d u a l i m a

15.9K 1K 83
                                    

Mahen bangun dari tidurnya dengan perlahan, semua itu dia lakukan agar seseorang di sampingnya tidak ikut terbangun.

"Pak Mahen mau kemana?"

Mahen terkejut mendapati wajah bangun Marvin, maksudnya dia sidah mempersiapkan rencana pagi ini dengan matang tapi Marvin justru menghancurkannya dengan sekali kedipan.

"Udah jam enam, saya mau siap-siap kerja dong."

"Masuk sekolah jam delapan tahu."

Mahen tersenyum tipis, dia mengecup kening Marvin dengan lembut. "Udah jangan ngeluh, mau mandi berdua gak?"

"Mau-mau!"

Marvin meloncat pelan ke dalam gendongan Mahen, anak itu seperti balita. Untungnya Mahen dengan sigap menangkapnya.

"Berat badan kamu berapa sih, Vin?"

Marvin mengernyit bingung, dia menggelengkan kepalanya pelan. Memilih untuk menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Mahen. "Gak tahu, gak pernah nimbang."

"Enteng banget, sama kayak bayi. Jangan-jangan kamu emang masih bayi ya?"

Marvin langsung tegak, wajahnya berhadapan dengan wajah Mahen. "Pak Mahen gak liat kontol Vin udah gede?"

"Marvin!" tegur Mahen, dia mencubit hidung bengis Marvin dengan gemas. "Kebiasaan, mulutnya minta dicium."

"Nih cium!"

Marvin mengerucutkan bibirnya, seolah meminta kecupan manis di belah bibirnya yang terlihat semanis cherry matang.

"Sikat gigi dulu. Dasar jorok."

"Hehe, habis Pak Mahen kalau pagi menggoda banget."

Mahen cukup tertegun dengan kalimat yang terlontar begitu polos dari Marvin. Kata-katanya sama persis dengan omongan Airin waktu itu.

"Vin, jangan pernah ulangi perkataan itu. Kalau emang pengen cium langsung minta, gak usah muji-muji seksi."

Marvin mengernyit keheranan, mengapa tidak boleh memuji seksi? Mahen memang termasuk deretan hot daddy, Marvin akui itu.

"Yaudah, Vin pengen cium!"

"Dimana?"

"Lobang pantat!" jawab Marvin asal, dia mendengus sebal. "Ya di wajah aku lah, di bibir kek, di pipi kek, di-"

Mahen mengecup ujung hidung Marvin, cukup membuat muridnya itu membeku. Melihat wajah terkejut Marvin, membuat Mahen tersenyum kecil, gemas dengan ekspresi itu.

"Udah sikat gigi, perang lidah mau?"

"Vin mau Daddy~" rengek Marvin, disengaja.

"Cium pipi dulu dong."

Marvin menurut, dia mencium pipi Mahen hingga bunyi kecupnya cukup renyah di dengar. Tak bisa menahan gemas, Mahen membanting Marvin ke kasur dan mencium anak itu.

Menyesap belah bibirnya perlahan, melumatnya lembut hingga liur tercampur. Menghisap lidah dan saling memutar lidah, hingga lidah Mahen mengelitik langit mulut Marvin bahkan mengabsen deretan giginya.

"Mnnhh,"

Sepertinya pagi ini akan terasa panas, apalagi tenda segitiga bermuda di antara selangkangan keduanya mulai tegak.

"Pak Mahen tegang," bisik Marvin.

"Kamu juga."

Sempat saling beradu pandangan, hingga kembali larut dalam nafsu yang membara. Libido mereka mulai naik, apalagi situasi pagi ini dingin, sangat enak dipakai beraktivitas panas.

Raja bokep meet Principal [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang