Part 13

816 41 3
                                    

Luhan POV
Aku terbangun dari tidurku di pagi hari. Aku terlambat bangun! Aku berniat untuk menemui Clara ke Bandara karena ia akan segera pulang ke Seoul. Aku merogoh saku belakangku untuk mencari dompetku. Tapi itu tak ada disakuku. Ahh.. Dimana aku menyimpannya?!!! Bisa-bisa aku terlambat lagi.

Aku membuka selimutku, membuka laci di nakasku, merunduk ke kolong meja dan kasur, membuka lemari bajuku, dan terus mencari dompet itu. Sial!!! Mengapa disaat aku terburu-buru selalu seperti ini?!

Tok~ Tok~ Tok~
Seseorang mengetuk pintu kamarku. Ia membuka pintu dan memunculkan kepalanya di sela-sela pintu yang terbuka, Tae mi rupanya.
"Apa aku mengganggumu?" Tanyanya.
"Eunggg... Anhi! *menggelengkan kepala* Masuklah!!!" Ia memasukki kamarku. Tangannya terlihat seperti memegang sesuatu.
"Aku ingin mengembalikan ini!" Ia menyodorkan benda berwarna hitam itu. Rupanya itu dompetku.
"W... Wa.. Wae? Mengapa ini bisa ada padamu?" Tanyaku kebingungan dan sempat aku terbata-bata.
"Aku menemukannya tergeletak di lantai di dekat nakasku." Jawabnya sambil menundukkan kepalanya.
" *mengangkat kepalanya dengan telunjukku* Hey!" Aku sangat ingin berterima kasih padanya.
"Gomawo, Tae mi-ahh!" Lanjutku, tiba-tiba aku mengejutkannya karena aku memeluknya begitu saja. Aku tak tahu kenapa? Sepertinya tanganku sudah tak terkendali.
"Oppa.. *ia memukul-mukul punggungku* Lepaskaann!!!"
"Ahh.. Maafkan aku!" Segera aku melirik jam tanganku. Sudah menunjukkan pukul 8 pagi ternyata. 15 menit lagi Clara akan berangkat.
"Aku sudah terlambat! Temuilah aku di jembatan kemarin itu pukul 12 nanti!" Teriakku, kemudian meninggalkannya tanpa berkata sedikitpun.

Aku bergegas ke dalam Bandara dan mencari Clara. Sesekali aku melihat jadwal penerbangan yang terpampang jelas di layar besar. Disitu terpampang jelas jika penerbangan menuju Seoul telah diberangkatkan. Sial!!! Aku terlambat!! Sepulangnya aku ke Seoul pasti ia akan mengomeliku habis-habisan. Dan... Ya, soal ungkapannya yang mengejutkan kemarin itu belum sempat kujawab.

Aku kembali ke mobilku dan kulihat ponselku yang sedari tadi tertinggal di bangku belakang ini berdering, pertanda ada panggilan masuk. Kulirik ponselku, yang tertera hanya nomer tanpa namanya. Aku memutuskan untuk mengangkatnya.
"Bersama Tuan Xi Luhan? Apa benar?" Seseorang disana berbicara bahasa mandarin sangat fasih.
"Ya, itu aku."
"Tadi sekitar pukul set. 8 ada kecelakaan di jalan tol menuju bandara. Apa kau mengenal Nona Clara? Ia sedang dalam keadaan kritis sekarang, "
"Apa?!" Aku tercengang mendengar ucapannya itu.
"Iya, Nona Clara mengalami kecelakaan cukup hebat. Ia mengalami pendarahan dikepalanya. Sekarang dokter membawanya ke ruang UGD untuk operasi. Bisakah kau kemari untuk menandatangani surat perwakilan dari Nona Clara?"
"Baiklah, aku segera kesana!" Tanpa ragu-ragu aku membanting setir ku dan menancap gas dengan kecepatan yang cukup tinggi. Aku tak peduli semua pengendara lain yang memandangku sebagai pengendara yang ugal-ugalan. Yang terpenting adalah Clara! Clara! Dan, Clara!

Setibanya di Rumah Sakit yang kutuju, akupun berlari ke dalam dan mencari ruang UGD. Setelah menemukannya akupun terduduk di kursi tunggu. Tak henti-hentinya aku berdo'a dan meminta yang terbaik untuknya. Tapi jika Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk bertemu dengannya, aku sangat ingin meminta maaf karena keterlambatanku sehingga tak bisa menjemputnya.

Disisi lain aku teringat akan janjiku dengan Tae mi pukul 12 siang ini. Aku pun cepat-cepat mengiriminya pesan untuknya agar tetap berdiam di rumah.

Tae mi POV
Aku mendapat pesan dari Luhan oppa jika ia tak bisa menemuiku. Akupun teringat dengan malam kemarin ketika aku membuka dompetnya. Esok adalah hari ulang tahunnya. Sesegera mungkin aku membuka browserku dan mencari resep untuk membuat tirramissu cake untuknya. Aku tahu, ia sangat menyukai tirramissu cake! Setelah itu aku menggendong tasku dan pergi ke supermarket.

"Tae mi-ahh!!!" Aku dan trolley ku terhenti ktika mendengar panggilan itu. Aku pun mencari sosoknya ke sumber suara.
"Baekhyun oppa? Kau disini juga?" Tanyaku seraya tersenyum.
"Umm.. Kita bertemu lagi!"
"Whoaa!!! Kau membeli apa? Mengapa banyak sekali?" Ia mengacak-ngacak isi trolley ku.
"Hehe.. Aku hanya membeli keperluan untuk di rumah." Jawabku singkat.
"Oh ya, bagaimana keadaan kedua orangtuamu? Dan, kau tinggal dimana sekarang?" Tanyanya melemah.
"Aku tinggal di rumah temanku."
"Ahh.. Begitu ya? Lalu.."
"Yaa!! Baekhyun!!! Apa yang membuatmu begitu lama?" Disudut lain aku menemukan yeoja yang kupikir sedari tadi mencarinya.
"Aku duluan ya!" Ia meninggalkanku.
"Ne, oppa."
"Kau masih sama, oppa!" Gumamku tiba-tiba.

Like The First Sight [EXO FanFiction]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang