9

252 37 13
                                    

"Kau yakin kita hanya akan diam di sini?"





Sedari kecil hingga saat ini, ia bahkan tak pernah senekat ini mendekati tempat dengan air banyak seperti danau, sungai atau bahkan lautan. Orang tuanya melarang, kakaknya juga sama. Tapi untuk saat ini, dengan tekad yang ia miliki, ia sanggup mengahadapi apa yang belum pernah ia lakukan.

Bagiannya di tim ialah untuk melakukan ini, mengatasi hal-hal diluar rencana. Dan Jeno harus siap untuk menghadapi sesuatu atau apapun di depan matanya saat ini.

Dan rupanya Jeno jatuh ke pusaran air itu. Di dalamnya bukanlah seperti apa yang dilihat dari atas, melainkan air tenang yang telah bercampur darah. Ia bisa melihat Siyeon beserta gelembung udaranya yang tengah membawa sang penjaga. Sepasang pisau parit melayang di luar gelembung yang Siyeon buat, kemungkinan untuk melawan sosok karang tadi dan mencegah gelembung udara itu pecah.

"Aku tak menyangka jika kau yang datang serigala, ku kira bocah beban itu," ucap Siyeon dengan nada sarkasme. "Berjaga-jaga. monster itu menyatu dengan air, kita tak akan bisa melihatnya dengan mudah."

Mendengar itu, Jeno mengaktifkan mata serigalanya yang berwarna kuning keemasan. Meski kemampuannya di bawah para guardian yang sangat kuat, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana monster yang dimaksud berada. Monster itu memiliki ukuran kecil dengan tubuh seperti penyu, memiliki tujuh tentakel di punggungnya dan sepasang tanduk yang berputar searah jarum jam.

Mulutnya terbuka, menampilkan cairan putih keluar dan menyatu dengan air dalam jumlah banyak. Kemungkinan itu bukanlah suatu hal yang bagus, mengingat dari atas sana terdapat pusaran air sementara di sini tampak biasa saja. Belum lagi suara monster yang memekik seakan mencoba menganggu konsentrasi, hal itu membuat Jeno hampir terpecah fokusnya.

"Aku melihatnya, tepat di belakangmu, arah jam 10," ucap Jeno cepat memberi informasi.

Dalam sekejap, pisau parit milik Siyeon berputar ke arah belakang dan melesat ke monster berukuran kecil itu. Monster itu pun tertusuk tepat di bagian dada, memudar secara perlahan-lahan hingga tak terlihat. Beberapa saat suasana menjadi hening, tapi keadaan laut belum pulih seperti sedia kala.

"Tak mungkin semudah ini menyelamatkan laut," kata Siyeon saat tak merasakan keadaan berubah.

Jeno memasang penjagaan kala gemuruh guntur terdengar keras dari permukaan laut. Ia melirik penjaga samudra yang masih terkulai lemas, jika tak segera ditangani sudah pasti keadaan sangat berbahaya. Bisa saja mereka langsung naik ke permukaan, tapi ada kemungkinan jebakan yang disengaja oleh monster kecil itu.

"Kau naik ke permukaan, kau tak memiliki pasokan oksigen lebih. Jika kau menunggu, kau bisa saja tewas kehabisan nafas!" peringat Siyeon setelah bermenit-menit menunggu.

Jika boleh berterus terang, dada Jeno mulai sakit karena hampir mendekati batas menahan nafasnya. Tapi jika tak menunggu, entah bahaya apa yang menunggu mereka nanti, misi dadakan ini akan kacau total. Belum lagi dampak berbahaya bagi dunia mereka.

Sekali lagi Jeno melihat Siyeon dan penjaga, wanita itu dengan tersirat memaksa pemuda serigala itu untuk segera naik sebelum kehabisan nafas. Dengan terpaksa Jeno menukik naik menuju permukaan, meninggalkan Siyeon yang mengawasinya dari bawah. Air laut yang bercampur merah darah itu membuatnya kesulitan untuk melihat, apalagi baunya yang sangat amis.

Jeno dapat melihat petir yang berkilat dengan ganas di atas langit dari jaraknya yang masih berada di bawah air laut. Cukup membuatnya merinding melihatnya dari bawah sini, dengan jelas bayangan naga dan satu sosok manusia bertubuh besar mencoba menyerang sebuah pulau yang merupakan sosok monster berbahaya. Suara benturan yang sangat keras menambah suasana mengerikan yang merupakan bentuk nyata dari mimpi buruk sebenarnya.

The Shadow King's Precious Gem || JaemJen Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang