"Ayo dek"
Junkyu menerima uluran tangan sang suaminya. Sementara tangan kanannya sibuk menggandeng tangan Hikaru agar tidak kehilangan ditengah khalayak ramai.
"Belum pernah naik sepur ya?"
Junkyu mengerjapkan matanya bingung, membuat Haruto terkekeh kecil melihat ekspresi menggemaskan yang tak sengaja istrinya perlihatkan.
"Sepur iku kereta pih" justru Hikaru yang menjawab, malas melihat papanya yang malah cengengesan tidak jelas daripada menjelaskan kebingungan pada papihnya.
"Oh..." beo Junkyu paham, mengusak lembut rambut sang putrinya yang ia kuncir kuda. "Kamu kok lebih pinter sih, padahal papih udah lama bareng sama papa" imbuhnya lagi.
Hikaru tersenyum sombong. Melepaskan kacamata hitamnya dan memberikannya pada salah satu jejeran bodyguard yang berdiri dibelakang mereka dengan gaya khas sultan.
"Disekolahku diajarin bahasa jawa, bukan matkul wajib sih cuma tambahan kok" jelas Hikaru membuat Junkyu tersenyum bangga dan mengangguk paham.
Keluarga bahagia itupun segera keluar dari stasiun. Tertera papan bertuliskan Solo yang membuat senyum Junkyu mulai melengkung.
Meskipun disisi lain ia merasa khawatir dan cemas bagaimana caranya menghadapi keluarga Haruto, lantaran ia tak pandai berbahasa jawa halus.
"Gapapa dek, nanti mas ajarin pelan-pelan. Kan tujuan kita disini buat liburan sama silahturahmi" jelas Haruto mengetahui kegelisahan istrinya.
Koper yang berisi baju dan perlengkapan mereka diletakkan dibelakang bagasi mobil milik keluarga Hanbin.
Supir yang terlihat mengenakan blangkon dan beskap dengan nuansa jawanya yang kental tampak menunduk hormat pada mereka.
"Tumben teng mriki budhal ngangge sepur, den" sang supir yang terlihat masih muda bertanya ketika mobil sudah berjalan.
[Tumben kesini berangkat pakai kereta, tuan"
Haruto tersenyum sebelum menanggapi. "Niki bojo kulo sing kersa, mas" balasnya dengan sopan.
[Ini istriku yang minta, mas]
Terlihat supir mengangguk paham. "Ngapunten den, tapi bojone sampeyan ayu pisan. Cocok kaleh den Haruto sing rupane bagus" kekehnya sembari menggaruk tengkuk canggung.
[Maaf tuan, tapi istrimu cantik banget. Cocok sama tuan Haruto yang wajahnya ganteng"
Haruto tertawa pelan takut membangunkan Junkyu yang tertidur bersandar pada bahu kanannya. Sementara bahu kiri digunakan untuk Hikaru.
"Wooo yo jelas mas, papihku pancen ayu. Aku wae pengen ngerabi karo papih"
[Wooo ya jelas mas, papihku emang cantik. Aku aja pengen nikah sama papih"
Plak!
"Hush! Lambemu lho dek" ketus Haruto menepuk pelan bibir Hikaru yang kini maju beberapa senti.
Mobil mewah itu berhenti dirumah yang atap rumahnya terlihat tinggi dan besar. Layaknya seperti keraton dengan pekarangan yang sangat luas.
Hikaru yang bak seperti baterai energinya paling penuh pun dengan semangat turun terlebih dahulu meninggalkan kedua orang tuanya didalam mobil.
"Adek..." panggil Haruto lembut menepuk pelan pipi Junkyu yang masih tertidur.
Sejenak ia terkekeh lucu bagaimana bibir itu terbuka sedikit dan maju beberapa senti dengan pipinya agak tergencet dibahu lebarnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Angry Husband [END] ✓
Fanfiction[SEQUEL : Angry Boyfriend] Membangun rumah tangga itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Junkyu tak pernah menyangka jika hubungan mereka bisa sejauh sampai titik ini. Tapi, ia lebih tak menyangka jika Haruto yang dulunya nakal, manja dan cengeng pa...