33.

2.4K 148 8
                                    


Assalamualaikum, apakabar?

Semoga kalian semua sehat, baik secara fisik maupun mental yah. Karena sehat itu penting!!! ,

Apakah sudah selesai tarawih? ( kalau belum , gak mungkin baca wattpad, gimana sih author nih 😂).

Gimana puasa hari pertama tadi, lancar?. Semoga besok puasanya lancar dan barokah😊.

Kalau ada typo, tolong tandain yah 😊

Jangan lupa vote and coment!





Selamat membaca!

Dilla bangun lebih cepat dari biasanya, ia ingin sholat malam sendirian. Agar bisa mencurahkan semua isi hatinya, hanya dia dan Allah.

Kejadian semalam membuat Dilla semakin hancur, ia merasa rumah tangga yang ia jalani begitu berat.

Namun Dilla hanya ingin dikuatkan hati dan mentalnya, juga minta diberikan kesabaran dan keikhlasan dengan segala yang terjadi.

Dilla menangis tersedu-sedu dalam sujudnya, mencurahkan semua yang ada di dalam benaknya.

Sementara Gus Nauzan baru bangun, namun ia heran kemana istrinya. Ia tak ada dikamar mereka, bahkan mukena yang biasa Dilla pakai pun tidak ada ditempatnya.

Akhirnya Gus Nauzan keluar mencari Dilla. Sampai ia mendengar isak tangis seseorang di kamar tamu.

Gus Nauzan membuka pintu kamar itu secara perlahan, memperlihatkan punggung Dilla yang bergetar hebat dengan isak tangis yang lirih namun terdengar memilukan.

"Yah Allah, dia pasti sangat terluka." bathin Guz Nauzan, airmatanya lolos tanpa permisi.

Gus Nauzan memberanikan diri masuk dan memeluk Dilla dengan penuh kehangatan, ia ingin Dilla membagi semua luka yang dia rasakan dengannya.

"Maafin aku yah, maafin aku yang selalu buat kamu terluka." ucap Gus Nauzan lirih karena ia juga ikut menangis.

"Aku ndak kuat mas " ujar Dilla sembari terisak-isak dalam tangisannya, "aku harus gimana ? Sakit banget hati aku."  suara Dilla semakin lirih dan memilukan hati.

Ucapan Dilla barusan membuat Gus Nauzan diam, hatinya terasa tercabik-cabik.
"Bahagiakah Dilla selama ini? sebanyak apa luka dihatinya?. Padahal aku sudah janji untuk membuatnya bahagia, mengobati semua luka masa kecil Dilla. Tapi sekarang semua luka yang Dilla rasakan, karena aku penyebabnya." bathin Gus Nauzan.

Setelah lama saling diam,

"Kita sama-sama kuat yah, kita punya satu sama lain, ada Allah juga sama kita." ujar Gus Nauzan sembari mengeratkan pelukannya.

Sejujurnya ia takut Dilla menyerah, Dilla begitu terluka. Setiap perkataan apapun tentang keturunan pasti Dilla yang akan di salahkan.

Padahal mereka tidak tau sekuat apa dan sebanyak apa usaha yang di lakukan oleh Gus Nauzan dan Dilla.

Bahkan program bayi tabung pun pernah mereka lakukan, namun gagal. Belum lagi sudah berapa dokter mereka berobat dan memeriksakan diri. Namun hasilnya sama, ditambah lagi obat-obatan herbal. Rasanya semua usaha sudah pernah di lakukan.

Tentang Cinta , Waktu & Allah ( Penantian Cinta )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang