8. 🌵 Nyasar ke Sarang Preman🌵

138 29 3
                                    

Pagi ini, Mika pergi ke sekolah jalan kaki

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi ini, Mika pergi ke sekolah jalan kaki. Rantai sepedanya tiba-tiba copot, dan seperti biasa Mika tak bisa memperbaikinya sendiri, dan Mika akan terlambat datang ke sekolah jika harus mampir ke bengkel dulu.

Mika berharap hari ini tidak turun hujan, karena pagi begitu cerah. Namun, hal itu tak menentukan kondisi cuaca nanti sore, karena perkiraan cuaca akhir-akhir ini tidak menentu. Mika tak memerlukan kendaraan umum untuk tiba di sekolahnya, dengan jalan kaki sekitar 20 menitan mungkin ia sudah sampai.

Namun, tidak ada angin tidak ada hujan, Mika tiba-tiba tersembur oleh air genangan dari jalan raya oleh sebuah motor yang lewat. Mika nyaris menjerit saat genahan air itu mengenai sebagian tubuh dan wajahnya.

Paginya sudah dibuat emosi oleh pemilik motor vespa yang barusan lewat. Kecepatan motor vespa memang tidak terlalu cepat, tapi karena pengendaranya adalah Arki, jelas saja motor itu sengaja dipercepat di bagian jalan yang rusak dan terdapat genangan lumayan lebar.

"Aargggghhhh!" Mika menggeram dengan tangan terkepal kuat.

Dada Mika kempang-kempis menahan gejolak emosinya. Tangannya yang terkepal terbuka untuk mengusap dadanya sendiri sambil mengatur napas. "Sabar, Mika! Sabar...."

Arki yang sudah sampai di sekolahnya tak kuasa menahan tawa. Pagi ini ia berhasil membuat Mika jengkel. Memangnya siapa yang tidak kesal pagi-pagi sudah tersiram air comberan? Arki sampai geleng-geleng kepala karena ulahnya sendiri.

"Rasain lo, Comel!" rutuk Arki. "Gue gak akan pernah nyerah buat ganggu lo sebelum lo minta maaf sampai berlutut di kaki gue." Arki tertawa jahat.

Nevan tiba di samping motor Arki dengan motor vespa merahnya. "Kenapa lo pagi-pagi udah berbunga-bunga, Nyet?"

Arki terus tersenyum sambil menoleh ke belakang. Arki menjawab pertanyaan Nevan dengan dagunya menunjuk kearah Mika yang sudah kotor saat tiba di sekolah.

Nevan yang melihat hal itu berdecak berkali-kali. "Segitunya lo ganggu anak orang."

"Salah dia sendiri. Ngapain juga gue harus peduli?"

"Lo keterlaluan, Monyet!"

"Lo lupa sama gue, Van? Kayak gitu standar. Bahkan gue pernah ganggu orang lebih dari itu." Arki menyangkal dengan kesal pada Nevan yang terkesan membela Mika.

"Iye dah! Terserah lu, Tong." Nevan menepuk bahu Arki sekali sebelum turun dari motornya.

Kebetulan sekali sang crush tengah lewat dengan membawa barang bawaan untuk keperluan di ruang OSIS. Nevan langsung berlari mendekati cewek yang sudah disukainya bertahun-tahun.

"Gue bantuin ya, Var?" Tanpa menunggu persetujuan Nevan langsung mengambil alih tas jinjing dari tangan Isvara.

"Eh, Gak usah, Van. Gue bisa sendiri." Isvara hendak merebutnya lagi, tapi Nevan langsung berjalan mendahului cewek itu.

EphemeralTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang