d u a s e m b i l a n

11.2K 679 43
                                    

BUGH!!!

BUGH!!!

Faiz berusaha melerai perkelahian itu. Sialnya dia justru terkena pukulan Manuel pada wajahnya, membuatnya mengaduh kesakitan.

Manuel terkejut bukan maen melihat Sang pacar terluka ulahnya sendiri. "Ayang, maaf-maaf pliss. Abang gak sengaja."

Manuel segera memeluk Faiz, menciumi pucuk kepalanya dengan terus mengelus-elus pipinya. Sampai-sampai, Mahen ingin muntah karena hal menjijikkan itu. Maksudnya, mereka terlalu alay!!!

"Ampe ayang gue kenapa-kenapa, gue potong otong lo Hen!"

Mahen mendengus sebal, padahal dia juga sakit-sakit badan karena pukulan Manuel yang sulit dihindari.

"Yang terpenting bukan itu bang, tapi Marvin." ujar Faiz, melepas dekapan Manuel.

Mahen setuju akan perkataan Faiz. Tidak ada gunanya bertengkar. Marvin harus segera ditemukan bagaimanapun caranya.

"Jadi gimana?" tanya Mahen.

"CARILAH ANJING! LO YANG NGILANGIN ADEK GUE."

Mahen mendecak sebal, selalu saja pakai urat kalau ngomong, gak ada sopan santun sama sekali, pikir Mahen.

"Gue udah nyadap hp Marvin dari lama," kata Mahen. "Harapan gue semoga terwujud."

"Apaan?"

"Nemuin adek lo anjir!"

Faiz memutar kedua bola matanya, jengkel. Bayangkan menjadi Faiz, selalu di tengah perdebatan itu sangat menjengkelkan!

"Udah dong jangan berantem mulu," Faiz berusaha melerai permulaan perang dunia ke tujuh itu.

Sebenarnya tadi itu Manuel baru saja sampai ke Apartemen bersama Faiz tapi mereka merasa ada yang hilang dan ternyata Marvin. Saat hendak bertanya, kabar mengerikan tentang hilangnya keberadaan Marvin sampai lebih dulu. Sebab itu mereka sekarang kumpul bertiga untuk mencari sosok Marvin.

"Tapi bentar deh, gue punya seseorang yang mungkin tahu keberadaan Marvin."

"Bahasa kamu gak sopan, Faiz."

Faiz refleks menutup mulutnya dengan telapak tangannya, dia lupa bahwa tengah berhadapan dengan Kepala sekolahnya. "Hehe maaf, Pak."

"Gila hormat lo, najis!"

"Bang Manu!" tegur Faiz. Faiz tidak ingin mendengar perdebatan tidak berguna lagi.

"Udah-udah, jadi gimana maksud kamu tadi, Iz?"

Faiz menjawab pertanyaan itu dengan tindakannya, dia membawa kedua orang dewasa itu pada seseorang yang mungkin dapat membantu mereka.

Mobil mereka berhenti di depan gerbang rumah milik Septian. Iya, Septian lah kunci jawabannya. Itu menurut pemikiran Faiz.

"Rumah siapa?" tanya Manuel.

"Selingkuhan Faiz," celetuk Mahen yang langsung mendapat pukulan di kepala belakangnya ulah tangan Manuel.

Gak adik, gak abang sama-sama ngeselin. Bedanya Marvin enak, gak kayak Manuel yang kebanyakan rasa pahit dan sangat ogah untuk sekedar tegur sapa. Begitulah isi pikiran Mahen.

"Ayang, ini rumah siapa ih! Ditanya juga sama pacarnya!" rengek Manuel.

Faiz rolling eyes, gak habis thinking sama manusia modelan Manuel, padahal situasinya lagi genting, pikir Faiz.

"Ini rumah temen aku, bang Manu."

"Temen apa demen?" goda Mahen.

Manuel yang mudah sekali di provakasi, langsung cemberut sambil lirik sinis ke arah Mahen.

Raja bokep meet Principal [end]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang