14. Berlian

570 44 0
                                    

Selina mengerjap dan sadar bahwa saat ini dirinya tengah berada di bawah lindungan kain yang cukup hangat. Lalu ia pun mengintip Nico yang kini tengah berusaha untuk mempertahankan api dalam perapian agar tetap hidup. Untungnya, tadi malam masih tersisa beberapa buah kayu bakar yang tidak sempat digunakan, hingga pagi harinya bisa ia gunakan untuk menghangatkan ruangan pondok tersebut. Tentu saja suasana hati Nico sangat baik, mengingat waktu yang sudah mereka habiskan sebelumnya benar-benar sangat memuaskan. Ia bisa makan energi Selina dengan leluasa, dan secara mengejutkan energi milik Selina benar-benar sangat lezat.

Sebenarnya, situasi ini sangat berbeda daripada situasi yang pernah Nico hadapi sebelumnya. Biasanya, Nico akan menyusup ke dalam mimpi wanita yang sudah ia tandai dan mencicipi energi mereka dengan menciptakan mimpi erotis. Lalu ia akan berinteraksi secara langsung dan tidur bersama dengan mereka, jika memang energi yang ia nikmati cukup lezat. Namun, kini berbeda. Nico langsung tidur dengan Selina, tanpa menciptakan mimpi erotis atau memastikan terlebih dahulu bagaimana energi yang dimiliki oleh Selina. Meskipun begitu, Nico sama sekali tidak merasa kecewa.

Ternyata Selina memang berlian yang sebelumnya luput dari perhatiannya. Dia sungguh berharga dan memukau bagi Nico. Sesaat kemudian, Nico pun menoleh dan mendapati Selina yang berusaha menghindari pandangannya. "Kau sudah bangun? Ingin mengenakan pakaianmu terlebih dahulu, atau minum?" tanya Nico sebab ia tahu bahwa Selina pasti kehausan.

"Ba, Baju. Aku ingin memakai bajuku terlebih dahulu," jawab Selina gugup karena merasa malu dengan kenyataan bahwa dirinya saat ini tidak mengenakan apa pun di bawah kain yang digunakan sebagai selimutnya.

Dengan pengertian Nico pun meletakkan pakaian Selina yang sudah kering dan dilipat dengan rapi di dekat perempuan itu, sebelum kembali berbalik menghadap perapian. Meskipun tadi malam mereka sudah menghabiskan malam panas yang sangat menyenangkan, Nico tahu jika Selina masih merasa canggung dan merasa malu. Karena itulah, kini Nico tengah membiarkan Selina untuk berpakaian dengan nyaman.

"Apa sudah selesai?" tanya Nico setelah dirinya tidak mendengar suara gemerisik berpakaian.

"Sudah," jawab Selina pelan dan lagi-lagi berusaha untuk menghidari pandangannya Nico ketika pria itu berbalik untuk menatap perempuan yang sudah menghabiskan malam bersama dengannya itu.

"Ini, minumlah," ucap Nico sembari memberikan botol air dari tasnya. Sebelumnya, mereka memang menggunakan persediaan makanan dan minuman milik Selina. Mereka berusaha berhemat, dengan menyimpan persediaan milik Nico untuk siang hari dan proses perjalanan pulang nantinya.

Selina tentu saja menggumamkan terima kasih dan meminumnya, sebab dirinya memang benar-benar merasa sangat haus. Namun, saat itu Nico tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa milikmu masih terasa sakit?"

Tentu saja pertanyaan tersebut membuat Selina tersedak. Nico pun bergegas untuk membantu Selina, tetapi Selina segera memberikan isyarat yang meminta Nico untuk tidak mendekat padanya. Dari posisinya saat ini, Nico bisa melihat jika wajah dan telinga Selina mulai memerah. Tampaknya perempuan itu tengah merasa malu karena bahasan Nico tersebut.

Diam-diam, Nico pun mengulum senyum. Sungguh, Selina terlihat sangat seksi setelah dirinya terbangun dari tidur yang nyaman sehabis menghabiskan malam yang panas dengannya. Namun, sepertinya Selina tidak menyadari hal tersebut, dan hal itu benar-benar membuatnya semakin menggoda bagi Nico.

"Tolong jangan membicarakan hal itu dengan terlalu terbuka. Karena itu membuat saya malu," ucap Selina tidak bisa menyembunyikan rona merah yang menghiasi wajahnya.

Nico pun mendekat dan mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut rona merah tersebut. "Betapa cantiknya," puji Nico dengan tulus.

Selina memang benar-benar cantik. Karena penampilan yang biasanya selalu tertata rapi, dengan rambut terikat ketat, kini sudah lagi tidak terlihat. Mengingat kini rambut Selina tergerai dengan cukup acak-acakan, serta pakaian yang dikenakan secara sekenanya. Sungguh, Selina benar-benar menggoda di mata Nico. Namun, dirinya tidak bisa segera menyerang Selina, sebab ia sadar harus menahan diri. Setidaknya, hingga ia memastikan Selina baik-baik saja dan mereka turun dari gunung tersebut. Sebab kini, badai sudah berhenti.

Mimpi Panas 3 : Selina & NicoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang