"Jika gadis itu memang ingin bertemu, mari bertemu dengan niat yang baik"
-----
Dua bulan setelahnya
Pagi ini tidak seperti hari-hari kemarin. Jika biasanya Yudha akan sulit ditemukan di kantor karena sibuk berkeliling menawarkan kredit pada nasabah, hari ini laki-laki itu bahkan tidak meninggalkan kursinya walau sebentar. Sejak satu-dua jam yang lalu, dia hanya fokus menatap layar komputer yang masih menampilkan desktop. Entah apa yang ia perhatikan pada background biru polos itu.
Setelah sepuluh menit tidak merubah posisi, Yudha akhirnya bangkit. Ia berjalan dengan langkah tegas menuju dapur kantor. Bahkan satu-dua karyawan sempat menoleh lantaran bunyi derap langkah Yudha yang lumayan keras. Siapapun yang mendengarnya seolah bisa menebak suasana hati Yudha yang sedang tidak baik.
Meski jam masih menunjukkan pukul 09.30 pagi, Yudha telah selesai menyeduh kopi hitam pekat untuk dirinya. Laki-laki itu berharap dengan meneguk kopi hangat ini bisa membantunya melupakan kejadian kemarin sore yang membuatnya overthinking semalaman. Lagi, Yudha mengutuk keputusannya datang ke reuni yang tidak ada manfaatnya itu.
"Kesel banget kamu kelihatannya, Yudh."
Yudha menoleh setelah ia menyeruput kopi untuk ketiga kalinya. Ia melihat Satria tiba-tiba saja datang dan kini sedang mengisi gelasnya dengan air putih.
"Eh, Pak Satria. Engga kok, Pak."
"Mas aja."
"Iya Mas," balas Yudha seraya tertawa canggung. Rasanya seperti deja vu. Sekitar dua bulan yang lalu, bukankah hal ini juga terjadi? Bedanya, saat itu Yudha minum air putih dan Satria menyeduh kopi hangat. Hari ini yang terjadi malah kebalikannya.
"Kenapa kamu? Ada masalah kerjaan lagi? Padahal kemarin saya sempat denger kamu udah nambah kredit lagi kan, 75 juta?"
"Iya, Mas. Tapi saya bukan lagi mikirin masalah kerjaan."
"Terus masalah apa?"
Yudha tidak menjawab. Ia malah bermonolog dengan pikirannya sendiri, sedikit merasa tidak pantas bercerita pada Satria tentang masalah pribadinya. Apalagi selama ini, hubungan keduanya bukanlah jenis hubungan yang sering bercerita satu sama lain.
"Santai aja kalau sama saya, mah. Mau cerita juga boleh, ga cerita juga gapapa."
Pada akhirnya, Yudha tetap tidak angkat suara. Ia hanya diam seraya menyeruput kopinya pelan-pelan. Badannya masih sedikit tegap, seolah-olah ia sedang menunggu Satria beranjak dari sana. Tidak bicara sama sekali seperti ini membuat Yudha merasa amat canggung.
"Gimana tawaran saya yang kemarin, Yudh?" tanya Satria tiba-tiba.
Sama seperti sebelumnya, Yudha tidak menuturkan suatu jawaban. Ia sibuk menggali ingatannya. Memangnya apa yang ditawarkan oleh Satria dua bulan yang lalu?
Lima menit, Yudha akhirnya mendapatkan ingatan itu kembali. Ah, pasti maksud Satria tawaran untuk dikenalkan dengan sepupunya itu, kan. Yah, kalau soal itu tidak perlu ditanya lagi. Bagaimana mungkin dirinya bisa berubah pikiran dalam waktu seminggu. Tentu saja jawabannya adalah...
"Boleh, Mas. Saya mau dikenalkan. Mana tau cocok."
Persis setelah Yudha menyelesaikan kalimatnya, Satria terbatuk-batuk akibat tersedak air yang ingin ditelannya.
"Eh, Mas Satria gapapa?" tanya Yudha setengah kaget.
Satria tidak menjawab, masih sibuk terbatuk-batuk. Hey! Yang lebih kaget bukan Yudha, tapi dirinya. Meski menawarkan perkenalan itu, Satria jelas tahu bahwa Yudha akan menolak. Toh, tadi ia bertanya untuk menggoda Yudha saja, agar mood laki-laki itu membaik. Siapa sangka rekan kerjanya ini berubah pikiran begitu cepat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Titik Terang [LENGKAP]
RomanceTentang keluarga dan pasangan. Tentang alur nyata kehidupan. Tentang berdamai dengan semua takdir menyakitkan. Tentang menerima, mencintai, dan saling menguatkan. Cerita tentang titik terang dalam hidup yang gelap dan diselimuti kebohongan.