d e l a p a n

22.8K 1.8K 35
                                    

"Pak Mahen beneran nyari orang ilang Ampe tiga tahun begitu?"

Bukannya menjawab, justru Mahen mengangkat tubuh Marvin, ala bridal. Dia berdiri dari duduknya, membuat Marvin refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Mahen. Mahen menjatuhkan Marvin ke sofa, lumayan terasa sakit.

"Aduh, pak Mahen kasar!"

"Dia penikmat BDSM,"

Mahen melototi Candra: temannya. Dia tidak suka hal seperti itu di umbar.

"BDSM itu... yang suka pake kontol mainan gede banget bukan?"

Mahen menggeram gemas, bisa-bisanya bahasa Marvin begitu frontal di hadapan dirinya, kepala sekolah.

"Kamu mau perpanjang masa skorsingnya?"

Marvin menggeleng cepat, dia Cecengesan sok imut. Tangannya mengelus pundak Mahen, berusaha menenangkan.

"Pak Mahen yang gantengnya spek dewa Yunani 'kan baik hati! Jadi, jangan diperpanjang ya? Ya?"

Mahen mendorong tubuh Marvin pelan, membuatnya mundur selangkah. "Pulang sana."

Marvin mencibik bibirnya, dia | misuh-misuh sebal. "Ngusir beneran nih? Gak mau dibantuin nyari kembaran aku?"

"Gak butuh." Marvin tercengang mendengarnya. Mendecak malas, dia berjalan pelan menuju pintu. Sempat terdengar tawa mengejek Candra untuknya.

"Tunggu,"

Mendengar perintah itu, Marvin tersenyum penuh. Dia sudah berfirasat akan dibutuhkan oleh Mahen. Entah kenapa, Mahen itu sangat lucu bila dikerjai! Apalagi, marahnya Mahen hanya menghela napas dan mengancam.

"Butuh aku 'kan? Nakal sih, ngusir-ngusir."

Candra menahan tawanya, bocah itu sangat kepedean. Begitulah pikirannya, mengejek tingkah Marvin yang terlalu percaya dri itu.

"Geer kamu," ujar Mahen. pa

Mahen berjalan menuju gantungan baju, dia mengambil jaketnya. Hal itu menuai pertanyaan di benak Marvin.

"Pak Mahen mau anterin aku ke apartemen?"

Mahen merotasikan matanya, dia mendekat ke arah Marvin: sedikit membungkuk seolah memeluk Marvin.

"Jangan gigit!"

Marvin memejamkan matanya erat dengan menolehkan kepalanya. Tangannya meremat kedua pundak Mahen.

Mahen terkejut dengan respon itu, hazel matanya memperhatikan wajah terpejam Marvin begitu serius. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyuman.

"Kamu pikir saya harimau?"

Merasakan tak ada sentuhan di leher, Marvin membuka matanya perlahan. Mengerjap lucu, dia malu sendiri karena kepedean. Ternyata, Mahen hanya memasangkan jaket di pinggang Marvin agar menutupi paha mulusnya.

"Udah gak keliatan pahanya, pokoknya langsung pulang ke Apartemen." Mahen menjeda ucapannya, dia membenarkan tataan rambut Marvin.

Raja bokep meet Principal [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang