Genre : Fiksi remaja, drama, romantis, angst.
***
Mika percaya bahwa sesuatu yang ada di dunia ini tidak kekal. Termasuk kebahagiaan dan kesedihan. Maka dari itu, Mika selalu yakin kesedihannya pasti berlalu, dan tergantikan oleh kebahagiaan.
Namun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suasana di kamar Nevan yang ada di lantai dua kafe 'Gak Jadi Pacaran' sangat berantakan. Kamar berantakan itu adalah hasil karya Arki, karena peliharaan kesayangannya lepas. Jadi, ia harus berusaha untuk mencari Titit yang sulap-selip di tempat kecil.
Sang pelaku yang berhasil memecahkan kamar Nevan malah asik bermain PS. Sedangkan Nevan sudah berkacak pinggang di ambang pintu. Ia berjalan sambil menyingkirkan benda-benda yang ada di lantai dengan kakinya.
"Anjir! Gue malah bawa satwa liar ke kamar," ujar Nevan.
Selayaknya rumah sendiri Arki menghiraukan perkataan tuan rumah. Fokus Arki tetap berada di layar 24 inci di hadapannya. Tekanan ibu jari pada stik yang dipegangnya memperlihatkan bahwa ia sedang melampiaskan kekesalannya.
Nevan memandang iba pada stik PS miliknya. Kasihan sekali benda itu menjadi pelampiasan Arki. "Lo seriusan siksa stik gue, Nyet?"
Arki tetap tak menyahuti Nevan. Karena Nevan tak mau terus-terusan dicuekin, akhirnya ia menyampaikan pesan Mika untuk Arki. "Oh iya, tadi Mika nyuruh gue buat sampein ini ke lo. Dia bilang gini 'bilang ke temen lo itu, gue gak jadi terima Arki sebagai pacar'. Nah loh!"
Sontak Arki langsung menoleh dengan wajah kaget. "Serius?"
"Lo pikir aja. Lo malah ninggalin Mika di sekolah. Dia pulang jalan kaki. Mau gue anterin gak mau."
Arki menghentikan kegiatannya. Ia beralih pada ponsel yang ada di sampingnya. Ia mencoba untuk menghubungi Mika, tapi tak ada jawaban sama sekali.
"Punya temen goblok banget," gumam Nevan yang memperhatikan ponsel Arki. Temannya itu tak menyerah sama sekali untuk menelepon Mika. "Samperin ke rumahnya, O'on! Malah ngejugrug di sini. Mendingan lo pulang deh. Gue mau beresin kamar. Salah deh gue udah bawa satwa ke kamar."
Arki berdecak sambil memegang ponselnya. Ia bangkit dari duduknya, dan tanpa berkata apapun lagi, manusia menyebalkan itu malah nyelonong keluar dari kamar. Nevan sampai menghela napas melihat kelakuan Arki.
Salah sekali jika Nevan mengharapkan Arki pamit pulang. Setiap kali cowok itu keluar masuk ke tempatnya selalu tak bilang apa-apa. Arki mendefinisikan ungkapan 'anggap saja rumah sendiri'. Arki benar-benar menganggap kamar Nevan ini sebagai rumah ke duanya. Untung saja Arki tak meminta sekalian sertifikat tanahnya.
"Lo gak ada niatan dulu beresin kamar gue gitu?" seru Nevan. Seruannya hanya ditimpali derap langkah Arki di tangga yang terburu-buru.
"Tolol lu, Van. Temenan sama orang macem Arki emang tolol," gerutunya. Malas-malas juga, Nevan tetap membereskan kamarnya sendirian.
🌵🌵🌵
Ponsel Mika sedari tadi terus-terusan bergetar. Panggilan berkali-kali masuk dari Arki yang Mika namai kontaknya dengan nama 'Si Emosian'. Mika sengaja tidak menerima panggilan itu. Ia terlanjur dongkol pada cowok itu.