❄' 𝙿𝚎𝚗𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕𝚊𝚗.²¹

67 15 0
                                    

༺𝐻𝒶𝓅𝓅𝓎 ❆ 𝑅𝑒𝒶𝒹𝒾𝓃𝑔༻

"Sebanyak itu? Benarkah?" Ice sedikit tercengang katika mendengarkan penjelasan dari kakaknya. Blaze menjelaskan soal warisan yang diberikan oleh nenek mereka. Jumlahnya dapat membuat Ice ternganga.

Tidak banyak sebenarnya, hanya saja dari kecil Ice jarang berurusan dengan lembaran yang digunakan untuk transaksi itu. Jadinya nominal yang baru diucap kakaknya membuat ia terkejut.

"Ya, nenek membahasnya dengan mama dan aku saat itu." Blaze mengangguk mantap saat menjawab pertanyaan dari Ice. Ia juga sedikit menjelaskan rincian kronologi pembagian warisan itu.

"Ah, benarkah. Kurasa aku tak tahu karena tidak diajak." Ice memegang tengkuknya seraya menunduk.

Blaze yang melihat itu lantas panik sendiri. "Hey hey bukan begituu, jangan sedihhh. Itu karena kau control kan? Untuk penyakit mu." Ia berucap dengan nada panik. Jangan lupakan tatapan melas dan tangannya yang menggerakkan badan Ice lalu memeluknya erat.

"Kakak, hentikan aku bukan anak kecil." Ice mendorong Blaze guna melepaskan pelukan. "Tapi kau terlihat seperti anak kecil bagiku." Ice mendengkus kesal. Sontak ia bersendekap, memberikan tatapan seolah olah itu seperti sebuah tantangan. "Oh ya?"

"Benar!"

Ice tersenyum remeh. "Ya, siapa yang tanya." Senyumannya itu bertukar menjadi senyum kemenangan. Sedangkan Blaze mengerucutkan bibirnya. "Jahat ih sama kakak sendiri."

"Kamu nggak ketularan virusnya Solar kan, jutek ke kakak sendiri." Blaze menempelkan tangannya ke dahi Ice. Merasa risih dengan tingkah kakaknya yang sudah mulai mencari alat seperti termometer untuk memeriksanya, apakah ia terjangkit virus jutek dari Solar, Ice pun angkat suara.

"Kakkk! Sifatku dari dulu begini. Bahkan masih lebih parah Solar."

Blaze mehanan tawanya saat mengetahui Ice ngambek. Lucu saja melihat adiknya marah. Kesenangan tersendiri bagi Blaze, dan itu alasan ia selalu menjahili Ice sejak kecil.

Ice berdehem kecil. "Oke serius, kenapa sebanyak itu?" Blaze menatap Ice. "Tentunya kau pasti tahu alasan tersembunyi nya. Kepekaanmu hanya bebeda beberapa tingkatan dari nenek." Ice terdiam lalu berpikir sejenak.

Seketika ia paham, ia paham maksud tersirat neneknya memberikan ia dan kakaknya warisan. "Biaya pengobatan untuk ku?" Ice menerka dengan hati-hati, suaranya ia lirihkan karena takut jika ibunya tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.

"Tepat! Hanya saja ini tidak diberitahukan pada mama."

Ice mengangguk paham. "Begitu, lalu bagaimana perhitungannya."

"Hmm, biar aku ulang. Setengah dari tabungan nenek diberikan kepada kita sedangkan setengahnya lagi untuk dilanjutkan mama papa. Total tabungan nenek adalah delapan puluh juta dan masing masing dari kita mendapat dua puluh juta."

Blaze langsung merangkul adiknya yang lagi lagi masih terkejut dengan jumlah warisan yang diterimanya. Ia mengacak rambut Ice yang sudah tertata rapi. "Hitung hitung untuk biaya pengobatanmu."

"Iya benar, alhamdulillah."

"Blaze! Ice! Teman kalian datang!" Mendapat panggilan dari Mrs Flare sontak keduanya langsung menoleh kearah pintu kamar Ice. "Iya, Ma! Sebentar lagi aku kesana!" Reflek Blaze langsung menjawab panggilan ibunya.

"Aku berani bertaruh itu Kak Thorn dan Solar." Siapa lagi jika bukan 2 kakak beradik itu pikir Ice. "Taruhan huh? Bagaimana jika bukan?" Merasa anggapan sang adik kurang tepat baginya, ia mengajukan tantangan. Soalnya Blaze sudah terkenal sekarang begitu juga dengan Ice, pasti banyak yang datang untuk memberi belasungkawa.

❄✧.*𝔇𝔯𝔢𝔞𝔪 .*✧❄Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang