"Halo Ray, dimana Loe?"
Suara dari sebrang telepon terdengar begitu santai menanyakan dimana ke beradaan Rayen.
"Gedung baru, sebelah selatan."
"Oh oke hati-hati bro. Gue takutnya gang si Rio tiba-tiba nyerang loe lagi." Desta sedikit terkekeh dalam sambungan.
"Gue bukan anak kecil." Jengah mendengar suara Desta.
"Iya iya terserah. Udah lah, lanjutin aja menyendiri, bye."
Sambungan telepon terputus satu pihak. Rayen kembali menyimpan ponselnya didalam saku. Laki-laki itu perlahan melangkah memasuki lobi gedung baru yang terlihat seperti belum jadi. Mungkin saja gedung itu kehabisan dana untuk meneruskan pekerjaannya atau memang sudah tidak dilanjutkan karena alasan tertentu.
Ini adalah tempat favorit Rayen untuk menyendiri. Walaupun bangun gedung ini belum selesai, tapi beberapa pondasi sudah menjulang sampai bagian rooftop. Laki-laki itu duduk dilantai paling atas gedung, duduk di pinggiran sembari mengayunkan kakinya perlahan.
"Gue nggak pernah ngalamin semua ini sebelumnya." Memulai monolognya.
"Apa gue terlalu egois untuk membenci semuanya?"
Laki-laki itu tersenyum miris pada dirinya sendiri. "Egois banget kalau gue dusta sama diri sendiri. Egois!"
Rayen menatap langit terbuka.
"Apa gue harus buang rasa egois ini demi perasaan gue?"
***
Pagi yang cerah menyambut hari-hari penuh tugas selanjutnya. Rayen melangkahkan kakinya dengan sangat cepat, tak memperdulikan khalayak disekitarnya.
Brukh.
"Aduh!"
Benturan antara dua tubuh terdengar sedikit menggema dilorong sekolah yang sedikit sepi. Seorang gadis jatuh keatas lantai.
"WOY! Loe bisa nggak sih kalau jalan itu pakai mata? liat-lihat gitu! Udah tahu ada manusia lagi ngobrol disini main tubruk aja! Edan!"
Suara cerewet gadis berperawakan lebih tinggi, cantik, putih, rambutnya panjang sampai pinggang.
"Jalan itu pakai kaki!" Rayen balas nyolot.
"Loe itu! Udah tahu salah! Masih aja bikin orang kesel!" Balas gadis itu masih dengan tatapan tajam pada Rayen.
Rayen berdecak kesal. "Sikap introspeksi diri loe udah hilang gitu? Loe yang ngobrol ditengah jalan, loe yang nyalahin orang jalan di jalan yang udah bener!"
"Loe yang udah bikin gue jatuh tadi! Jadi kesalahannya jauh lebih besar di loe!" Gadis itu menudingkan tangannya.
"Nggak usah tunjuk-tunjuk gue." Rayen menghempas lengan itu kasar dan melenggang.
"Laki-laki bedebah loe!"
Gadis itu berusaha mengejar Rayen namun sayang kakinya tersandung oleh kakinya sendiri. Alhasil ia kehilangan keseimbangan dan menubruk Rayen.
Tatapan mereka berhasil bertukar pandang. Di lorong yang sama juga pada waktu itu Aza datang dengan sedikit tergesa harus menyaksikan fenomena itu.
Entah kenapa gadis itu merasa mood di pagi harinya itu kini telah hilang bersama dengan penuturan matanya yang merambat menyaksikan. Kenapa hati Aza begitu sakit saat melihat Rayen yang terjatuh bertatap dengan gadis lain. Apa benar Aza telah menaruh hati pada Rayen? Lalu siapa gadis yang jatuh itu? Pacar Rayen? Mereka bertengkar lalu jatuh bersama?
Aza tak kuat untuk melihatnya lagi, gadis itu memasang muka temboknya dan berjalan begitu saja melewati dua orang yang tengah terjatuh itu. Rayen dengan cepat mengalihkan pandangannya dari gadis galak tadi setelah sekilas melihat Aza.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kamu Milik 'Ku [On Going]
Novela Juvenil📍New Cover Kita dibuat untuk menjalani takdir dan mencintai takdir. Terutama menghargai setiap momen dalam perjalanan hidup. Banyak typo! WARNING ⚠️ ▪️CERITA INI TIDAK DI TULIS ATAU BERADA PADA APLIKASI NOVEL ATAU BACAAN LAIN. INGAT! ▪️CERITA I...