Setelah putus dari pacarnya, Mica tak menyangka kalau dia akan menemukan laki-laki yang sangat memperhatikannya dengan baik. Lelaki yang memperlakukannya berbeda 360° dari mantan pacarnya. Mica benar-benar dijadikan ratu yang membuat luka dihatinya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . . . . . . . . .
Mica menangis sejadi-jadinya, suara tangisannya memenuhi satu ruangan yang cukup luas itu. Air matanya tumpah di bahu sahabatnya. Lianka dengan sabar mengusap-usap punggung sahabatnya pelan.
"Lepasin aja semuanya, Mi." Bisik Lianka. Dia membiarkan Mica melepaskan semua rasa sedihnya hingga tidak ada sisa. Untung malam ini keluarga Lianka sedang tidak ada dirumah, karena kalau tidak, Mica sudah pasti ditanyai habis-habisan.
Tadi saat ingin tidur, Lianka dikejutkan dengan Mica yang tiba-tiba berada didepan pintu rumahnya. Mata Mica yang sembab tidak kunjung berhenti meneteskan air mata. Dia sudah sesegukan hingga tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun. Mata dan hidungnya sudah memerah.
Lianka melihat kondisi sahabatnya yang sangat kacau segera menarik Mica ke dalam kamarnya. Dia tidak mau bertanya banyak kepada Mica karena dia sudah tau pasti Eno penyebabnya.
Dari awal Mica datang sampai sekarang, Lianka hanya memperhatikan Mica. Memikirkan cara untuk membalas perbuatan Eno. Lianka mengepalkan tangannya kuat, emosinya memuncak mengetahui lelaki tidak tau diri itu berani menyakiti temannya seperti ini. Lianka secepat kilat memgambil kunci motor berniat untuk menghampiri Eno.
Mica yang masih tersedu-sedu itu langsung menarik Lianka yang akan pergi, dia menggeleng pelan. "Gue udah putus. Udah beres kok," ucap Mica sesegukan.
Mata Lianka melotot sempurna mendengar ucapan Mica. Namun, beberapa saat kemudian dia tersenyum lebar. Dia sangat bahagia keinginan terbesarnya sudah terkabulkan. "Sumpah demi apa? Akhirnya doa gue selama ini terkabulkan!" sorak Lianka bahagia. Gadis beralis tebal itu memeluk Mica erat. Bahagia mendengar kabar yang ditunggu-tunggunya sejak lama.
Mica mengerucutkan bibirnya. "Kok lo malah seneng sih? Gue lagi patah hati ini," rajuknya. Mica mengambil tisu yang kesekian untuk mengelap air matanya.
Lianka menaruh kunci motor di atas nakas dan kembali duduk disamping Mica. "Yaiyalah, otomatis kan lo bebas dari cowok matre itu."
Mica memejamkan matanya. "Tapi Li, emang gue sejelek itu ya? Gue masih gak nyangka ternyata Eno beneran gak tulus sama gue," bisik Mica. Tingkat kepercayaan dirinya merosot.
"Mi, gue udah peringatin dari awal sama lo. Tapi lo-nya gak dengerin omongan gue, besok-besok kalo lo deket sama cowo bilang sama gue ya? Dan please dengerin omongan gue. Gue juga mau yang terbaik buat lo," Lianka tak berbohong dengan apa yang diucapkannya barusan. Dari awal Mica memperkenalkannya dengan Eno ada hal yang mengganjal hatinya, makanya dia tak mendukung hubungan Mica. Dia mau yang terbaik untuk temannya ini.
"Lo gak boleh mikirin omongan dia, Mi. Tuh cowok matanya katarak, apaan temen gue secantik ini dibilang jelek. Dia otaknya gak dipake. Ngajak anak orang jalan bisa, ngebiayain gak bisa. Kalo emang dia gak punya uang harusnya dia usaha kumpulin bukannya meras duit lo terus," lanjut Lianka.