24. Mustahil

218 35 0
                                    

Lia menghalangi jalan Selina saat Selina baru saja ke luar dari gudang untuk membawa persediaan timnya. Tentu saja Selina mengernyitkan keningnya saat melihat Lia tersebut. "Ada apa?" tanya Selina.

"Apa kau tidak tahu malu? Kau berpura-pura polos, tetapi pada nyatanya di masa lalu kau sudah mengkhianati kekasihmu sendiri, dan sekarang kau dengan tidak tahu malunya menjalin hubungan baru di hadapan pria yang telah kau sakiti," cela Lia secara terang-terangan. Bahkan, kini Lia sudah tidak lagi menggunakan bahasa formal.

Selina sama sekali tidak terlihat terkejut. Ia memberikan tatapan dingin pada Lia dan menghela napas. Ia tahu, jika suatu saat Lia akan menghadapinya dengan cara seperti ini di saat ia masih tidak memberikan reaksi atas semua gangguan yang ia berikan. Selina bukan orang yang bodoh. Ia bisa dengan mudah menyimpulkan, jika sepertinya Lia yang menjadi dalang dari semua desas-desus buruk dari dirinya. Ada pula kemungkinan, bahwa Lia dan Jacob juga sudah bertukar informasi, hingga Lia bisa menyebar sedikit fakta bahwa Selina dan Jacob pernah menjalin hubungan di masa lalu.

"Apa sekarang kau tengah marah karena aku menjalin hubungan dengan pria yang kau sukai?" tanya Selina juga melepaskan bahasa formalnya. Menurutnya, ia tidak perlu lagi menghadapi Lia dengan sopan di saat seperti ini.

Lia menipiskan bibirnya. "Kau tau, jika aku memiliki perasaan pada Nico. Tapi, kau masih dengan tidak tahu dirinya merebut semua perhatiannya dan bahkan menjalin hubungan dengannya. Kau benar-benar tidak tahu diri, sekaligus tidak tahu malu," ucap Lia dengan pedasnya.

Meskipun begitu, Selina masih terlihat tenang. Karena lagi-lagi, Selina pernah menghadapi situasi seperti ini di masa lalu. Selina memiliki berbagai pengalaman hidup. Ia mengalami banyak hal yang membuat dirinya memiliki banyak pengalaman untuk menghadapi berbagai situasi yang membuatnya terdesak. Selina pun bertanya, "Lalu sekarang apa? Apa yang kau inginkan?"

"Tentu saja mudah. Aku hanya ingin kau memutuskan hubunganmu dengan Ketua Tim," jawab Lia tanpa ragu sedikit pun.

Selina yang mendengar hal itu pun tersenyum dan menjawab, "Sayangnya, aku tidak akan melakukan hal itu."

"Kau!" seru Lia terlihat sangat marah dan berniat untuk melakukan serangan secara fisik berupa mendorong Selina. Namun, Selina yang sudah memperkirakan hal tersebut dengan mudah menghindar dan memberikan tatapan tajam pada Lia.

Sungguh, Selina tidak pernah berpikir jika ternyata Lia bisa bersikap seperti ini. Ia pun pada akhirnya berkata, "Lia, kau tidak bisa terus memperlakukan aku seperti ini. Aku tau, kau memang tidak menyukaiku, tetapi sikap yang terlalu terang-terangan seperti ini akan merugikan dirimu sendiri pada akhirnya."

Lia terlihat sangat kesal. Ekspresi wajahnya bahkan sudah tidak terkontol lagi. Ia pun berseru, "Tutup mulutmu! Memangnya kau siapa hingga berani mengajariku seperti itu?!"

"Aku hanya memberikan sedikit nasihat. Di dunia ini, tidak semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan, termasuk Nico. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah melepaskannya," ucap Selina terlihat penuh dengan kesungguhan.

Lia mendengkus melihat hal tersebut, tidak percaya dengan kepercayaan diri Selina tersebut. Lia pada akhirnya bisa lebih tenang dan dirinya pun melipat kedua tangannya di depan dada sebelum berkata, "Kau pikir, aku akan berhenti saat kau berkata seperti itu? Aku memang tidak bisa membuatmu melepaskan Nico, tetapi aku bisa membuatnya melepaskanmu. Kau meremehkan pesonaku, Selina."

Selina pun tidak bisa menahan diri untuk tertawa pelan. Jujur saja, Selina merasa jika perkataan Lia ini sangatlah konyol. Membuatnya tidak bisa menahan diri untuk menertawakan hal yang terasa sangat lucu tersebut. Tentu saja Lia merasa sangat tersinggung dengan tingkat Selina tersebut. Selina menatap Lia dan tersenyum tipis.

Mimpi Panas 3 : Selina & NicoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang