Liand terkejut saat melihat Maya masih berada di meja sekretaris.
Perempuan yang rambutnya digelung ke atas itu sedang serius menatap layar ponselnya. Melihat kedatangannya, perempuan itu segera melepas gelungan rambut, merapikannnya dengan jari, lalu menurunkan ponsel dan memberikan senyuman yang sangat cantik. Tidak bisa dielak, jantung Liand berdetak rusuh.
"Hanya perasaanku saja, atau ... kamu memang lebih senang lembur di kantor?" tanya Liand saat berdiri di depan meja sekretaris. Pasalnya, tidak sekali ini dia mendapati sang sekretaris magang ini masih duduk di tempatnya di luar jam kantor.
Maya tersenyum lebih lebar. Bibir merah mudanya terlihat semakin tipis. "Ada pekerjaan yang belum saya selesaikan, Pak. Saya harus tinggal di kantor lebih lama."
Liand menggeleng tak mengerti. "Ardi saja jarang lembur. Kamu yang cuma pegawai magang malah hobi lembur."
Meskipun disindir setajam itu, senyuman di bibir Maya tidak pernah memudar. "Ada yang perlu saya bicarakan dengan Bapak. Apa Bapak ada waktu sekarang?"
Pertanyaan itu membuat Liand bersenandika dalam hati, hal penting apa yang perlu Maya bicarakan? Apakah perempuan ini minta diangkat menjadi pegawai tetap menggantikan Ardi? Jika iya, maaf saja. Liand tidak akan mengabulkan permintaan itu.
Namun, karena masih dalam bentuk spekulasi saja, Liand mengangguk menanggapi pertanyaan sekretarisnya. "Kita bicara di ruanganku."
"Baik, Pak." Maya berdiri dan berjalan mengekor di belakangnya.
Setelah meletakkan iPad di meja, Liand duduk di kursi kebesaran, berhadapan dengan Maya yang duduk di kursi tamu. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Maya meremas tangan secara gusar, lalu menatap Liand dengan mata bulatnya yang hitam legam. "Sebenarnya, saya ingin membahas masalah ini sejak tadi. Tapi Bapak masih sibuk. Saya jadi sungkan mau ngomong."
Liand mengepalkan kedua tangan di atas meja. "Aku sudah tidak sibuk. Katakan apa yang mau kamu bicarakan."
Maya mengangguk lalu menunduk untuk menekan gugup. Beberapa detik kemudian, dia mengangkat wajah lagi. "Uang yang Bapak berikan pada saya, sebagai ganti uang sewa kamar apartemen, mohon maaf, Pak. Saya ... tidak bisa menerimanya."
Dahi Liand berkerut mendengar permintaan maaf sekretaris magangnya. "Kenapa?"
Bukannya menjawab, Maya malah balik bertanya, "Kenapa Bapak memberikan uang itu untuk saya?"
Liand menghela napas lelah. Mengapa harus ada alasan untuk setiap pemberiannya pada Maya?
"Aku nggak ingin gajimu habis hanya untuk bayar uang sewa." Liand memberi penjelasan, masih mengepalkan tangan di atas meja.
Maya menunduk lagi, mengambil tisu dari saku kemeja lalu mengusap pipi dan hidungnya.
"Maya?" Liand memajukan wajah untuk melihat lebih jelas, apa yang sedang terjadi pada sekretarisnya. "Kamu menangis?"
Maya menggeleng, lalu mendongak dengan hidung memerah. "Saya agak flu."
Liand mengernyit mendengar jawaban itu. Benarkah?
"Tapi, Pak ... biaya sewa apartemen itu bukan tanggung jawab perusahaan. Apalagi, saya cuma pegawai magang di sini yang seharusnya tidak mendapat fasilitas-"
"Itu uang dariku, bukan uang perusahaan." Liand memotong cepat ucapan Maya. "Aku memberi uang itu padamu agar kamu bisa memanfaatkan gaji magangmu sebaik-baiknya."
Maya menunduk lagi. Kali ini bahunya berguncang. Isak tangisnya turut terdengar.
"Serius, Maya. Apa kamu menangis?" tanya Liand semakin penasaran.

KAMU SEDANG MEMBACA
Toxic Temptation NEW VERSION (Versi Novel)
RomanceTidak hanya direnggut keperawanannya, Humaira juga harus mengandung dan melahirkan anak Fahri. Dengan semua kepahitan itu, Liand bersedia menikahi Humaira. Demi nama baik keluarga mereka. Demi cintanya pada Humaira. Akan tetapi, pernikahan tidak mem...