Sejenak Sella berhenti mengunyah lalu memandangi perempuan tua yang duduk di hadapannya.
"Temui dia satu kali saja, Sayang. Di Restoran itu kan tempat umum, kamu tidak berduaan dengannya nanti. Banyak orang makan di sana."
"Mama, kenapa terus berpikir untuk menjodohkan Sella dengan anak teman almarhum Papa yang itu?"
Perempuan itu mengangkat bahunya lalu mengambil napas dalam-dalam.
"Karena keluarganya sangat baik, Sayang. Mereka juga berkecukupan, sehingga kamu tidak perlu lagi kerja paruh waktu untuk membiayai kuliahmu. Mama juga kepikiran melihatmu banting tulang untuk membiayai kuliahmu bahkan kadang kamu memberikan gajimu yang tak seberapa untuk mama."
"Ma..., apa kata orang nanti kalau aku menikah dengan dia? Pasti mereka akan mengatakan kalau aku menikahi karena hartanya."
"Apakah itu salah? Bukankah itu realistis? Kita hidup butuh harta butuh uang. Logika pun tak bisa berjalan tanpa logistik. Berdosakah jika menikah dengan laki-laki kaya agar bisa mendapatkan kehidupan lebih baik?"
Kening Sella mengerut, sepertinya pembuluh darah di otaknya ikut semarawut.
"Tolong patuh kepada Mama! Satu kali saja, please temui dia! Mama sudah terlanjur berjanji kepada mamanya Langit."
Sella membuang napas panjang untuk meringankan beban di kepalanya. Sejak lima belas menit yang lalu telah berkecamuk hebat antara takut pada dosa khalwat dan keinginan untuk berbakti kepada ibundanya yang kini menyandang gelar janda.
"Kalau begitu, mama ikut saja!" Terpaksa Sella mengeluarkan jurus pamungkas.
"Apa?" Perempuan yang garis halus di keningnya telah tanpak nyata itu berdiri. "Mana boleh, mama kerja. Kamu tahu sendiri jika Mama tidak masuk sehari maka gaji mama akan dipotong 10 $, artinya dipotong 150.000. Sayang sekali uang segitu dikasih ke petugas. Lihatlah sayang! Di sekitarmu betapa banyak orang yang pergi berduaan, laki-laki dan perempuan. Toh mereka baik-baik saja, tidak ada masalah."
Sella mengambil napas panjang lagi.
"Siapa bilang? Yang hilang keperawanannya banyak, yang jamil di luar nikah juga banyak dan yang --"
Perempuan berambut panjang yang berwarna abu-abu itu segera memotong perkataan anaknya, "Ya jangan berdoa yang buruk-buruk lah! . Nanti kejadian sungguhan bagaimana? Emang kamu mau seperti itu?"
Sella tidak lagi menjawab pertanyaan sang ibu. Fix, ia kehabisan kata.
"Jangan terlalu banyak mikir! Kalau kamu taat sama Mama, kehidupanmu pasti mudah. Bukankah kamu juga yang berkata jika ridha Allah tergantung ridha orang tua?"
Sella mengangguk beberapa kali kemudian melangkah ke kamar mandi untuk mendinginkan pikiran dan membersihkan badan.
Bersambung

KAMU SEDANG MEMBACA
Langit & Bumi
EspiritualSella tetap bersikukuh tidak membuka hati untuk Langit. Walaupun kedua orang tua mereka bersepakat untuk menjodohkan keduanya. Alasannya sedikit absurd, ia tidak mau pusing dengan permasalahan yang muncul karena ketampanan, kebaikan, dan kekayaan y...