2

532 66 6
                                    

"Kau ternyata. Permata itu masih ada."





Di depan pintu gerbang arena sudah penuh dengan manimal-manimal yang sudah tak sabar menyaksikan pertandingan yang sudah menjadi tradisi turun temurun oleh nenek moyang penduduk kota Deadalus. Di sini terdapat tiga arena, dua arena akan digunakan secara bersamaan agar mempersingkat waktu agar tidak terlalu lama mencapai final.

Jadwalnya hanya butuh satu hari penuh untuk menentukan siapa yang akan maju ke grand final. Dan esok sehari penuh untuk beristirahat dan besoknya bertanding lagi. Setelah itu istirahat lagi sehari baru pemenang akan ditentukan dalam pertandingan final di arena utama yang terletak di tengah antara tiga arena.

Oh ya, ada yang menarik. Peraturannya bebas untuk menggunakan cara apapun untuk menyingkirkan lawan. Satu-satunya cara untuk menang adalah mengalahkan lawan hingga salah satu dari mereka menyerah. Bila tidak, mereka harus bertarung hingga salah satu dari mereka mati. Cukup mengerikan, tapi terdapat batas berbentuk lingkaran penuh yang memiliki luas dua ratus meter, jika keluar dari batas berarti kalah.

Meski peraturannya begitu, para penduduk sangat antusias mengikuti dan menyaksikan. Salah satu cabang pertandingan ini bahkan mengundang perhatian para bangsa lain, seperti para Vikings misalnya.

Dan mungkin tahun ini pertandingan yang diadakan oleh Yoobin sebagai pemimpin dan Irene sebagai jenderal ketahanan membuat bangsa seperti beberapa pheonix, gorgon dan beberapa bangsa kuat lainnya ikut menyaksikan. Tentu ada alasan kuat yang membuat mereka mau datang jauh-jauh ke Deadalus.

Dulu, ada kabar jika dua manimal dari kota Deadalus berhasil menaklukkan minotaur di reruntuhan istana Utara membuat para bangsa lain yakin, jika pertandingan ini akan menarik dan layak untuk ditonton. Tentu saja ini menjadi keuntungan para warga Deadalus sendiri, terutama Yoobin dan Irene.

Yoobin dengan pakaian pemimpin khas kota Deadalus berjalan dengan tegap menuju podium yang telah disediakan. Dengan Irene sebagai jenderal ketahanan. Seluruh manimal dan makhluk lain yang sedang asyik menebak pemenang pertandingan padahal belum dimulai, perhatian mereka langsung tersita dengan Yoobin yang sepertinya akan membuka acara.

"Bonum mane all. Saya Lee Yoobin, pemimpin kota Deadalus. Saya sangat senang melihat antusiasme para warga Deadalus dan para peserta pertandingan adu pedang yang akan diadakan selama lima hari ini." Pembuka Yoobin penuh wibawa, membuat kebanyakan takjub dengan wanita Lee itu.

"Dan saya sangat senang para bangsa lain juga turut menyaksikan pertandingan ini, suatu kebanggaan tersendiri bagi kami, maka dari itu saya ucapkan selamat datang ke kota Deadalus. Dan tak perlu berlama-lama lagi, dengan terompet yang dibunyikan, saya dengan bangga mengatakan pertandingan dimulai!"

Tak lama setelahnya suara terompet menggelegar, bunyinya memenuhi kota Deadalus yang saat ini berpusat pada arena yang berlokasi di Tenggara. Para penonton mulai memenuhi kursi yang ada di arena pertama dan kedua. Mulut mereka tak berhenti terkagum-kagum dengan list peserta yang mengikuti pertandingan.

Yoobin tidak ikut menyaksikan. Ia sibuk dengan mengawasi keadaan sekitar, berjaga-jaga jika para kelompok berjubah itu datang dan memporak-porandakan seluruh pertandingan. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Dari kejauhan, Yoobin hanya dapat mendoakan adiknya selamat, tidak peduli Jeno menang atau tidak dipertandingan ini. Selama ini ia selalu melatih adiknya sendiri dengan keras agar adiknya dapat melindungi diri dari para musuh yang akan menyerang jika ia tak ada. Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan pada adik kecilnya, sisanya Yoobin menyerahkan hidup Jeno di tangan Jeno sendiri.

The Shadow King's Precious Gem || JaemJen Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang