Assalamualaikum, apakabar semuanya?
Mau cerita sedikit, jadi sebenarnya extra part yang ini tuh gak ada, saya gak punya niat nulis extra part yang ini. Tapi kejadian Almarhum Eril, membuat saya ingin menulis ini. Semoga kita menjadi orang-orang yang tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan dengan orang-orang yang kita cintai, ini pelajaran untuk saya juga, karena saya tidak punya banyak waktu dan kesempatan dengan Almarhum Bapak dan Almarhumah ibu. Jadi saya berharap kalian tidak melakukan hal yang sama seperti saya.
Jangan lupa vote and coment!
Selamat membaca!
"Jidda, Diyah mau beli itu" ujar Mahdiyah sembari menunjuk orang yang jualan telur gulung.
Hari ini Mahdiyah ikut Kyai Hussein dan Ummi Aini pergi ke walimah. Dan seperti biasa walimahan yang diadakan dirumah selalu ada yang jualan mamang-mamang dipinggir jalan.
"Iya boleh tapi nanti ya kalau kita mau pulang." ujar Ummi
"Tapi nanti kebulu pelgi, jidd."
"Ya berarti belum rejeki Diyah."
"Ihh jidda, ayo beli itu"
"Nanti jidda bilangi Abi loh, tadi janjinya mau ikut harus apa, hayooo?"
"Iya deh" jawab Mahdiyah dengan cemberut.
"Sabar ya, cantik. Nanti kita beli kalau mau pulang. Biar bagi-bagi ke Mauza dan Mas Anka." ujar Abah Hussain
"Oke deh, Bah."
Mahdiyah dan Mauza memanggil Abah Hussain sama dengan Ayah dan ibunya. Sedangkan kepada Ummi Aini, mereka memanggilnya dengan sebutan Jidda.
Selesai dari walimah dan diakhiri dengan Mahdiyah yang wajib jajan ke mana pun ia pergi, persis seperti Dilla.
Sesampainya di rumah, mereka masuk ke dalam dan mendapati Nauzan dan Naufal beserta anak istri mereka sedang menikmati kerupuk sambel, karedok dan gorengan. Biasanya yang membuat jajanan itu adalah Dilla, si Ratu jajan.
"Umma, Umma tau ndak tadi kakak pengantennya cantik banget, pake mahkota." ujar Mahdiyah menceritakan apa yang ia lihat tadi
"Oh ya? Gimana disana, seru ndak?" Tanya Dilla
"Seru, Umma. Tadi Mahdiyah beli jajan telur gulung."
"Jajan mulu, kaya Umma."ledek Gus Nauzan
"Ihh Abbi, kan bagi-bagi. Mahdiyah ndak makan sendiri, wlekkk." jawab Mahdiyah
"Ini buat Mas Anka, ini buat Moja, ini buat Diyah."sambungnya lagi sembari membagikan telur dadar di plastik.
"Paklek mana?" tanya Naufal, sang paman.
"Paklek dah besar, jangan minta." jawabnya sinis
"Pelit!"
"Kan Paklek dah besar, punya uang, jajan lah sendiri."
"Sudah, sudah jangan berantem" ujar Maira melerai
Akhirnya mereka pun menikmati jajanan buat Dilla diselingi dengan canda gurau khas keluarga mereka.
"Mas Anka, tadi pengantennya cantik banget loh, nanti kalau Mas Anka menikahnya sama Mahdiyah, iyakan?" Ujar Mahdiyah
Anka yang hampir memasuki masa puber pun merasa malu dengan lamaran ala-ala si bocil ini.
"Eh apa-apaan, siapa yang ngajarin?" sewot Gus Nauzan yang tidak terimah anak perempuannya sudah membicarakan soal pernikahan padahal sekolah SD pun belum.
"Kan Diyah bilang nanti, Abi. Nanti!!!!"
"Enggak, enggak enak aja. Diyah masih kecil."
"Ihhh Abbiiiiiiii!!!!!!"
"Kalau Mahdiyah jadi Hafizah dan jadi anak baik nanti Mas Anka pikir-pikir deh." kata Anka
"Ndak boleh pikir-pikir, pokoknya harus sama Diyah. Kalau ndak, nanti dia nangis loh!" ancam Mahdiyah.
"Diyah kan masih kecil, kok ngomongnya kayak orang udah besar." ucap Mauza
"Baru bisa ngomong R udah ngomongin nikah, dasar bocil." cibir Naufal
"Issshhhhhhh" keluh Mahdiyah sambil cemberut
Entahlah Mahdiyah mendapatkan ilmu baru darimana, bisa-bisanya ia membicarakan tentang pernikahan padahal masih kecil.
**
Seperti pada malam biasanya, Gus Nauzan dan selalu melakukan pillow talk sebelum tidur, saling menceritakan aktivitas setiap harinya. Mereka percaya, bahwa hal-hal seperti ini bisa membuat mereka semakin harmonis, meskipun pernikahan mereka sudah terjalin lama.
"Aku kaget banget loh, sayang." ujar Gus Nauzan
"Kenapa?" tanya Dilla
"Omongan Mahdiyah tadi siang, aku ndak bisa bayangkan, kalau mereka tumbuh dewasa lalu menikah dengan pasangan mereka. Padahal aku belum siap melepaskan mereka, aku masih pengen mereka manja-manja sama kita, selalu ada di samping kita." ujarnya panjang lebar
"Namanya juga hidup Mas, waktu selalu maju tanpa putar balik, tanpa peduli apa yang kita pikirkan. Makanya selama masih bisa, semoga kita menjadi orang tua yang mencukupi kebutuhan mereka, baik materil ataupun moril." jawab Dilla
"Iya bener, sayang. Semoga kita menjadi orangtua yang berhasil. Entah takdir apa yang akan menemui kita didepan, termasuk anak-anak kita. Entah mereka berjodoh dengan lawan jenisnya ataupun berjodoh dengan takdir yang lainya yaitu kematian."
Dilla memeluk sang suami, "semoga kita bisa menemani mereka sampai akhir hayat kita ya, Mas."
"Aamiin, Allahumma amin."
Terimakasih sudah membaca cerita dari penulis amatir seperti saya, semoga kalian sehat selalu baik itu secara fisik ataupun mental. Be happy!
Rabu, 22 juni 2022

KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Cinta , Waktu & Allah ( Penantian Cinta )
Spiritual( Spiritual - Romance ) "Kalau ntar Dilla ndak bisa kasih anak gimana? " ucapnya sembari terisak pilu. "Bagaimana kalau sebaliknya? Bagaimana kalau Mas yang ndak bisa? " balas Gus Nauzan yang membuat Dilla diam dan semakin menunduk . "Denger mas ya...