katane udah di jalan" omelan seorang wanita paruh baya langsung terdengar begitu keduanya keluar dari mobil. Nadya, sosok ibu yang selalu berusaha memastikan anak-anaknya dalam keadaan baik. Mengungkapkan kasih sayang dengan omelan merdu yang terkadang sering membuat rindu.
"Mama, !!!" teriak Chayara sambil berlari menghindari tabokan sayang sang mama.
"Ma, Che, udah ih. Udah malem juga, rame banget. Kasian tetangga pada keganggu, " Yudhistira bersuara ketika melihat istri dan anaknya akan memulai membuat keributan.
"Tau tu mama, bukannya nyambut dengan senyuman dan pelukan hangat malah marah-marah, sama mau nabok." sahut Chayara dengan muka tengilnya, yang membuat sang mama semakin gemas.
"Udah, hey. Kasian sama Gema juga, abis nyetir jauh gak bisa langsung istirahat malah lihat kalian ribut." lerai papa yang melihat sang istri kembali berangcang-ancang menuju sang anak, dan memilih untuk membawanya kembali ke dalam.
"Yuk masuk, Mas Gem tidur disini aja ya. Nanti kecapekan kalau langsung pulang kerumah" ucap Chayara sambil menggandeng Gema menuju kamarnya untuk beristirahat.
"Hilih bilang aja takut tidur sendiri".
"Ma,, jangan mulai jahil dong, udah kalian langsung ke kamar aja istirahat, barang nya diurus besok aja"
Ada satu rahasia Chayara yang hanya diketahui oleh keluarga, dia manja dan penakut. Dia tidak akan bisa tidur di kamar asing, bahkan untuk kamar pribadi, apabila sudah lama ditinggal kan seperti sekarang, harus ada yang menemaninya untuk satu malam.
Eits jangan salah paham, Chayara nggak tidur dengan Gema kok. Namun, Chayara tidur bersama adik laki-lakinya. Karena dia punya kebiasaan aneh, yaitu paling nggak suka tidur sama orang lain kecuali keluarga kandung. Dan di rumah itu yang tidur sendiri cuma Chayara dan sang adik karena kakak perempuannya sudah menikah, dan so pasti tidurnya nggak sendiri.
******
Arunika telah menampakan wujudnya, menggantikan eksistensi dari rembulan. Untuk mengantarkan kehangatan kepada jiwa yang sedang merasa kedinginan dan rapuh layaknya sebuah pelukan ibu.Waktu proses terbitnya matahari adalah waktu paling nyaman untuk berbicara dengan diri sendiri, meyakinkannya, sampai menghibur. Karena pada saat itu kita bisa melihat bukti nyata bahwa cahaya terang pasti muncul setelah adanya gelap. Meskipun dengan proses yang panjang, tapi adanya adalah sebuah kepastian.
Seperti yang dilakukan Chayara, ketika pikiran dan hati sedang gundah cukup untuknya mengambil sedikit waktu sendiri beberapa menit, menikmati lukisan sang pencipta, dengan musik yang mampu menenangkan gejolak dada. Sampai tidak menyadari bahwa ada orang yang memperhatikan nya dari lima menit yang lalu.
"Tumben anak papa udah bangun"
"Papa !!!, ngagetin ih. Kalo jantungku ngambek gak mau detak gimana ?" jawab Chayara sambil memegangi dadanya, karena takut jantung nya melompat saking kerasnya detakan.
"Mulutnya, minta di tabok ?." jawab Yudhistira sambil melotot dan mengayunkan tangan seolah ingin memukul mulut Chayara.
"Kenapa, anak papa ada masalah ?. Sini cerita, putri kecil papa sekarang sombong ya, gak mau cerita-cerita". Lanjut Yudhistira dengan menarik Chayara untuk duduk lebih dekat dengannya.
"Bukan sombong papa, aku cuma mau belajar buat menyelesaikan apa yang aku mulai. Aku juga sedang menjelajahi makna hidup dan bentuk kehidupan. Seperti yang pernah papa bilang diulang tahunku yang ke-17"
"selamat ulang tahun putri kecil papa, sekarang udah 17 tahun. Banyak belajar ya terutama tentang tanggung jawab. Setelah hari ini kamu akan bertemu lebih banyak tentang kehidupan, jangan takut untuk sakit, terus belajar, dan jangan abaikan pengalaman yang telah kamu tanam."
"Nak, belajar itu bukan berarti kamu melakukannya sendiri, seperti halnya kamu belajar tentang pelajaran pasti akan ada guru yang mendampingi dan mengarahkan. Begitu pula dengan hidup, kamu bisa minta bantuan orang lain yang menurut mu mampu entah itu mampu menyelesaikan, maupun menerima keluh kesah mu."
"Untuk saat ini everything is fine, terimakasih papa."
"It's okey little princess, papa akan selalu ada dan siap kapan pun kamu butuh"
"Cie, papa saiki keren banget malih nginggres."
"Woh, dasar bocah sableng, lagi mellow juga malah ngenyek. Tak klitiki kene !!"
"Ampun papa !!!"
"Hahahaha"
Dan suasana pagi hari itu sudah dimulai dengan ibarat lampu konser, penuh warna walaupun awalnya redup.
"Makanan dah siap, sarapan dulu semuanya !!!!"
Sampai suara dari nyonya besar menghentikan tawa canda mereka. Dan mereka langsung berlari menuju meja makan sebelum alarm makan tersebut berbunyi lagi dengan lebih keras.
⁴ra njawab "tidak menjawab"

KAMU SEDANG MEMBACA
Little Bird (Ketika Angka Dua Tak Sesuai Cerita)
Genel Kurgu"Adek, ambil jurusan ini aja ya." "Adek, nanti kerjanya sama kakak aja ya". "Adek, buka usaha ini aja ya". Seperti halnya anak burung dalam sarang yang hanya perlu diam, dan makanan akan mendatanginya. Tapi apakah semua itu cukup, jika hanya dapat m...