12. 🌵Si Emosian🌵

110 27 2
                                    

"Hallo, Marlen! Hallo Cinta! Hallo semuanyaaaa!" Mika tersenyum lebar, tapi terpaksa pada hamster-hamster di hadapannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Hallo, Marlen! Hallo Cinta! Hallo semuanyaaaa!" Mika tersenyum lebar, tapi terpaksa pada hamster-hamster di hadapannya.

"Ulang!"

Suara tegas Arki membuat senyum Mika luntur seketika. Matanya nyalang dan giginya bergesekan menahan jengkel. Sudah beberapa kali Mika ditegur oleh cowok yang tengah duduk santai di sofa.

Mika menoleh pada Arki dengan ekspresi wajah berubah manis, walaupun dalam hatinya ngenes abis pada cowok itu. Rasanya ingin sekali ia melakban mulut Arki agar tidak banyak ngatur seperti tadi.

Apakah menurut kalian wajar jika Arki memarahinya gara-gara kurang alami saat tersenyum pada para hamster milik cowok menyebalkan itu? Mika sudah sedemikian manis mengukir senyuman dibibirnya untuk para hamster itu. Padahal, hamster-hamster itu sibuk sendiri, bahkan melihat kearah Mika sedikit pun tidak. Namanya juga hewan, mana bisa mengerti apa yang Mika lakukan sekarang.

Memang dasar Arki saja yang ribet. Arki sengaja membuat Mika bertingkah seperti orang gila. Saat Mika sedang berbicara layaknya orang idiot, Mika dapat melihat Arki dari sudut matanya yang tengah menahan tawa.

"Gue udah bilang, 'kan? Senyum yang lebih alami!" tekan Arki. "Ulang!"

Mika mengepalkan tangannya kuat-kuat sebelum akhirnya ia melepaskan kepalan tangan itu dengan diiringi napas yang panjang. "Oke, gue ulang."

Mika berbalik lagi kehadapan para hamster itu. Mulai memasang senyum yang sangat lebar, lebih lebar dari pada yang sebelumnya. "Hallo, para baby yang unyu-unyu. Kalian udah makan belum? Mau makan sekarang? Aku kasih makan kalian sekarang ya, sayang-sayangnya aku?"

Arki tak mampu menahan tawanya. Ia tergelak sangat puas mendengar suara Mika yang membuatnya geli sampai menggelitiki perutnya.

Mika menghentikan aksinya dan langsung mengubah ekspresinya seketika. Ia membuang napasnya dengan kasar, lalu menoleh ke samping, tepat kearah Arki dengan sinis. Melihat Arki yang terus tergelak, Mika berdesis tajam. Jika saja Arki bukan Bosnya sekarang, mungkin saja Mika sudah menyumpal mulut cowok itu dengan sepatunya.

"Udah ketawanya?" Mika berkacak pinggang di depan Arki yang bersusah payah menghentikan tawanya.

"Lo cocok jadi pawang Hamster." Arki berbicara sambil memegang perutnya yang sedikit keram karena banyak tertawa.

"Udah puas lo ngetawain gue?"

"Udah. Sekarang gih kasih makan kesayangan-kesayangan lo itu."

Mika melanjutkan pekerjaannya. Ia memberikan makan berupa buah apel yang sudah ia potong-potong pada setiap hamster dengan cara dimasukan ke masing-masing kandangnya. Bukan hanya apel, Arki menyuruhnya untuk memberi sayuran atau biji-bijian di lain hari.

Selanjutnya, Mika berpindah tempat ke depan akuarium. Hal yang sama ia lakukan pada para ikan-ikan hias yang mahal itu, menyapanya dengan manis dan ramah. Namun, Arki tak mengoreksi atau protes kali ini.

EphemeralTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang