19. 🌵Lahirnya Bukan Bahagia🌵

98 28 5
                                    

Rasanya hidup tidak lengkap jika tak di iringi dengan helaan napas panjang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rasanya hidup tidak lengkap jika tak di iringi dengan helaan napas panjang. Mumpung oksigen masih gratis, maka hiruplah udara sebanyak-banyaknya, dan jangan lupa untuk di keluarkan, lalu hirup lagi, begitupun seterusnya.

Mika percaya, setiap langkah seseorang di dunia ini memiliki arah yang dituju. Namun, apakah hanya dirinya yang tak memiliki tujuan itu? Mika bahkan tak tahu langkah kakinya akan membawa kemana. Mungkin saja ke garis batas kehidupan.

Jika dihitung dari pagi sampai sore ini, Mika sudah menghela napas puluhan kali. Kali ini, ia menghela napas pasrah sambil memegang kertas ulangan dengan nilai merah sampai kebakaran.

Willa berdecak berkali-kali sambil geleng-geleng kepala. "Seenggaknya lo masih punya satu poin di atas gue."

Mika mengalihkan pandangannya kearah kertas ulangan yang Willa perlihatkan. Nilai mereka memang nyaris sama, hanya beda satu poin. Willa sama lemahnya dengan Mika dalam pelajaran matematika. Tapi Willa tetap jago dalam pelajaran lain, apalagi sejarah, dia memang pandai menghafal tanggal-tanggal bersejarah.

Lalu, mereka sama-sama melihat Arki yang sudah bangkit dan hendak keluar kelas, karena beberapa saat yang lalu kelas sudah bubar. Pandangan Mika dan Willa sama, heran kenapa Arki yang tak pernah terlihat belajar mandapatkan nilai paling tinggi.

Willa berdecak kagum. "Gue salut sih, kerjaannya tidur di kelas, tapi nilainya paling gede."

"Kayaknya emang dia pinter deh, Will. Cuma ya gitu, kehalang aja sama males." Mika mulai membereskan tasnya, karena ia juga hendak pulang, hari-harinya masih diisi oleh pekerjaan sebagai Petsitter.

"Eh, Mik. Arki udah damai ya sama lo?" tanya Willa, ia beberapa kali dibuat heran oleh sikap Arki yang jadi biasa saja pada Mika.

"Ada dua kemungkinan, antara dia lagi jeda dulu buat ganggu gue atau emang Arki udah maafin gue."

Mika berusaha untuk tidak membocorkan rahasianya yang berkerja sebagai Petsitter peliharaan Arki. Bahkan, Willa tak pernah tahu Mika tinggal dimana dan siapa tetangganya. Intinya, semua orang tak mengetahui itu selain Nevan.

Willa manggut-manggut paham. "Tobat deh kayaknya dia. Soalnya udah gak liat buat ulah lagi setelah berantem sama Rakhen."

"Gue harus buru-buru pulang nih, ayo," ajak Mika setelah menggendong tasnya dan bangkit dari duduknya.

"Gue harus kumpul dulu, Mik."

"Lagi? Kayaknya tiap hari lo kumpul. Sibuk banget."

Willa mendesah lelah. "Masih ada anggota baru yang harus gue bimbing."

"Yaudah deh, gue pulang duluan. Semangat yaa!"

"Oke, Mik. Thanks."

🌵🌵🌵

Mika sempat menahan langkahnya sesaat ketika melihat Arki yang masih nangkring di atas motornya sambil fokus ke handphone. Agak malas jika harus bertegur sapa dengan cowok itu. Pasalnya, akhir-akhir ini sifat Arki terhadapnya tak biasa.

EphemeralTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang