Chapter 1

294 5 0
                                    

Juni 2001

      Aku heran mengapa akhir-akhir ini perut mama bertambah besar. Padahal ia tidak makan terlalu banyak tapi mengapa cepat sekali gendutnya. Ini benar-benar aneh.

"Ma, kok perutnya mama buncit sih? Padahal kan mama makannya gak sebanyak papa."

"Di dalem perutnya mama ada adik bayinya nak. Ini kamu mau pegang?"

"LHO MA KOK ADIKNYA DIMAKAN?"

"Mama gak makan adiknya kok. Kalo adiknya gak ditaruh di dalam perut nanti malah dia yang gak bisa makan."

"Kok gitu ma? Terus kapan adiknya boleh keluar?"

"Mama belum tau nak. Kamu yang sabar ya."

Juli 2001

      Hore! Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 2. Mama dan papa membelikan kue tart yang indah untukku. Semua anggota keluarga memberikan bermacam-macam kado untukku. Ada yang kertasnya bermotif bunga, berbentuk kecil, sampai yang isinya berat. Aku sudah tak sabar ingin membuka kadonya satu persatu. Namun aku masih harus bersabar karena kita akan menyanyikan lagu selamat ulang tahun, meniup lilin, memotong kue dan berfoto bersama terlebih dahulu.

      Akhirnya momen yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku membuka kado dengan merobek sembarangan karena aku sudah tidak sabar lagi. Rupanya kado-kado tersebut kebanyakan berisi baju. Namun ada satu kado yang berisi sepatu warna merah muda. Wah aku senang sekali!

      Andaikan ada kado yang berisi adik bayi. Tapi mama kan sudah

bilang yang di dalam perutnya itu adik bayi. Aku bingung, apakah berarti adik bayi tidak bisa masuk kado? Lalu mengapa sampai sekarang adiknya belum mau keluar? Kan aku sudah tidak sabar ingin memamerkannya ke teman-teman kalau aku juga punya adik.

"Ma, kapan adiknya keluar? Emangnya masih lama ya? Aku udah gak sabar."

"Mama masih belum tau nak. Mungkin sebentar lagi."

"Terus adiknya mau dikasih nama siapa ma?"

"Fernando nak. Tapi panggilnya Dek Doni ya. Sini nak Dek Doninya di elus dulu."

"Dek Doni kamu kapan keluarnya? Nanti kamu panggilnya aku kakak ya. Nanti kita main bareng sama Mbak Alya, Gary, Ramdan, sama Ravin juga. Cepetan keluar ya dek..."

November 2001

      Semakin hari perutnya mama semakin besar sampai seperti akan meledak. Aku jadi takut kalau disuruh mama memegang Dek Doni.

"Ma, perutnya mama besar sekali sih."

"Iya kak, Dek Doni kan tambah besar jadi perutnya mama ikutan besar deh."

"Lho ma kok aku udah dipanggil kakak? Adiknya aja belum ada."

"Iya gapapa dong kan sebentar lagi kamu jadi kakak."

"Hihihi iya ya ma. Terus kapan adeknya keluar? Keburu perutnya mama meledak lho."

"Kata pak dokter sih akhir bulan ini. Yang sabar ya nak, adiknya udah mau lahir kok"

Desember 2001

      Aku sedih sekali. Mengapa adikku tak kunjung lahir padahal bulan November sudah lewat. Akhir-akhir ini mama juga sering mengeluh udara di sekitarnya panas. Mama sih bilang sebenarnya Dek Doni yang protes. Oleh karena itu mama dan papa memutuskan untuk membeli AC dan dipasang di kamarku. Wah aku senang sekaligus heran mengapa dipasangnya di kamarku.

      Beberapa hari setelah pemasangan AC, mama mengeluh perutnya sakit sekali sampai harus dibawa ke rumah sakit. Aku tidak tahu apa penyebabnya dan aku ingin menemani mama di sana. Tapi omaku bilang anak kecil tidak boleh ikut ke rumah sakit. Akhirnya aku hanya tinggal di rumah sambil menangis melihat mama dibawa oleh mobil putih bertuliskan ambulance.

      Sudah sehari mama belum pulang. Aku jadi makin khawatir dengannya. Ketika aku sedang tidur tiba-tiba aku dibangunkan oleh omaku. Katanya ada telepon dari mama. Aku langsung berlari ke arah telepon sambil meneteskan air mata.

"Mamaaa... Ma-ma kenapa ning-galin ka-kak di rumah? Ma-ma kapan pu-langnya?"

"Kakak jangan nangis dong. Mama baik-baik aja kok. Adiknya udah lahir kak. Besok mama udah boleh pulang kok."

"Be-neran ma? Adik-nya jahat bi-kin mama sa-kit."

"Enggak kok nak. Kakak udah makan? Sana gih makan dulu. Udah dulu ya mama mau istirahat lagi."

"Iya-ma. Da-da mama. Ce-pet sembuh-ya."

"Iya dada kakak."

      Perasaanku bercampur aduk, antara sedih tapi juga senang. Aku tidak sabar ingin segera besok. Aku ingin cepat-cepat bertemu mama dan melihat adek Doni. Semoga besok menjadi hari yang baik.

GabyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang