PART 7. ALANA KEBO

21 14 34
                                    

Bahkan aku tak sempat berpura-pura sedang bahagia, sebab jatuhku sudah ke dasar hancur. Kecewa, yang tak bisa lagi berkata apa-apa.

RINTIK PEKAT

Happy reading📍

"Sst, Na. Jangan teriak-teriak, yang lain udah pada tidur." Mas Roni membekap mulutku.

Karena aku yang belum siap diterjang dengan tangan besar milik Mas Roni, kami pun jatuh terjerembab. Dimana tubuh Mas Roni mengukung tubuhku, untung saja tangan panjang itu mampu menahan tubuhnya sendiri.

Detak jantungku kembali tak karuan, lalu tatapan kami bertemu.

Dengan jarak sedekat ini, aku dapat melihat keseluruhan wajah Mas Roni. Dagu yang selama ini aku tatap dengan intens, kini aku menyentuhnya tanpa sadar.

"Na, Mas beneran suka sama kamu." ucapnya lembut, lalu meraih jemariku yang masih memegangi wajahnya.

Setelah bertemu mata teduh itu, aku seolah tersadar. Posisi ini akan membuat orang yang melihat menjadi salah paham.

Aku yang gelagapan, refleks mendorong dada Mas Roni kencang. Akibatnya dia pun jatuh ke samping.

"Mas sih pake unyel-unyel pipiku, kan sakit Mas..." gerutuku sambil menutupi wajahku.

"Ahaha, Alana kamu tuh ya. Untung aja tadi kamu dorong aku, kalau ngga kayaknya kamu ngga bakal selamat deh hahaha!" gelak tawa Mas Roni terdengar ditelingaku.

"Hi mas! Jangan kayak gitu, aku takut nih." ungkapku yang masih setia menutupi wajah.

"Engga lah Na, aku ngga bakal ngelakuin itu ke kamu. Kalau kamu ngizinin sih, Mas bakal senang hati-"

"Ngga! Pokoknya ngga boleh ya Mas!" ancamku, memotong kata-kata Mas Roni yang arah pembicaraannya semakin kemana-mana.

Akhirnya kami berdua memandang langit malam yang dipenuhi gemintang, dengan tawa yang masih mengiringi dingin angin malam.

"Udah ah, besok lagi Mas. Alana ngantuk mau tidur." ucapku lalu berdiri dan mengusap pakaianku yang terkena pasir.

"Yah, padahal Mas pengin malam ini lebih panjang Na. Tapi ini udah kelewat malam sih, yaudah sana masuk tenda. Mas jaga di luar aja." rautnya sedikit kecewa, lalu Mas Roni mengantarku masuk ke dalam tenda.

"Selamat malam, Sayang..."

BREET!

Mas Roni langsung menarik resleting tenda, tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab ucapannya barusan. Sekilas aku juga melihat wajahnya yang tersipu, argh! Mas kamu benar-benar yah!

Haaa! Ngga bisa kayak gini, Mas Roni terlalu imut!

Aku berteriak tanpa suara. Perasaan ini begitu menyenangkan, seperti ada soundtrack lagu romantis sesaat setelah Mas Roni memanggilku 'Sayang'.

Ah, rasanya hatiku terbang sampai ke kayangan...

•••

Pagi-pagi buta, samar aku mendengar suara Putri membangunkanku. Rasanya aku baru menutup mata deh, udah pagi aja. Tapi Put, mataku berat banget buat dibuka.

"Na, bangun. Yang lain udah pada siap mau liat sunrise, kita ngga boleh ketinggalan." Putri masih bersikeras membujukku agar segera bangun.

"Bentar lagi put, lima menit..." sahutku lemah.

"Jam berapa sih Put, mataku masih sepet banget..." ucapku dengan suara yang masih serak. Kepalaku juga pusing banget, nyawaku belum terkumpul sepenuhnya.

"Sayang, bangun yuk... Kita jalan-jalan."

Suara rendah itu... Mas Roni!

Aku langsung duduk dengan tegak, membuka mata selebar-lebarnya. Ternyata cowok itu sedang berjongkok di pintu tenda, dengan senyum manis bertengger di bibirnya.

Parfum yang dipakai Mas Roni menguar pekat di indra penciumanku, aromanya membuatku candu. Ah Mas Roni, aku suka cowok yang wangi. Huwaaa kamu kriteriaku banget Mas!

"Tadi bukannya Putri yang ngebangunin aku Mas? Dia kemana?" tanyaku setelah beberapa saat terdiam.

Mas Roni lagi-lagi tersenyum, jangan gitu atuh Mas hatiku ngga kuat. Argh! Mas Roni jangan buat aku salting dong. "Mereka udah pergi duluan ke pantai," jelasnya lalu menyibak pintu tenda yang belum sepenuhnya terbuka.

"Kok kita ditinggalin Mas?"

"Ternyata, kamu kebo ya Na..." Bak ditikam dari depan, kata-kata Mas Roni tepat mengenai ulu hati. MAK JLEB!

"Mas!" protesku lalu menutupi wajah dengan tangan, huaa... aku malu!

"Hahaha, nggapapa kok Na. Kamu bangun tidur aja cantik banget, Mas tambah sayang hehe..."

Apa ini? Mas Roni ngegombal? Padahal tadi abis ngeroasting aku. Dasar biawak kamu Mas, tapi aku suka ahaha...

•••

Setelah aku sadar sepenuhnya, aku bergegas untuk bersolek. Mas Roni tentu saja menunggu di luar tenda, mana mungkin aku membiarkannya di dalam. Berduaan lagi ya ampun ngga mau, takut ada setan lewat.

SRAK!

Aku membuka pintu tenda dengan tergesa, kudapati Mas Roni sedang duduk melamun di depan nesting.

"Ayo Mas."

"Eh."

Raut terkejutnya benar-benar menggemaskan dimataku, laki-laki ini ternyata kagetan ahaha. Kapan-kapan aku jailin ah, hihi.

"Minum ini dulu Na, biar ngga masuk angin. Disana anginnya kenceng banget," tutur Mas Roni sambil menepuk matras di sampingnya.

Aku berjalan dengan senyum membuncah. Asal kau tahu, diperlakukan seperti ini sungguh membahagiakan Mas. Ahaha.

"Na, kamu kelihatan cerah banget ya pagi ini. Mas jadi ikutan seneng, hehe..."

Lagi-lagi aku tersipu, Mas Roni sepertinya sangat ahli dalam membuat seorang perempuan salting. "Engga sih mas, emang dari kemarin auraku gelap banget ya?"

Ohok-ohok!

"Pelan-pelan, Mas. Aku ngga bakal ngilang kok, aku masih disini..." Mengerjai Mas Roni ternyata seasik ini ya, sorry Mas aku ngga bermaksud bikin kamu panik tadi ahaha.

"Alana, Mas ngga bermaksud gitu. Cuma pagi ini kamu kelihatan lebih bersemangat daripada kemarin."

"Hehe, iya Mas iya..." aku tak tega melihat wajah mengkerutnya lebih lama.

"Oh iya Mas, kita nyusul yang lain yuk. Kayaknya masih sempet deh lihat sunrise," ucapku setelah meminum cokelat hangat buatan Mas Roni.

"Ayo, masih sempet kayaknya."

•••BERSAMBUNG•••

DEKAPAN DI BIBIR PANTAITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang