• Enam •

125 46 0
                                    

SELAMAT DATANG DI CERITA
BACKSTREET

⚠️ WARNING‼️ PLAGIAT DILARANG MAMPIR ⚠️

HAPPY READING
-

Gala mengendarai motor sportnya dengan kecepatan sedang, tidak terburu-buru, namun cukup nyaman untuk menikmati angin yang menerpa wajah.

Di belakangnya, Vina memegang jaketnya dengan sedikit canggung, berusaha menjaga jarak meski duduk di satu jok yang sama.

Mereka baru saja melewati tikungan tajam ketika Gala tiba-tiba menarik rem secara mendadak.

Ban motor berdecit ringan, membuat Vina refleks memeluk Gala erat-erat dari belakang. Dadanya berdebar kencang, sementara tangan Gala tetap stabil di stang motor.

Di balik helm fullfacenya, Gala menyunggingkan senyum penuh arti. "Eh, maaf, ya. Tadi ada kucing lewat," ucapnya dengan nada dibuat-buat, melirik Vina sekilas melalui kaca spion.

Vina yang masih memeluk Gala segera sadar dan buru-buru melepaskan pelukannya. Wajahnya memerah, meskipun tidak terlihat karena helm yang ia pakai. "Ah, iya... gak apa-apa," balasnya gugup.

Namun, saat tangannya nyaris terlepas dari tubuh Gala, laki-laki itu menahan tangannya dengan satu gerakan kecil. "Peluk aja terus," katanya santai, seolah itu hal biasa. "Biar gak jatoh kalau aku ngerem lagi."

Vina terdiam. Pipinya makin memanas. Tapi, dengan sedikit malu-malu, ia kembali memeluk Gala. Kali ini lebih erat, tanpa banyak berpikir lagi.

Merasakan itu, Gala hanya tertawa kecil, merasa berhasil dengan trik kecilnya. Di sepanjang perjalanan, senyum puas tak kunjung hilang dari wajahnya.

Motor terus melaju di jalanan yang semakin sepi, hanya ditemani deru mesin dan angin yang berhembus lembut.

Vina masih memeluk Gala, mencoba menenangkan dirinya dari rasa malu yang mendominasi. Jantungnya berpacu tak karuan, apalagi setelah Gala dengan santainya meminta pelukan tadi.

"Nyaman, kan?" tanya Gala tiba-tiba, suaranya terdengar santai tapi penuh godaan.

Vina mendongak sedikit, mencoba menatap punggung Gala meski tahu ia tak bisa melihat wajahnya. "Nyaman apanya? Kamu bikin jantung aku hampir copot, Gala!" gerutunya pelan, tapi terdengar manja.

Gala terkekeh, suaranya terdengar jelas meski terhalang helm. "Makanya, peluk aja terus. Siapa tau aku ngerem mendadak lagi."

Vina mendengus, tapi pelukannya justru semakin erat. "Dasar modus!"

Motor Gala berhenti di sebuah area parkir yang sedikit sepi. Udara dingin khas bukit mulai terasa, membuat Vina merapatkan jaketnya.

Ketika Gala mematikan mesin motornya, ia melepas helm dan menoleh ke arah Vina yang masih sibuk melepas helmnya sendiri.

"Ayo turun, aku mau tunjukin sesuatu." ujar Gala dengan nada penuh rahasia.

Vina turun dari motor dengan sedikit ragu. Ia mengikuti Gala yang melangkah menuju pagar pembatas di pinggir area cafe.

Begitu pandangannya terbuka, Vina langsung tertegun. Di hadapannya, lampu-lampu kota tampak gemerlap, seperti lautan cahaya yang tak berujung. Langit malam bersih, dihiasi bintang-bintang kecil yang membuat pemandangan semakin sempurna.

"Wah..." Vina menganga, tak bisa menutupi rasa takjubnya. "Keren banget!"

Gala tersenyum melihat reaksi Vina. "Bagus, kan? Aku tau kamu pasti suka."

Vina menoleh ke arah Gala, wajahnya berbinar-binar. "Ini pertama kalinya aku ke tempat kayak gini. Serius, Gala, aku gak nyangka bisa liat pemandangan sekeren ini. Thanks, Gala!"

Gala menyandarkan dirinya ke pagar, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket. Ia menatap Vina dengan lembut, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Kalau gitu, aku senang banget bisa jadi orang pertama yang ngajak kamu ke sini."

•••
don't forget to vote n comment ‼️

BACKSTREET (SELESAI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang